JAKARTA – Gelar juara IBL 2026 yang diraih Bogor Hornbills setelah mengalahkan Pelita Jaya pada Game 5 final tak hanya dibangun melalui poin. Di balik keberhasilan itu, Muhammad Fhirdan Maulana Guntara menjalankan tugas yang jarang mendapat sorotan, yakni menjaga pertahanan, mengamankan rebound hingga melakukan berbagai detail kecil yang membantu Hornbills juara.
Pada laga penentuan melawan Pelita Jaya, nama Fhirdan memang tidak mendominasi box score. Ia bukan pencetak angka terbanyak. Namun justru di laga sebesar final, perannya menjadi salah satu kepingan penting dalam kemenangan Hornbills.
Banyak kemenangan tidak hanya lahir dari tembakan tiga angka atau dunk yang memancing sorak penonton. Ada pertahanan rapat hingga pergerakan yang membuka ruang bagi rekan setim. Itulah peran yang dijalani Fhirdan sepanjang seri final.
Sebagai pemain, Fhirdan mengakui ia tentu ingin mencetak banyak poin, terlebih di partai final. Namun kebutuhan tim musim ini membawanya ke peran yang berbeda.
Saat bergabung dengan Hornbills, ia diproyeksikan sebagai point guard. Seiring berjalannya kompetisi, tim justru membutuhkan pemain yang mampu mengisi celah di sektor pertahanan dan rebound.
“Semua pemain pasti senang kalau bisa cetak banyak poin, apalagi di final. Tapi defense dan rebound itu juga pekerjaan yang sangat penting. Saya memang diminta tim mengambil peran itu karena ada kebutuhan di sana,” ujarnya seperti dilansir laman IBL Indonesia.
Baginya, kontribusi di lapangan tidak selalu tercermin dalam statistik. Hustle play, dive on the floor, deflection, screen, off-ball movement, hingga men-tip bola agar bisa diamankan rekan setim sama pentingnya dengan mencetak angka.
Bahkan memberi semangat, membawakan handuk atau minuman, sampai berdoa bersama juga menjadi bagian dari kontribusinya untuk tim. Menjalankan peran seperti itu, menurut Fhirdan, bukan perkara mudah. Ada ego yang harus dikesampingkan.
Pengorbanan terbesarnya musim ini bukan soal tambahan latihan atau menit bermain, melainkan mengubur keinginan menjadi pencetak angka demi menjalankan peran berbeda.
“Saya harus berhenti memikirkan skor dan menerima role itu. Karena setiap pemain punya pengorbanannya masing-masing,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat menghadapi Pelita Jaya di final. Dalam beberapa situasi menyerang, ia merasa sengaja dibiarkan bebas karena dianggap bukan ancaman di sisi ofensif.
Fhirdan justru memanfaatkan situasi tersebut. Ia lebih aktif bergerak tanpa bola, memasang screen, dan mencari celah untuk membuka ruang bagi rekan-rekannya. Strategi lawan yang semula meremehkannya justru berubah menjadi keuntungan bagi Hornbills.
“Mereka (Pelita Jaya) menganggap saya tidak berbahaya saat menyerang. Tapi saya jadikan itu motivasi. Saya ingin membuktikan kalau saya bisa membantu tim dengan cara lain. Akhirnya off-ball movement yang saya lakukan justru membuka banyak ruang dan mereka mulai kerepotan.” katanya.
Saat buzzer terakhir berbunyi dan Hornbills memastikan gelar juara, ia pun meluapkan rasa puasnya. “Puas sekali, karena saya merasa sempat dipandang sebelah mata secara pribadi. Sebagai tim, Hornbills juga tidak banyak dipercaya bisa meraih prestasi ini,” ungkap Fhirdan.
Gelar juara itu menjadi jawaban atas keraguan yang mengiringi perjalanan Fhirdan dan Hornbills sepanjang musim. Ia merasa kemampuannya sempat diragukan, sementara Hornbills berkali-kali dipandang sebelah mata dalam persaingan menuju gelar.
Meski kembali mengangkat trofi, Fhirdan justru tidak menganggap itu sebagai bagian paling berharga dari musim ini. Baginya, trofi hanyalah simbol. Nilai sesungguhnya ada pada proses yang dijalani bersama seluruh anggota tim.
“Semua orang bisa membuat trofi, tapi tidak dengan perjuangannya dan yang paling berharga buat saya adalah kebersamaan tim ini, saling percaya, tidak saling menyalahkan saat kondisi sulit, dan tetap bangga satu sama lain.”
Musim ini juga menjadi cara Fhirdan menyampaikan pesan bahwa basket terlalu luas jika hanya diukur dari jumlah poin. Ia ingin lebih banyak pemain bangga menjalankan pekerjaan yang tak selalu mendapat tepuk tangan, mulai dari mengejar bola lepas, memasang screen, mengorbankan badan demi rebound, hingga membuka ruang bagi rekan setim.
“Semua orang senang melihat pemain mencetak poin. Tapi kontribusi yang tidak terlihat itu jauh lebih sulit karena kita harus menurunkan ego. Saya ingin menunjukkan kalau basket bukan cuma soal skor, tapi soal hati, kemauan, dan siapa yang rela melakukan pekerjaan yang mungkin tidak dilihat orang.”
Target Fhirdan tentu belum selesai. Ia masih ingin meraih gelar MVP dan menambah koleksi trofi sepanjang kariernya.
“Namun, yang lebih penting bagi saya, jangan pernah memandang sebelah mata siapa pun, baik di basket maupun dalam kehidupan,” tutupnya.







