Berita

BRIN – Universitas Nurtanio Bangun Drone Ramah Lingkungan

TANGERANG SELATAN: Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Universitas Nurtanio (UNNUR) Bandung mengembangkan dua prototipe pesawat nirawak. Pesawat tersebut yaitu Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Vertical Take-Off and Landing (VTOL), dan UAV Quadcopter.

Kedua prototipe tersebut merupakan wahana udara nirawak dengan struktur ringan. UAV VTOL memanfaatkan komposit serat abaka dan serat Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang ditambah karbon aktif TKKS, sedangkan UAV quadcopter menggunakan material epoksi yang dipadukan dengan komposit serat abaka dan karbon aktif bambu.

Hal ini diungkapkan Dosen di Prodi Teknik Penerbangan sekaligus menjabat sebagai Wakil Rektor I di Universitas Nurtanio, Lies Banowati, dalam Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Talk and Expo 2026 yang berlangsung di Graha Widya Bhakti (GWB) KST B.J. Habibie Serpong, Rabu (19/8).

“UNNUR melakukan kolaborasi riset bersama BRIN, mengembangkan prototipe pesawat nirawak UAV VTOL dengan Maximum Takeoff Weight (MTOW) 5.5 kg, berbahan serat biomass. Selain itu kami juga mengembangkan Quadcopter drone dengan MTOW 3 kg,” ujar Lies seperti dikabarkan Humas BRIN.

Menurutnya, salah satu keunggulan UAV VTOL dan quadcopter terletak pada strukturnya yang ringan. Bobotnya relatif lebih ringan dibandingkan wahana udara nirawak lain yang menggunakan material plastik atau logam.

“Berdasarkan hasil pengujian, serat abaka memiliki densitas yang relatif rendah, yakni sekitar 1 gram per cm³. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan serat karbon sebesar 2,2 gram per cm³ dan aluminium 3,8 gram per cm³, sehingga serat abaka dinilai memiliki karakteristik ringan dan berpotensi diaplikasikan sebagai material struktur UAV,” Lies menjelaskan.

Lebih lanjut Lies mengatakan, ketika dilakukan uji tarik material, serat abaka yang digunakan dalam Quadcopter memiliki kekuatan kurang lebih 111,5 MPa. Dengan demikian, serat ini dapat dijadikan material alternatif sebagai pengganti material konvensional, dan dapat menambah nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Kita ingin mengedepankan TKDN melalui pemanfaatan bahan biomassa yang ketersediaannya melimpah di Indonesia. Namun, potensi tersebut hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

UAV VTOL dan quadcopter memiliki beragam potensi pemanfaatan, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan. Wahana ini dapat digunakan untuk memetakan dan mengidentifikasi keberadaan hama, serta mengukur kadar air dalam tanah.

“Prototipe ini digunakan untuk mapping sekaligus menyemprot hama tanaman, dan juga untuk melihat kadar air di dalam tanah sehingga sangat bermanfaat sekali bagi stakeholder yang ingin mengembangkan perkebunan atau mendirikan perusahaan di bidang pertanian,” Lie memaparkan.

Ia melanjutkan, UAV VTOL dan quadcopter tidak hanya dapat digunakan untuk memetakan lahan pertanian. Wahana tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendistribusikan obat-obatan ke daerah terdampak bencana yang sulit dijangkau kendaraan biasa.

“Kita juga dapat mendesainnya untuk dropping obat-obatan dan alat medis yang tidak terlalu berat ke daerah yang terdampak bencana. Ke depan, kita juga akan kembangkan untuk mendeteksi sejauh mana keberadaan sesar lembang yang ada di Bandung,” ujarnya.

Peneliti Ahli Madya PRBB, Nidya Chitraningrum, menyampaikan UAV VTOL telah dilengkapi dengan kamera, dan seluruh sistem telah berjalan dengan baik. UAV Fixed Wing ini sudah dilakukan ground test, sistem semua sudah berjalan baik selanjutnya tinggal uji terbang di Lanud Sulaiman Bandung, sedangkan Quadcopter telah dilakukan pengujian dan bisa terbang dengan baik. Baik UAV VTOL maupun Quadcopter memiliki jarak tempuh antara 10 hingga 15 km dengan didukung oleh baterai lithium polymer (LiPo).

“Kita telah melakukan uji coba UAV menggunakan prototipe dengan ukuran wingspan yang berbeda. Dengan baterai LiPo, UAV mampu menempuh jarak sekitar 10 kilometer. Sementara itu, penggunaan baterai LiPo dengan kapasitas operasi hingga satu jam memungkinkan UAV menempuh jarak lebih dari 15 kilometer,” Nidya mengungkapkan.

Nidya menjelaskan, pengembangan UAV dengan material komposit berbasis serat alam memiliki potensi besar di Indonesia. Ketersediaan biomassa yang melimpah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan material bernilai tambah.

“Harapannya, prototipe ini dapat dilanjutkan ke tahap hilirisasi. Indonesia memiliki sumber biomassa yang melimpah dan berpotensi dikembangkan menjadi material dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujarnya.

Dari sisi perlindungan kekayaan intelektual, Nidya menyebutkan bahwa UAV VTOL berbasis biomassa telah didaftarkan untuk memperoleh paten. Sementara itu, UAV quadcopter telah memperoleh paten pada 2026. Ia berharap kedua teknologi tersebut dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas, termasuk oleh sektor industri.

“BRIN terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak. Teknologi ini juga siap dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.

Kolaborasi antara UNNUR dan BRIN memberikan dampak yang signifikan bagi kedua pihak. Lies menyampaikan, selain bermanfaat bagi mahasiswa UNNUR yang terlibat, kolaborasi ini juga dapat meningkatkan akreditasi perguruan tinggi.

“Saat ini UNNUR mengarah sebagai kampus berdampak, luarannya tidak hanya berupa jurnal atau paten, tapi harus ada prototipe yang di hilirisasi. Semoga kedepan kita bisa berkolaborasi di bidang biomassa dengan dunia industri,” ujar Lies.

Editor

Recent Posts

Warga Terdampak Karhutla 3 Juta Jiwa, Kemenkes Terjunkan Tim

JAKARTA - Warga terdampak karhutla menembus 3 juta orang di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut…

50 menit ago

Karhutla Kalimantan Ditangani 12.880 Petugas Gabungan

Karhutla tercatat seluas 38.319 hektare di Kalimantan Barat, 8.019 hektare di Kalimantan Selatan, 7.635 hektare…

1 jam ago

Titik Hotspot Turun 56 Persen, Ungkap Kemenhut

Titik hotspot turun paling signifikan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Di Kalbar turun menjadi…

1 jam ago

Kembali Berdjaya Akan Buka Resto di Korea Didukung Penuh Kemenekraf

Kembali Berdjaya Group adalah perusahaan yang bergerak di sektor bisnis kuliner (food and beverage /…

1 jam ago

Toba Caldera Culture Festival Jadi Platform Kolaboratif Subsektor Musik

Toba Caldera Culture Festival berlangsung 24-27 September di Kabupaten Samosir. TCCF 2026 menargetkan 2.000 peserta…

2 jam ago

The Sacred Riana Sambangi Kementerian Ekraf, Ada Apa?

The Sacred Riana berkeinginan untuk membangkitkan kembali industri seni sulap Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Ekonomi…

2 jam ago

This website uses cookies.