Hari Batik Nasional menjadi momentum kita bersama untuk meningkatkan kesadaran kolektif dan menumbuhkan rasa kecintaan pada batik.
JAKARTA – Industri batik nasional memiliki peran strategis sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya Indonesia. Sejalan dengan perkembangan tren fesyen, batik kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat melalui tumbuhnya produk-produk bermotif dasar batik. Perkembangan ini perlu diiringi dengan penguatan ekosistem terutama dalam menyikapi berbagai tantangan yang kini dihadapi oleh industri batik.
“Hari Batik Nasional menjadi momentum kita bersama untuk meningkatkan kesadaran kolektif dan menumbuhkan rasa kecintaan pada batik. Hal ini mengingat budaya batik di Indonesia memiliki peranan besar, baik sebagai identitas dan kekayaan budaya sampai dengan nilai ekonomi,” ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat membuka Pameran dalam rangka Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya, Rabu (30/9) dilansir laman Kemenperin.
Menurut Faisol, karakteristik batik yang membutuhkan keterampilan tangan memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sekaligus menopang perekonomian keluarga di berbagai daerah. Di sisi lain, perkembangan pasar domestik menunjukkan peluang melalui meningkatnya minat generasi muda terhadap penggunaan batik dalam berbagai kesempatan, tidak terbatas pada acara formal.
Namun demikian, perkembangan kebutuhan pasar tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan ketersediaan perajin batik. Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), jumlah perajin batik sepanjang periode 2019–2023 menurun sekitar 20 persen, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu perajin.
“Jika permasalahan regenerasi ini tidak segera kita tangani, maka keterampilan dan warisan leluhur membatik dikhawatirkan akan menjadi ancaman ke depan. Sehingga melalui HBN ini kita berharap dapat meyakinkan generasi penerus untuk dapat menumbuhkan keberminatan dalam membeli batik maupun memberikan inspirasi menjadi pembatik,” katanya.
Selain persoalan regenerasi, industri batik juga menghadapi perkembangan produk kain bermotif yang dibuat melalui teknik cetak atau printing. Kemajuan teknologi memungkinkan produk tersebut dihasilkan dengan kualitas yang semakin baik dan harga yang lebih terjangkau, sehingga masyarakat dapat mengalami kesulitan dalam membedakan antara batik yang dibuat melalui proses tradisional dengan kain bermotif batik hasil printing.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan industri batik. Masyarakat perlu memahami perbedaan produk, tidak hanya berdasarkan motif yang terlihat, tetapi juga dari proses pembuatan, keterampilan tangan, serta nilai filosofis yang terkandung dalam batik.
“Sudah saatnya kita memastikan agar batik tidak hanya dikenal sekadar dari motifnya, melainkan dihargai dari proses, keterampilan tangan, serta nilai budaya luhur yang menyertainya,” tegas Wamenperin.
Kementerian Perindustrian melihat diversifikasi produk sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan industri batik. Pelaku IKM batik dapat mengembangkan produk jadi mulai dari fesyen siap pakai (ready-to-wear), aksesori, hingga produk kriya yang sesuai dengan gaya hidup modern.
Faisol menyampaikan, kolaborasi antara IKM batik dengan desainer maupun akademisi juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan pelaku usaha untuk menciptakan produk yang lebih beragam. Dengan variasi produk yang semakin luas, industri batik dapat menjangkau kebutuhan konsumen dari berbagai segmen tanpa kehilangan identitas aslinya.
“Dengan variasi produk yang semakin beragam, kita akan mampu menjawab tren dan kebutuhan pasar dari berbagai segmen tanpa kehilangan identitas aslinya,” ujarnya.
Selain diversifikasi, aspek standardisasi produk juga menjadi perhatian dalam pengembangan industri batik. Standardisasi diperlukan untuk memastikan kualitas produk yang diterima konsumen tetap sesuai dan konsisten, sekaligus memberikan jaminan terhadap mutu dan keaslian produk.
Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan adalah Batikmark, yang antara lain berkaitan dengan mutu fisik dan ketahanan warna produk batik. Penerapan standar tersebut juga dapat membantu konsumen mengenali karakteristik produk batik yang memenuhi ketentuan mutu.
Kementerian Perindustrian terus melaksanakan berbagai program untuk memperkuat industri batik nasional. Dalam rangkaian Puncak Pameran HBN 2026, Kemenperin menyelenggarakan sejumlah kegiatan pada 30 September – 4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Kota Surabaya, antara lain kuliah umum, talkshow, workshop, serta penyerahan Batikmark kepada IKM. Pameran industri batik kali ini melibatkan lebih dari 40 peserta pameran. Sebelumnya, Kemenperin juga telah melaksanakan sejumlah program pembinaan IKM batik, seperti fasilitasi Batikmark dan pendampingan diversifikasi produk batik.
Faisol menekankan, pengembangan industri batik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, pelaku industri, akademisi, komunitas, perbankan, serta media memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem industri batik yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
“Keberhasilan dalam membangun ekosistem industri batik yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing tinggi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antar pemangku kepentingan,” tuturnya.
Wamenperin menuturkan, upaya pelestarian batik juga perlu dilakukan dengan pendekatan yang kreatif agar dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, khususnya generasi muda. Kehadiran batik di ruang publik melalui kegiatan yang unik dan kreatif dapat memperkuat persepsi bahwa batik merupakan bagian dari identitas dan gaya hidup sehari-hari.
“Melestarikan batik berarti menjaga prosesnya, melindungi keterampilan tangan para perajinnya, merawat nilai filosofisnya, sekaligus memberikan ruang seluas-luasnya bagi batik untuk terus berinovasi agar dapat diterima pasar hari ini,” pungkasnya.







