BANDUNG – Meningkatnya aktivitas manusia di luar angkasa turut menambah jumlah benda buatan manusia yang mengorbit Bumi. Tidak semuanya masih berfungsi. Satelit yang tidak lagi aktif, badan roket, hingga pecahan akibat ledakan dan tabrakan kini menjadi sampah antariksa (space debris) yang berpotensi mengganggu keberlangsungan misi antariksa.
Periset postdoctoral Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN di Observatorium Nasional Timau, Andry Renaldy Pandie, menjelaskan sekitar 47.080 objek buatan manusia telah terlacak dan dikatalogkan di orbit. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 15.900 objek yang masih aktif.
“Artinya, dua dari tiga benda buatan manusia yang diorbit itu sudah tidak berfungsi lagi,” ujar Andry dalam webinar “100 Jam Astronomi untuk Semua”, Jumat (2/10) dikutip dari laman BRIN.
Webinar tersebut merupakan bagian dari rangkaian World Space Week 2026 yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026. Dalam sesi yang dimoderatori Periset Pusat Riset Antariksa sekaligus Koordinator Kawasan Observatorium Nasional Timau BRIN, Abdul Rachman, Andry membawakan topik “Sampah Antariksa: Mengancam Misi Antariksa?”.
Menurut Andry, sampah antariksa tidak hanya berupa objek berukuran besar yang dapat dilacak. Berdasarkan estimasi pemodelan, terdapat sekitar 1,5 juta fragmen berukuran 1–10 sentimeter dan sekitar 230 juta fragmen berukuran 1 milimeter–1 sentimeter. Total massa benda buatan manusia yang berada di orbit diperkirakan mencapai lebih dari 17.000 ton.
Ukuran yang kecil tidak serta-merta membuat serpihan tersebut tidak berbahaya. Di orbit rendah Bumi, benda-benda tersebut dapat bergerak dengan kecepatan sekitar 7,5–15 kilometer per detik. Tumbukan pada kecepatan tinggi dapat menghasilkan pecahan baru yang kemudian berpotensi bertabrakan dengan objek lainnya.
Rangkaian tumbukan yang terus menghasilkan pecahan baru tersebut dikenal sebagai Kessler Syndrome. Kondisi ini menjadi perhatian karena semakin banyak pecahan di orbit, semakin besar pula potensi gangguan terhadap satelit dan misi antariksa yang masih beroperasi.
Meski demikian, Andry menjelaskan risiko tumbukan dapat diperkirakan karena keberadaan dan pergerakan berbagai objek di orbit dapat dipantau. Data pengamatan dapat digunakan untuk menghitung kemungkinan terjadinya tabrakan sekaligus menentukan langkah untuk menghindarinya.
Pemantauan tersebut menjadi bagian dari Space Situational Awareness (SSA), yakni upaya mengetahui keberadaan, posisi, dan pergerakan benda-benda di antariksa. Pengamatan dapat dilakukan menggunakan radar maupun teleskop optik untuk membantu memperkirakan risiko tumbukan dan menentukan tindakan ketika suatu objek berada pada lintasan yang berpotensi membahayakan.
Selain pemantauan, upaya pencegahan diperlukan untuk menekan pertambahan sampah antariksa. Hal tersebut antara lain dapat dilakukan melalui pengelolaan satelit setelah masa operasinya berakhir serta pengendalian proses masuk kembali benda antariksa ke atmosfer.
Timau Lengkapi Pengamatan dari Belahan Bumi Selatan
Dalam konteks pemantauan tersebut, posisi geografis Observatorium Nasional Timau memberikan peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pengamatan objek antariksa. Letaknya di belahan Bumi selatan memungkinkan Timau mengamati satelit dari sudut yang berbeda dibandingkan observatorium di wilayah lain.
Andry mencontohkan Observatorium Zimmerwald yang berjarak sekitar 117 derajat bujur dari Timau. Perbedaan lokasi tersebut memungkinkan objek yang sama diamati dari perspektif yang berbeda.
“Makanya kita perlu kolaborasi. Jadi kita bisa tahu dari Zimmerwald lihatnya seperti apa, dari Indonesia lihatnya seperti apa. Nah, ini bisa kita hitung, Bapak Ibu, di paper kami yang terbit nanti di jurnal Aerospace,” ujar Andry.
Menurutnya, manfaat pengamatan dari lokasi berbeda tidak semata-mata terletak pada bertambahnya jumlah data. Simulasi yang dilakukan menunjukkan, apabila Observatorium Nasional Timau melakukan pengamatan bersama Observatorium Zimmerwald atau observatorium lainnya, jumlah pengamatan bertambah sekitar seperlima hingga dua perlima. Namun, ketidakpastian posisi objek dapat berkurang sekitar tiga hingga empat kali.
“Ibaratnya seperti kita memotret satu benda, satu foto dari sudut lain itu jauh lebih berguna daripada 10 foto dari sudut yang sama. Jadi dengan berkolaborasi, kita bisa melihat bentuk utuh dari objek ini seperti apa. Timau punya keuntungan di situ. Dan keuntungannya itu bisa kita leverage dengan melakukan kolaborasi dengan observatorium-observatorium lain,” jelasnya.
Dengan demikian, posisi Timau dapat dimanfaatkan bukan untuk menggandakan pengamatan yang telah dilakukan observatorium lain, melainkan untuk melengkapinya. Pengamatan dari sudut berbeda dapat membantu meningkatkan ketepatan informasi mengenai posisi objek yang berada di orbit.
Namun, Andry menekankan bahwa hasil tersebut masih berupa simulasi dengan asumsi kualitas teleskop di Timau setara dengan Zimmerwald. Saat ini, teleskop berukuran 3,8 meter di Observatorium Nasional Timau belum rampung dan belum digunakan untuk pengamatan.
Ketika fasilitas tersebut telah beroperasi, Andry berharap data pengamatan Timau dapat berkontribusi dalam jaringan pengamatan yang lebih luas. Orientasinya bukan membangun katalog mandiri seperti yang telah dimiliki Amerika Serikat atau Eropa, melainkan menyediakan data dari sudut pengamatan yang dapat melengkapi data observatorium lain.
“Diharapkan nanti kalau sudah beroperasi, data yang kita pakai ini bukan jadi katalog mandiri seperti punyanya Space-Track US atau dari Eropa, tapi ini sebagai penyumbang pengamatan dari sudut pandang yang melengkapi pengamatan mereka. Jadi datanya makin komprehensif, makin lengkap. Ini memudahkan kita untuk misi antariksa, untuk pembersihan sampah antariksa,” pungkasnya.
Kolaborasi pengamatan menjadi penting karena sampah antariksa merupakan persoalan yang melintasi batas negara. Posisi geografis Timau memberi peluang bagi Indonesia untuk melengkapi pengamatan dari belahan Bumi lainnya sehingga posisi dan pergerakan objek di orbit dapat diketahui dengan lebih baik. Informasi tersebut pada akhirnya dapat mendukung upaya mengurangi risiko tumbukan serta menjaga keberlanjutan aktivitas antariksa.







