• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Senin, 19 Oktober 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Coko Cacao Company, Dari Desa Ke Pasar Dunia

Editor
Senin, 19 Oktober 2026 - 10:05
Coko Cacao Company.(Foto: Humas Kemendag)

Coko Cacao Company.(Foto: Humas Kemendag)

TANGERANG – Di balik secangkir minuman cokelat Coko Cacao Company, tersimpan perjalanan panjang biji kakao dari kebun petani hingga menjadi produk bernilai tambah. Perjalanan tersebut bukan sekadar tentang menghasilkan olahan cokelat, tetapi juga membuka peluang bagi kakao lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Berawal dari bisnis minuman cokelat siap minum (ready to drink/RTD) melalui Artisan Coko, Coko Cacao Company kemudian melihat peluang lain dalam rantai pasok kakao Indonesia. Berkenalan dengan petani lokal dari berbagai daerah membuat perusahaan ini menyadari bahwa kekayaan kakao Nusantara memiliki potensi yang dapat dikembangkan, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

RelatedPosts

Campuspreneur Award Bagi Wirausaha Muda Berprestasi

4 Juta UMKM Didorong Siap Ekspor Lewat Campuspreneur

Pelindo Lepas Ekspor Produk UMK Binaan ke Brunei

“Perusahaan mulai mengembangkan bisnis bahan baku kakao pada awal 2026. Langkah ini berangkat dari keinginan untuk membantu petani memperoleh nilai jual yang lebih baik atas hasil panen mereka. Selama ini, petani mendapatkan harga yang sangat minim setelah panen,” ujar Purchasing Manager Coko Cacao Company Andri Epriasman saat ditemui di Trade Expo Indonesia (TEI), Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (18/10) seperti dikabarkan laman Kemendag.

Berangkat dari kondisi tersebut, Coko Cacao Company mulai memasarkan biji kakao (cacao beans) serta beragam produk olahannya untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha (business-to-business/B2B). Produk yang ditawarkan mencakup bubuk kakao (cacao powder), massa kakao (cacao mass), lemak kakao (cacao butter), kulit biji kakao (cacao husk), dan pecahan biji kakao (cacao nibs).

Produk-produk tersebut menyasar pelaku usaha yang membutuhkan bahan baku untuk mengembangkan produk cokelat sesuai kebutuhan masing-masing. Dengan menyediakan bahan baku dalam beberapa bentuk, Coko Cacao Company berupaya membuka lebih banyak pilihan pemanfaatan kakao bagi industri pengolahan.

Coko Cacao Company menjalin kerja sama dengan petani dari enam wilayah, yakni Pangandaran di Jawa Barat, Jember di Jawa Timur, Tabanan di Bali, Berau di Kalimantan Timur, Polewali Mandar di Sulawesi Barat, serta Merauke di Papua Selatan. Menurut Andri, setiap daerah memiliki karakteristik kakao yang dapat menjadi daya tarik tersendiri.

“Salah satu kekayaan kakao Indonesia terletak pada karakteristik rasa yang beragam. Keunikan tersebut merupakan peluang untuk memperkenalkan kakao dari berbagai daerah kepada pasar yang lebih luas. Selain itu, pengalaman mengembangkan minuman cokelat melalui Artisan Coko turut memperkenalkan Coko Cacao Company pada keragaman cita rasa tersebut,” ungkap Andri.

Andri menambahkan, ketertarikan terhadap kakao juga berangkat dari pandangan bahwa komoditas ini masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Di tengah banyaknya pelaku usaha pada sektor kopi dan teh, Andri menilai kakao memiliki peluang tersendiri, terutama dengan kekayaan bahan baku yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai perusahaan yang baru memulai bisnis bahan baku kakao pada awal 2026, Coko Cacao Company masih menghadapi sejumlah tantangan. Andri menyebut keterbatasan saluran pemasaran dan kapasitas produksi sebagai dua hal yang perlu dikembangkan.

Dari sisi pemasaran, Coko Cacao Company terus mempelajari cara memperkenalkan produknya kepada calon pembeli, termasuk melalui pengembangan situs web dan partisipasi dalam pameran perdagangan. Sementara dari sisi produksi, kapasitas yang masih berada pada skala menengah membuat perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

Andri mencontohkan, permintaan di atas 10–20 ton berpotensi membutuhkan waktu produksi sekitar dua hingga tiga bulan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika calon pembeli mengharapkan pengiriman dalam waktu lebih singkat.

Di tengah proses tersebut, Andri menilai TEI 2026 menjadi salah satu kesempatan bagi perusahaan untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Dengan dukungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Coko Cacao Company berpartisipasi dalam TEI 2026 untuk memperkenalkan produk sekaligus menjajaki peluang pasar internasional.

Selama pameran TEI 2026, Coko Cacao Company memperoleh respons dari sejumlah calon pembeli potensial, antara lain dari Rusia, Tailan, Pakistan, dan India. Mereka menunjukkan ketertarikan terhadap bahan baku kakao yang ditawarkan perusahaan. “Ajang seperti ini merupakan momen di mana kita bisa mempromosikan dan mencari buyer secara langsung,” urai Andri.

Pertemuan dengan buyer, lanjut Andri, menjadi langkah awal bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya kepada pasar internasional. Meski masih perlu menyesuaikan kapasitas produksi dan memperluas jaringan pemasaran, respons dari calon pembeli memberikan gambaran mengenai peluang yang dapat dijajaki ke depan.

Di balik upaya memperluas pasar, hubungan dengan petani tetap menjadi bagian dari perjalanan bisnis Coko Cacao Company. Perusahaan mengandalkan pengetahuan dan pengalaman petani lokal dalam mengelola tanaman kakao, termasuk menjaga kondisi lahan dan kesuburannya.

Andri menjelaskan bahwa perusahaan mempercayakan aspek teknis budidaya kepada para petani yang menjadi mitranya. Meski tidak terlibat langsung dalam seluruh proses budidaya, perusahaan memandang pengalaman petani menjadi modal dalam menjaga keberlanjutan tanaman kakao.

“Kami mempercayakan teknisnya kepada teman-teman petani. Kami yakin dengan pengalaman dan pengetahuan mereka sebagai petani lokal, mereka akan selalu menjaga tanahnya, kemudian kesuburan, dan segala macamnya,” tutur Andri.

Bagi Coko Cacao Company, pengembangan bisnis kakao bukan hanya tentang membawa produk ke pasar yang lebih luas, tetapi juga membangun hubungan dengan pihak-pihak yang berada di awal rantai pasok. Petani dari berbagai daerah menjadi bagian penting dalam menghadirkan bahan baku yang ditawarkan perusahaan kepada pelaku usaha.

Melalui pengembangan produk, perluasan jaringan pemasaran, dan partisipasi dalam pameran perdagangan, potensi kakao lokal diharapkan dapat menemukan lebih banyak peluang pemanfaatan. Dari kebun petani hingga meja calon pembeli internasional, setiap tahapan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan kakao Indonesia kepada dunia.

Tags: cacaoKakao

Related Posts

Menteri Perdagangan Budi Santoso.(Foto: Humas Kemendag)

Campuspreneur Award Bagi Wirausaha Muda Berprestasi

Editor
19 Oktober 2026

TANGERANG - Kementerian Perdagangan mengapresiasi wirausaha muda berprestasi melalui Campuspreneur Award 2026 pada Minggu, (18/10) di Indonesia Convention Exhibition (ICE)...

Menteri Perdagangan Budi Santoso di salah satu stan UMKM Kriya di The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) Vol. 5 October 2026 Youthpreneurs di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu, (7/10).(Foto: Humas Kemendag)

4 Juta UMKM Didorong Siap Ekspor Lewat Campuspreneur

Editor
17 Oktober 2026

TANGERANG - Kementerian Perdagangan memperkuat peran perguruan tinggi dalam mencetak wirausaha muda berorientasi ekspor melalui Seminar Campuspreneur “Startconnect – Local...

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo melepas ekspor produk UMK (Usaha Mikro dan Kecil) binaan Pelindo, PT Alam Scientia Asia, ke Brunei Darussalam sebanyak satu kontainer berukuran 20 kaki dengan nilai Rp238 juta.

Pelindo Lepas Ekspor Produk UMK Binaan ke Brunei

Editor
14 Oktober 2026

BOGOR - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo melepas ekspor produk UMK (Usaha Mikro dan Kecil) binaan Pelindo, PT Alam...

Mendag Busan saat membuka Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) ke-27 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) Pantai Indah Kapuk (PIK 2), Kosambi, Tangerang, pada Jumat (9/10).(Foto: Humas Kemendag)

Mendag Busan Ajak Generasi Muda Jajaki Usaha Waralaba

Editor
10 Oktober 2026

JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak generasi muda untuk menjajaki bisnis waralaba sebagai salah satu pilihan dalam memulai usaha....

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat ekosistem pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui penyediaan data dan informasi yang semakin komprehensif, akurat, dan mudah diakses guna mendukung pengambilan keputusan dan pengembangan pembiayaan UMKM yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.(Foto: Website OJK)

OJK Luncurkan Laporan Kinerja Pembiayaan UMKM Semester I 2026

Editor
8 Oktober 2026

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat ekosistem pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui penyediaan data dan...

Menteri Perdagangan, Budi Santoso bersama Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Selvi Gibran Rakabuming membuka INACRAFT October Vol. 5 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (7 Okt).(Foto: Humas Kemendag)

Inacraft 2026 Resmi Dibuka Mendag

Editor
8 Oktober 2026

JAKARTA - Menteri Perdagangan, Budi Santoso bersama Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Selvi Gibran Rakabuming membuka INACRAFT October Vol....

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.