JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Alam Semesta Integra lakukan hilirisasi teknologi penangkap karbon berbasis mikroalga untuk mendukung upaya dekarbonisasi, khususnya di kawasan perkotaan. Kolaborasi riset bersama industri ini diwujudkan melalui Pilot Project Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) berbasis fotobioreaktor mikroalga Olimpus Apollo 1.0.
Teknologi tersebut dikembangkan Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PR LSDA) BRIN sejak 2021 melalui prototipe FCB2022. Teknologi fotobioreaktor tersebut dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi biosekuestrasi dan eliminasi karbon dioksida (CO₂) dengan memanfaatkan mikroalga lokal terpilih Spirulina platensis. Sistem tersebut juga mengoptimalkan proses fotosintesis melalui pemilihan strain, formulasi medium pertumbuhan, serta pemantauan irradiance, pH, dan suhu secara real time.
Konsep hasil riset tersebut kemudian dikolaborasikan dengan PT Alam Semesta Integra dan diimplementasikan dalam Olimpus Apollo 1.0 sebagai teknologi carbon removal untuk wilayah perkotaan. Sistem dirancang secara modular sehingga dapat ditempatkan pada berbagai ruang dan fasilitas publik.
Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan hilirisasi merupakan bagian penting dalam memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikembangkan dan memberikan manfaat nyata.
“Pengembangan teknologi penangkapan karbon dioksida menjadi salah satu respons terhadap tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor, khususnya di kawasan perkotaan seperti Jakarta. Jadi pada 2026, Proyek Percontohan Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon Berbasis Fotobioreaktor Mikroalgae ini akan dipasang di BRIN Gatot Subroto,” ujar Arif dalam acara inaugurasi Pilot Project Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) Berbasis Fotobioreaktor Mikroalgae di Jakarta, Kamis (8/10) seperti dikabarkan HUMAS BRIN.
Menurutnya, pendekatan teknologi dengan konsep ecological modernization diperlukan untuk menghadirkan kawasan perkotaan yang lebih bersih dan sehat sekaligus merespons tantangan perubahan iklim. Mikroalga memiliki kemampuan melakukan fotosintesis dengan menyerap CO₂, mengubahnya menjadi biomassa, sekaligus menghasilkan oksigen.
Arif juga menegaskan, BRIN akan terus membangun ekosistem riset dan inovasi yang mempertemukan periset, industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Keberhasilan riset, menurutnya, tidak hanya diukur dari jumlah penelitian yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan hasil riset menjawab persoalan dan menciptakan nilai bagi Indonesia.
“Semoga dengan teknologi ini semakin masif diterapkan di Indonesia kita bisa merespon perubahan iklim dengan lebih baik lagi, bisa mengurangi emisi dengan lebih baik lagi dan bahkan dengan carbon capture ini kita bisa membuat wilayah kita lebih bersih dan lebih sehat,” pungkas Arif di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo, Gatot Subroto, Jakarta.
Dirancang untuk Kawasan Perkotaan
Direktur PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan mengatakan pengembangan Olimpus diarahkan untuk menghadirkan teknologi penangkapan karbon yang dapat diterapkan di lingkungan perkotaan dengan kinerja yang dapat diukur.
“Kami ingin menghadirkan solusi dekarbonisasi yang dapat diterapkan di kawasan perkotaan, ketika kebutuhan pengurangan emisi tinggi tetapi ketersediaan ruang hijau terbatas. Kolaborasi dengan BRIN menjadi penting untuk memastikan pengembangan teknologi memiliki fondasi riset yang kuat,” ujar Eddy.
Eddy menjelaskan teknologi tersebut dirancang secara modular untuk berbagai lingkungan, mulai dari jalan protokol dan kawasan industri hingga fasilitas publik, pusat perbelanjaan, hotel, dan perkantoran. Dalam pengoperasiannya, udara ditarik dari empat sudut bagian bawah perangkat melalui 4D air intake system untuk kemudian masuk ke dalam fotobioreaktor.
Perangkat memiliki panjang sekitar 4 meter, lebar 1 meter, dan tinggi kurang lebih 3 meter, dengan kebutuhan ruang atap sekitar 2,5 meter persegi. Sistem tersebut didukung panel surya dan listrik PLN.
Pengukuran dan Verifikasi Kinerja
Olimpus juga dilengkapi sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan bersama Telkomsel. Sistem tersebut mencakup 14 unit sensor untuk mengukur gas dan kualitas air setiap lima detik.
Vice President Financial and CMT Account Management Telkomsel, Gian Wijoyo, mengatakan konektivitas IoT memungkinkan data dari perangkat dikirim dan diproses secara real-time. Data tersebut kemudian disimpan dalam platform dan ditampilkan melalui dashboard untuk menghasilkan informasi mengenai kondisi perangkat.
“Ketika sudah ditransmisikan dengan menggunakan IoT connectivity itu ditangkap dengan IoT platform yang kami rancang juga bersama dengan tim Olimpus untuk bisa diproses dan juga disimpan dalam platform dan menghasilkan satu dashboard yang memberikan satu insight,” terang Gian.
Untuk memastikan kinerja perangkat, teknologi tersebut telah melalui proses verifikasi independen oleh pihak ketiga. Presiden Direktur PT TUV SÜD Indonesia, Yuan Bambang Handayana menjelaskan bahwa verifikasi dilakukan menggunakan standar ISO 14064-2 (GHG Project) pada 28 Juni 2026.
Berdasarkan hasil verifikasi, satu unit perangkat disebut mampu menyerap karbon yang setara dengan 110 pohon mahoni berusia di atas 15 tahun. Teknologi tersebut membutuhkan ruang sekitar 2,5 meter persegi, sementara pohon konvensional untuk kapasitas penyerapan yang disebutkan membutuhkan lahan sekitar 5.000 hingga 10.000 meter persegi.
“Jadi alat ini berhasil menangkap atau mereduksi emisi klaim itu harus diverifikasi oleh third party organization, seperti TUV SUD. Jadi kita memverifikasi klaimnya betul dan kita mengeluarkan suatu statement bahwa carbon capture-nya berapa kemudian leakage-nya berapa dan sebagainya,” jelas Yuan.
Hasil verifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan klaim kinerja teknologi sebelum dimanfaatkan lebih luas.
Mendukung Aksi Iklim dan Ekonomi Hijau
Ke depan, Olimpus ditargetkan dapat dimanfaatkan oleh entitas perusahaan publik maupun BUMN untuk mendukung pemenuhan standar kepatuhan Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR).
Pengguna teknologi akan memperoleh laporan mitigasi emisi setiap bulan sebagai bukti aksi iklim. Dari sisi pemeliharaan, perangkat tersebut didukung garansi selama tiga tahun serta layanan rutin berupa panen kepadatan mikroalga setiap bulan dan sterilisasi tangki fotobioreaktor setiap tiga bulan untuk mencegah terbentuknya biofilm.
Peluncuran pilot project ini menandai langkah hilirisasi hasil riset BRIN melalui kolaborasi dengan mitra industri. Inovasi berbasis mikroalga tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan teknologi penangkapan karbon sekaligus memperkuat ekosistem green economy dalam mendukung upaya penurunan emisi dan pembangunan berkelanjutan.
Acara inaugurasi turut dihadiri Direktur Utama PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan, Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, Plt. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Luki Subehi, serta jajaran pejabat dan mitra industri terkait.







