• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Selasa, 8 September 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Ekonomi Kota Bandung: Kuliner dan Sport Tourism Jadi Penggerak

Editor
Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:54
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan (kiri) dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan (tengah)>(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan (kiri) dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan (tengah)>(Foto: Humas Pemkot Bandung)

BANDUNG – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mendorong penguatan industri kuliner dan sport tourism sebagai salah satu penggerak ekonomi Kota Bandung sekaligus Jawa Barat. Menurutnya, geliat olahraga, pariwisata dan kuliner memiliki efek berantai yang mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Farhan saat menghadiri pelantikan pengurus Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) Jawa Barat periode 2026–2031 di Rumah Makan Sindang Reret Kota Bandung, Rabu 26 Agustus 2026.

RelatedPosts

Kasus Penganiayaan dan Penyekapan YT Siap Disidangkan, Tersangka Taufik Hidayat Ditahan di Lapas Bandung

Wakasek SMAN 1 Pamanukan Subang, Terduga Pelaku Pelecehan Siswi Dicopot

Kebakaran TPA Galuga, Bupati: Dari Areal Ladang

Farhan menilai keberadaan Persib Bandung sebagai salah satu kekuatan sepak bola nasional turut memberikan dampak ekonomi bagi Kota Bandung. Terlebih, Persib kini memiliki hak eksklusif dalam pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

“Persib itu generate a lot of economy. Dengan hak eksklusif mereka mengelola GBLA, memberikan peluang banyak sekali untuk para pengusaha untuk masuk ke seputaran GBLA dan membangun wisata kuliner di sana,” kata Farhan.

Menurutnya, pertandingan Persib juga mampu menarik penonton dari luar Kota Bandung sehingga memberikan dampak langsung terhadap sektor usaha, khususnya kuliner dan akomodasi.

Farhan mengatakan, sport tourism merupakan salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Ia mencontohkan berbagai kegiatan olahraga seperti lomba lari yang pesertanya banyak berasal dari luar Bandung. Para peserta tersebut tidak hanya mengikuti kegiatan olahraga, tetapi juga menginap, makan, berbelanja dan berwisata di Bandung.

“Sport tourism ini mendatangkan banyak sekali rezeki ke Kota Bandung,” ujarnya seperti dikabarkan Humas Pemkot Bandung.

Menurut Farhan, kondisi tersebut menciptakan trickle down effect karena aktivitas wisatawan turut memberikan keuntungan bagi berbagai sektor usaha.

“Orang luar Bandung datang ke Bandung jadi peserta selama dua malam. Ini peluang yang kita sebut sebagai trickle down effect,” ujarnya.

Farhan juga menilai kuliner merupakan bagian penting dari budaya dan identitas Kota Bandung. Ia mengutip pernyataan Gubernur Jawa Barat bahwa orang datang ke Bandung pada dasarnya memiliki dua alasan utama yakni tidur dan makan.

“Bisnis kuliner dan bisnis akomodasi di Kota Bandung menjadi sangat penting. Inilah sebabnya saya sangat menghargai hadirnya asosiasi kafe dan restoran atau AKAR,” ungkapnya.

Ia berharap, AKAR dapat menjadi wadah kolaborasi sekaligus komunikasi bagi para pelaku usaha, bukan menjadi kartel yang membatasi persaingan.

Menurutnya, persaingan sehat justru dibutuhkan agar industri kuliner Jawa Barat semakin kuat dan memiliki daya saing.

“Tantangan kita semua adalah bagaimana memperkuat kebersamaan antar pelaku usaha. Gesekan kepentingan para pelaku usaha bukanlah hal yang perlu kita hindari dalam kerangka persaingan yang sehat,” ujarnya.

Selain itu, Farhan juga menilai kreativitas menjadi kunci penting dalam pengembangan industri kuliner. Ia mencontohkan cilok, cireng dan seblak yang dahulu identik sebagai makanan sederhana dengan harga terjangkau tetapi kini telah berkembang menjadi produk kuliner yang memiliki nilai jual tinggi.

“Cilok, cireng serta seblak, zaman kita kecil adalah makanan sederhana. Tapi sekarang cireng, cilok dan seblak bisa anda makan di pelataran Rp100 ribu sepiring,” ucapnya.

Menurut Farhan, perubahan tersebut menunjukkan bahwa inovasi dapat mengangkat makanan lokal menjadi bagian dari daya tarik wisata.

Oleh karena itu, ia mendorong para pelaku usaha kuliner tidak hanya memperkuat manajemen bisnis tetapi juga terus melakukan inovasi terhadap menu dan menghadirkan nilai tambah sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa Barat.

“Artinya kreativitas dari para pelaku dan anggota AKAR jangan berhenti di masalah manajemen. Tetap harus ada inovasi-inovasi yang memberikan nilai tambah kepada menunya itu sendiri sebagai bagian dari kekayaan budaya kita,” katanya.

 

Dampak Jawa Barat

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan, kuliner memiliki peran jauh lebih besar daripada sekadar urusan makanan dan minuman.

Menurutnya, sektor kuliner berkaitan erat dengan ekonomi, lapangan pekerjaan, pariwisata, budaya hingga identitas Jawa Barat.

“Kalau kita bicara kuliner sebenarnya kita bukan hanya berbicara soal makanan dan minuman. Kita sedang bicara tentang ekonomi, lapangan pekerjaan, pariwisata, budaya serta identitas Jawa Barat,” ujar Erwan.

Ia menyebut Jawa Barat memiliki modal besar berupa kekayaan kuliner dari 27 kabupaten/kota, mulai dari nasi timbel, karedok, lotek, batagor, surabi, peuyeum hingga seblak.

Erwan berharap kepengurusan AKAR Jawa Barat periode 2026–2031 mampu menghadirkan lebih banyak inovasi sekaligus memperkuat branding kuliner lokal.

Ia juga meminta organisasi tersebut tidak menjadi kartel, melainkan menjadi penggerak ekosistem usaha kuliner yang sehat dan kompetitif.

“Silakan dari manapun, siapapun untuk berusaha di Jawa Barat. Silakan untuk berinvestasi di Jawa Barat. Tetapi tetap saya tekankan karyawannya harus warga Jawa Barat dan makanannya pun harus yang berciri khas Jawa Barat,” jelasnya.

Erwan menambahkan, peluang kuliner Jawa Barat semakin besar seiring meningkatnya akses transportasi dari Jakarta menuju Bandung. Banyak warga Jakarta kini sengaja datang ke Bandung hanya untuk menikmati kuliner.

“Kita harus menangkap peluang-peluang itu. Tantangan kita hari ini dan ke depan adalah bagaimana makanan yang enak ini naik kelas menjadi bisnis yang kuat. Bagaimana kuliner lokal bisa memiliki branding yang kuat,” katanya.

Ia pun berpesan agar pengurus AKAR yang baru tidak hanya menjalankan organisasi tetapi mampu menjadi motor penggerak industri kuliner di Jawa Barat.

“Jangan hanya menjadi pengurus organisasi. Jadilah penggerak ekosistem kuliner di Jawa Barat,” tuturnya.

Tags: Ekonomi Kota Bandung

Related Posts

Taufik Hidayat (30), saat dihadirkan dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Barat.(Foto:Istimewa).

Kasus Penganiayaan dan Penyekapan YT Siap Disidangkan, Tersangka Taufik Hidayat Ditahan di Lapas Bandung

Editor
8 September 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Polda Jawa Barat menyerahkan Taufik Hidayat, tersangka kasus penganiayaan dan penyekapan terhadap kekasihnya, YT, ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten...

Kepala Dina Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Purwanto.(Foto:Istimewa).

Wakasek SMAN 1 Pamanukan Subang, Terduga Pelaku Pelecehan Siswi Dicopot

Editor
8 September 2026

SATUJABAR, SUBANG--Kasus dugaan pelecehan seksual Wakil Kepala Sekolah (Waksek) terhadap siswi di SMAN 1 Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, berbuntut...

Kebakaran TPA Galuga Bogor.(Foto: Diskominfo Kab. Bogor)

Kebakaran TPA Galuga, Bupati: Dari Areal Ladang

Editor
8 September 2026

CIBINONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menegaskan kebakaran yang terjadi di kawasan TPA Galuga, Kecamatan Cibungbulang, tepatnya berasal dari area...

Ilustrasi korban tindak kekerasan seksual.(Foto:Istimewa).

Wakasek SMAN di Subang Didemo Ribuan Siswa, Diduga Lakukan Pelecehan

Editor
8 September 2026

SATUJABAR, SUBANG--Dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Wakil Kepala Sekolah (Wakasek), memicu aksi demo ribuan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN)...

Suasana di Bandara Internasional Husein Sastranegara.(Foto: Ilustrasi/Humas Pemkot Bandung)

Bandara Husein Buka Lagi, Utamakan Keselamatan

Editor
8 September 2026

BANDUNG - Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung kembali melayani penerbangan setelah sebelumnya sempat ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik Gunung...

ParagonCorp bersama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang riset, pengembangan, dan pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku industri kosmetik pada 1 September 2026 di ParagonCorp Head Office, Jakarta Selatan.(Foto: Istimewa)

ParagonCorp dan BRIN Eksplorasi Mikroalga Lokal, Membuka Potensi Biodiversitas Indonesia

Editor
8 September 2026

JAKARTA - Kekayaan biodiversitas Indonesia tidak hanya hadir dalam bentuk flora dan fauna yang dapat dilihat dengan mata, tetapi juga...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.