• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Jumat, 3 Juli 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Hilirisasi Ubi Kayu Picu Sumber Pendapatan Baru & Pangan Berkelanjutan

Editor
Rabu, 01 April 2026 - 07:22
Profesor Riset Ilmu Ekonomi Pertanian, Bidang Agribisnis, Kepakaran Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Robert Asnawi.(Foto: Humas BRIN)

Profesor Riset Ilmu Ekonomi Pertanian, Bidang Agribisnis, Kepakaran Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Robert Asnawi.(Foto: Humas BRIN)

SATUJABAR, JAKARTA – Ubi kayu dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber pangan alternatif dan bahan baku industri. Namun, hingga kini pemanfaatannya belum optimal akibat rendahnya produktivitas, lemahnya posisi tawar petani, serta minimnya inovasi teknologi budidaya.

Hal tersebut disampaikan oleh Robert Asnawi dalam orasi ilmiahnya sebagai Profesor Riset Ilmu Ekonomi Pertanian, Bidang Agribisnis, Kepakaran Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Selasa (31/3/2026). Orasi ilmiahnya berjudul Transformasi Agribisnis Ubi Kayu sebagai Sumber Pendapatan dan Pangan Alternatif Berkelanjutan.

RelatedPosts

Taufik Hidayat Peragakan 26 Adegan Penganiayaan Ringan hingga Berat

Indonesia dan Belarus Luncurkan Peta Jalan Kerja Sama 2026-2030

Kemkomdigi Verifikasi 14 Layanan Apple, Untuk Apa?

Robert menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen hasil ubi kayu di Indonesia masih dijual dalam bentuk segar. Akibatnya, nilai tambah yang diterima petani sangat terbatas, sementara harga di tingkat petani relatif rendah dan fluktuatif.

“Kondisi ini menyebabkan kesejahteraan petani tetap rendah. Dari sisi kelembagaan, kemitraan antara petani dan industri pengolahan belum terbangun secara luas. Posisi tawar petani masih lemah, data produksi belum terintegrasi dengan baik, dan kebijakan yang ada belum sepenuhnya berpihak pada pengembangan komoditas ini,” ujarnya seperti dilansir laman BRIN.

Terkait produktivitas, Robert mengatakan bahwa saat ini hanya rata-rata sekitar 26 ton per hektar. Padahal, ia menjelaskan, potensinya bisa mencapai 50 hingga 60 ton per hektar. Dalam kurun waktu 2020 hingga 2024, peningkatan produksi nasional juga dinilai relatif stagnan. Di sisi lain, impor produk turunan masih terjadi setiap tahun, menunjukkan potensi domestik yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Padahal, Robert menegaskan, saat ini terjadi tren penurunan konsumsi beras dan meningkatnya kebutuhan pangan alternatif. “Hal tersebut, seharusnya mengakibatkan ubi kayu memiliki peluang besar untuk menjadi substitusi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

 

Proses Perkembangan

Ia memaparkan, secara historis, perkembangan ubi kayu di Indonesia terbagi dalam tiga fase, yakni fase tradisional sebelum 1995, fase transisi menuju sistem semi-komersial, dan fase modern sejak 2010. Meski demikian, peningkatan produktivitas pada fase modern dinilai belum mencapai potensi optimal.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, ia mengatakan bahwa diperlukan transformasi menyeluruh. Beberapa langkah strategis yang diusulkan meliputi peningkatan produktivitas melalui inovasi teknologi budidaya, penetapan harga berbasis kualitas secara transparan, serta penguatan kemitraan inklusif antara petani dan industri. Selain itu, penerapan sistem tanam yang lebih efisien juga dinilai mampu meningkatkan hasil panen hingga lebih dari dua kali lipat. Petani juga dapat memanfaatkan lahan dengan sistem tumpang sari, seperti menanam jagung atau kedelai, guna menambah pendapatan dan mengurangi risiko.

Model kemitraan inklusif menjadi kunci penting dalam transformasi ini. Industri tidak hanya berperan sebagai pembeli, tetapi juga sebagai mitra yang mendukung penyediaan bibit, sarana produksi, hingga pendampingan teknis. Peran pemerintah daerah, lembaga riset seperti BRIN, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya juga dinilai krusial dalam penyusunan kebijakan, pengawasan, dan edukasi.

Robert mengatakan, di masa depan, pengembangan ubi kayu diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi produk, penguatan kelembagaan petani, serta pembangunan sistem distribusi yang lebih inklusif. “Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut aspek ekonomi, sosial, dan kelembagaan,” ujarnya.

Ia berharap, dengan potensi yang besar tersebut, ubi kayu dapat menjadi komoditas strategis nasional. Komoditas tersebut tidak hanya sebagai sumber pangan alternatif, tetapi juga sebagai penopang ekonomi petani yang lebih adil dan berkelanjutan.

Tags: badan riset dan inovasi nasionalBRINRobert Asnawiubi kayu

Related Posts

Taufik Hidayat (30) dibawa polisi saat akan melakukan rekonstruksi di Markas Polda (Mapolda) Jawa Barat, Kamis (02/07/2026).(Foto:Istimewa).

Taufik Hidayat Peragakan 26 Adegan Penganiayaan Ringan hingga Berat

Editor
2 Juli 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Taufik Hidayat, pelaku penyekapan dan penganiyaan terhadap kekasihnya, YT, wanita berusia 29 tahun, asal Kabupaten Bandung, memperagakan 26 adegan...

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Republik Belarus Aleksandr Lukashenko.(Foto: Setneg)

Indonesia dan Belarus Luncurkan Peta Jalan Kerja Sama 2026-2030

Editor
2 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Republik Belarus Aleksandr Lukashenko sepakat memperkuat kemitraan strategis kedua negara...

Menkomdigi Meutya Hafid saat melakukan audiensi dengan Apple Managing Director of Asia Pacific Mike Orgill di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (01/07/2026). Foto: Pey HS/Komdigi

Kemkomdigi Verifikasi 14 Layanan Apple, Untuk Apa?

Editor
2 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital mulai memverifikasi 14 layanan digital milik Apple untuk memastikan seluruh fitur yang digunakan...

Taufik Hidayat (30) dibawa polisi untuk menjalani rekonstruksi di Markas Polda (Mapolda) Jawa Barat, Kamis (02/07/2027).

Aksi Sadis Taufik Hidayat Saat Rekonstruksi: Hantamkan Golok, Helm, hingga Botol ke Wajah YT

Editor
2 Juli 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Aksi sadis diperlihatkan Taufik Hidayat saat menganiaya kekasihnya YT, wanita berusia 29 tahun, asal Kabupaten Bandung, dalam adegan rekontruksi...

Petani atau penambak udang.(Foto: Istimewa)

Wakil Bupati Sukabumi Dorong Petani Naik Kelas

Editor
2 Juli 2026

SATUJABAR, SUKABUMI - Wakil Bupati Sukabumi Andreas mengajak para petani untuk terus meningkatkan kapasitas serta mampu beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan...

Taufik Hidayat (30), saat dihadirkan dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Barat.(Foto:Istimewa).

Polda Jabar Rekonstruksi Kasus Penyekapan dan Penganiayaan YT

Editor
2 Juli 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Polda Jawa Barat menggelar rekonstruksi kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap YT, wanita berusia 29 tahun asal Kabupaten Bandung, oleh...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.