GUNUNGKIDUL – Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) menggelar Bimbingan Teknis Budidaya dan Digitalisasi Pemasaran Produk Lebah Trigona (Trigona spp.) untuk 35 anak muda atau Generasi Muda Pelestari Hutan (Genries). Sebagaimana diketahui bahwa budidaya lebah Trigona sebagai salah satu forestpreneurship berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
Tak hanya bertujuan keterampilan budidaya saja, tetapi juga kemampuan mengolah produk, mengembangkan usaha, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.
Kegiatan ini berlangsung pada 4–6 September 2026 tersebut dipusatkan di Wanawiyata Widyakarya Kelompok Tani Hutan (KTH) Madusari, Dusun Ngrandu, Kelurahan Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sebanyak 35 peserta yang memiliki minat dan/atau telah aktif dalam kewirausahaan kreatif kehutanan mengikuti pembelajaran berbasis praktik langsung di lapangan.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, Luckmi Purwandari, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Generasi Pelestari Hutan (Genries) melalui pengembangan forest youthpreneurship. Pendekatan tersebut mendorong generasi muda melihat hutan tidak hanya dari sisi ekologis, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya inovasi dan usaha yang berkelanjutan.
“Kami ingin anak muda melihat bahwa menjaga hutan dan membangun kesejahteraan bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya dapat tumbuh bersama. Lebah Trigona menjadi contoh nyata karena membantu penyerbukan dan menjaga kesehatan ekosistem, sekaligus menghasilkan madu, propolis, dan bee pollen yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Luckmi dilansir laman Kemenhut.
Untuk mendorong produk kehutanan agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar, peserta tidak hanya mempelajari teknik budidaya dan pemeliharaan koloni lebah Trigona hingga menghasilkan madu. Mereka juga memperoleh pembekalan mengenai penanganan pascapanen, pengembangan nilai ekonomi produk, branding, serta pemanfaatan media sosial dan teknologi digital untuk memperluas pemasaran.
Pemilihan Wanawiyata Widyakarya KTH Madusari sebagai lokasi kegiatan memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar langsung dari praktik pengembangan budidaya lebah madu dan pemanfaatan HHBK di tingkat tapak. KTH Madusari memiliki rekam jejak sebagai pusat pembelajaran lapangan dalam pengembangan budidaya lebah madu serta penguatan usaha berbasis HHBK.
Melalui pembelajaran berbasis praktik tersebut, peserta diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Masing-masing peserta juga diarahkan untuk menyusun Rencana Aksi Usaha (Action Plan) sebagai langkah awal menerapkan dan mengembangkan hasil pembelajaran setelah kegiatan berakhir.
Sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan, Pusgenri juga mengedepankan kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan perangkat daerah, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), penyuluh kehutanan, serta pengelola di tingkat tapak. Kolaborasi ini penting untuk memastikan pembinaan generasi muda dapat berlanjut melalui pendampingan, penguatan jejaring usaha, pengembangan produk, serta perluasan akses pasar.
Sinergi pusat dan daerah tersebut sekaligus diharapkan membangun ekosistem forestpreneurship yang lebih kuat, sehingga generasi muda tidak hanya mampu menghasilkan produk berbasis sumber daya hutan, tetapi juga dapat meningkatkan nilai tambah, membangun merek, memanfaatkan teknologi digital, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Melalui pengembangan forest youthpreneurship, Kementerian Kehutanan berharap semakin banyak generasi muda di DIY melihat sektor kehutanan sebagai ruang masa depan untuk berkarya, berinovasi, dan berwirausaha sekaligus menjaga kelestarian hutan. Budidaya lebah Trigona menjadi salah satu contoh bagaimana kreativitas generasi muda dapat menghubungkan manfaat ekologis dengan penciptaan nilai ekonomi dari sumber daya hutan secara lestari.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Kehutanan untuk memperkuat kontribusi generasi muda dalam mewujudkan pembangunan kehutanan yang menempatkan kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan yang berjalan beriringan, sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi hijau Indonesia.






