Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menerima kunjungan penyelenggara Toba Caldera Culture Festival di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (20/8/2026).(Foto: Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekonomi Kreatif)
Toba Caldera Culture Festival berlangsung 24-27 September di Kabupaten Samosir. TCCF 2026 menargetkan 2.000 peserta paduan suara dan 70 penyanyi solo.
JAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Pembahasan ini disampaikan Teuku Riefky saat menerima kunjungan penyelenggara Toba Caldera Culture Festival di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (20/8).
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menerima kunjungan penyelenggara Toba Caldera Culture Festival di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
“Konsep acara yang ingin dihadirkan Toba Caldera Culture Festival begitu bagus karena bagaimana local hero bisa go national, kemudian karya kreatif dan produk unggulan bisa kita dorong ke tingkat global. Disinilah estafet antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat terhadap pegiat ekraf khususnya subsektor musik,” ujar Teuku Riefky dilansir laman Kemenekraf.
Toba Caldera Culture Festival (TCCF) 2026 merupakan platform kolaboratif perdana yang diinisiasi ND Management untuk mengintegrasikan budaya, ekonomi kreatif, UMKM, inovasi, dan investasi untuk memperluas akses pasar dan mendorong business matching. Rangkaian kegiatan meliputi pesta rakyat (marketplace), silaturahmi pemangku adat Nusantara, hingga kompetisi dan lokakarya paduan suara (Samosir International Choir Competition) yang rencananya diselenggarakan di Kabupaten Samosir pada 24-27 September 2026.
Menteri Ekraf menambahkan, Kementerian Ekraf senantiasa melihat peluang untuk menghubungkan TCCF dengan berbagai program yang telah berjalan, khususnya di bawah Deputi Bidang Kreativitas Media melalui Direktorat Musik. Teuku Riefky mengatakan, peluang kolaborasi tersebut akan terus dikaji, termasuk dalam memperkuat kompetisi paduan suara yang melibatkan empat dewan juri internasional dan enam dewan juri nasional.
“Kementerian Ekraf akan melihat dulu aktivasi apa yang bisa dilakukan dalam Toba Caldera Culture Festival. Nanti, kita pastikan bentuk dukungan dalam bentuk penjurian atau kita bisa ikut turut mengaktivasi rangkaian acara lain. Paling penting programnya bisa memberikan manfaat langsung dan memperkuat ekosistem musik serta talenta-talenta muda,” tambah Teuku Riefky.
Berdasarkan data BPS 2025, penduduk Indonesia yang bekerja untuk subsektor musik mencapai 220.714 jiwa, dengan distribusi pekerja 41,62 persen berasal dari generasi milenial, 33,61 persen generasi Z, dan 20,87 persen generasi X.
Sementara itu, perwakilan Toba Caldera menjelaskan bahwa TCCF berawal dari kompetisi paduan suara yang kemudian berkembang menjadi festival dengan cakupan yang lebih luas. Festival ini mengedepankan penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan nilai tambah berbasis kreativitas dan inovasi. Selain itu, TCCF menjadi wadah untuk memperkenalkan sekaligus menjaga kekayaan budaya, seni, dan identitas Batak kepada masyarakat yang lebih luas.
“Danau Toba itu menjadi salah satu destinasi super prioritas yang mana sudah punya kelas di mata dunia. Tapi, kita tidak hanya bicara bagaimana melestarikan tempatnya saja, tetapi juga bicara manusia dengan seni dan budaya yang berdampak terhadap nilai ekonomi. Inilah yang kami harapkan sebenarnya bahwa Toba Caldera Culture Festival bukan sekadar mendapat dukungan Kementerian Ekraf, tapi bisa menjadi ekosistem kolaborasi yang mengimplementasi program-program kementerian di provinsi prioritas seperti Sumatera Utara,” harap Ketua Steering Committee TCCF, Mora Nasution.
TCCF 2026 menargetkan hampir 2.000 peserta paduan suara dan 70 penyanyi vokal solo. Selain kompetisi, festival juga menghadirkan kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber inspirasi bagi karya kreatif, produk unggulan, dan inovasi kegiatan yang menghubungkan musik dengan filosofi maupun identitas masyarakat Batak seperti Dalihan Na Tolu, Tondi, Gondang, dan Tortor.
Turut mendampingi Menteri Ekraf Teuku Riefky yaitu Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi, Media, dan Pelayanan Publik, Renanda Bachtar; Direktur Musik, Mohammad Amin, serta Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga, Gemintang Kejora Mallarangeng. Sementara dari pihak TCCF hadir Rory Marganda dan Wakil Ketua Steering Committee, Vella Monica.
BANDUNG – Liga Inggris 2026-2027 atau English Premier League kembali bergulir pada akhir Agustus 2026.…
JAKARTA - Warga terdampak karhutla menembus 3 juta orang di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut…
TANGERANG SELATAN: Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi…
Karhutla tercatat seluas 38.319 hektare di Kalimantan Barat, 8.019 hektare di Kalimantan Selatan, 7.635 hektare…
Titik hotspot turun paling signifikan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Di Kalbar turun menjadi…
Kembali Berdjaya Group adalah perusahaan yang bergerak di sektor bisnis kuliner (food and beverage /…
This website uses cookies.