TANGERANG – Kementerian Perdagangan memperkuat peran perguruan tinggi dalam mencetak wirausaha muda berorientasi ekspor melalui Seminar Campuspreneur “Startconnect – Local to Global Hub: Diseminasi dan Konsultasi Pasar Ekspor” dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (16/10). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas basis eksportir nasional dan meningkatkan kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap kinerja ekspor Indonesia.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Isy Karim, menyampaikan bahwa penguatan peran UMKM menjadi agenda strategis di tengah kinerja perdagangan nasional yang tetap positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai USD 193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus USD 7,25 miliar.
“Kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional saat ini masih berada pada kisaran 15–16 persen. Oleh karena itu, peningkatan partisipasi UMKM menjadi salah satu pilar untuk memperluas basis ekspor dan meningkatkan nilai tambah produk nasional. Dalam jangka menengah, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional diharapkan mencapai 30 persen dan meningkat menjadi 40 persen dalam jangka panjang,” ujar Isy Karim melalui keterangan resminya.
Isy menjelaskan, untuk mencapai target tersebut, diperlukan pengembangan sedikitnya empat juta UMKM dalam lima tahun ke depan agar mampu menjadi eksportir aktif atau pemasok bagi industri berorientasi ekspor. Target ini setara dengan pengembangan sekitar 800 ribu UMKM setiap tahun dan membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dalam mencetak wirausaha muda yang inovatif, kompetitif, dan berorientasi ekspor.
“Perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan wirausaha muda nasional. Melalui pengembangan kewirausahaan di lingkungan kampus, kita mengharapkan lahirnya generasi muda yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memiliki kesiapan untuk menjadi eksportir maupun pemasok bagi industri berorientasi ekspor,” kata Isy.
Isy mengatakan, salah satu upaya untuk mendorong pencapaian target tersebut yaitu Program Campuspreneur yang diluncurkan Menteri Perdagangan untuk mengoptimalkan potensi kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi. Program ini mengintegrasikan penguatan kapasitas kewirausahaan mahasiswa, pendampingan produk agar memenuhi standar pasar ekspor, perluasan jejaring perdagangan internasional, serta fasilitasi akses permodalan bagi perusahaan rintisan.
Dalam rangkaian seminar ini, dilaksanakan pula penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Implementasi Tridarma Perguruan Tinggi Bidang Perdagangan antara Kementerian Perdagangan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Universitas Presiden. Kesepakatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam mendukung pengembangan sektor perdagangan serta mendorong lahirnya wirausaha yang berorientasi ekspor dan berdaya saing global. Hingga saat ini, sebanyak 27 perguruan tinggi telah bergabung dalam Program Campuspreneur.
“Melalui Program Campuspreneur, kami ingin membangun ekosistem yang menghubungkan inovasi mahasiswa dengan kebutuhan pasar global. Sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi kunci untuk melahirkan wirausaha muda yang berdaya saing dan mampu membawa produk Indonesia menembus pasar internasional,” ujar Isy.
Kementerian Perdagangan berharap kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha melalui Campuspreneur dapat memperluas partisipasi wirausaha muda dalam perdagangan internasional, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat makin berperan sebagai penggerak lahirnya pelaku usaha baru yang inovatif, kompetitif, dan mampu bersaing di pasar global.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Vice President Director Japan External Trade Organization (JETRO) Indonesia Miura Yukiko, Vice President CSR and SMEPP Management PT Pertamina (Persero) Rudi Ariffianto, serta Founder FUTRA Group sekaligus praktisi ekspor dan business connector Steven Magnus. Ketiganya berbagi perspektif mengenai penguatan kewirausahaan, dukungan bagi pelaku usaha, dan peluang menghubungkan potensi bisnis dengan pasar global.
Steven Magnus menekankan pentingnya kesiapan pelaku usaha untuk menembus pasar global. Menurutnya, langkah awal membangun bisnis ekspor mencakup pemahaman dasar ekspor, riset pasar, pemilihan produk yang potensial, serta penyiapan aspek operasional agar usaha dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional.
“Ekspor bukan proses yang instan, melainkan perjalanan bisnis yang membutuhkan konsistensi dan komitmen. Pelaku usaha perlu membangun kepercayaan melalui komunikasi yang jelas, kesiapan memenuhi kebutuhan mitra, serta realisasi kerja sama yang sesuai dengan kesepakatan. Pameran dagang juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring dan menjajaki peluang pasar baru,” ujar Steven.
Apresiasi terhadap penyelenggaran seminar ini juga disampaikan oleh Randy Mustafa, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang aktif mengembangkan usaha di bidang food ingredients, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru melalui partisipasinya dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Ia berkesempatan menjajaki peluang bisnis dengan calon pembeli, mengirimkan sampel produk, serta memperluas jejaring dengan perusahaan dari negara-negara potensial melalui dukungan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). Seminar ini juga memberikan informasi mengenai program pengembangan usaha bagi mahasiswa wirausaha.
“Melalui seminar ini, saya mendapatkan banyak insight, mulai dari peluang untuk terhubung dengan buyer dan ITPC hingga informasi program yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan usahanya. Harapan saya, kampus-kampus dapat melahirkan lebih banyak wirausahawan, khususnya di bidang teknologi, agar Indonesia tidak terus bergantung pada produk komoditas,” ujar Randy.







