Jumlah rumah di kampung buhun, Bangbayang, Desa Bangbayang, Kecamatan Situraja tak pernah bertambah. Jumlahnya selalu 70 rumah, tak kurang dan tak lebih. Namun tidak jelas sejak kapan jumlah rumah ini berjumlah 70 umpi atau rumah saja. Kisahnya masih gelap, segelap sejarah Bangbayang, sebuah desa yang paling ujung Situraja dan berbatasa langsung dengan hutan dan pegunungan. Hutannya juga masih perawan.
Tak ada lagi jalan di ujung Bangbayang yang berhubungan dengan desa atau kampung lainnya. Banyak yang membayangkan Bangbayang adalah desa di ujung dunia. Hutannya masih lebat dan merupakan hutan lindung, di hutan ini habitat Harimau termasuk Harimau Jawa. “Memang betul, suka diledek urang Bangbayang mah. Saya ikut minggon di kantor Kecamatan Situraja, saat datang ada saja yang bilang wah urang Bangbayang geus datang, nyubuh turun gunung jigana teh,” kata Makmur Setiawan, Sekdes Bangbayang.
Jarak ke Desa Bangbayang sebetulnya tak terlalu jauh. Hanya 12 km saja dari Loji, pertigaan jalan raya Sumedang-Situraja tak jauh dari SPBU Cicapar, Situraja. “Kalau naek motor paling 15 menitan juga sampai,” kata Sekdes.
Dari Sumedang berjarak 24 km, jalanya sudah beraspal mulus, hotmiks dan rigid beton sampai km 7. Di Desa Bangbayang sendiri sudah mulus karena sejak dua tahun lalu terus diperbaiki.
Jumlah kepala keluarga (KK) di Bangbayang sebanyak 330 KK, 945 jiwa. “Di kampung paling buhun, lama, Kampung Bangbayang ini jumlah rumahnya tak boleh lebih dari 70 rumah,” kata Umar, Kepala Desa Bangbayang.
Ia menyebutkan tak tahu apa alasan yang membuat rumah di kampung paling tu adi Bangbayang itu tak pernah bertambah dan berkurang. “Jumlahnya tak lebih dari 70 rumah. Kalau ada keluarga baru biasanya pindah dari kampung ini atau ada yang meninggal dunia,” kata Umar yang sejak 2006 menjadi kepala desa.
Mata pencaharian warga di Bangbayang selaian bertani dan berkebun juga menjadi peternak sapi. Hampir tiap rumah memiliki kandang sapi. Di Bangbayang juga menjadi sentra gula arena tau gula kawung. “Sekarang di kawasan hutan dan sekitar hutan ditanmi kopi, sekitar 30 hektaran sudah ditanami kopi,” kata Umar.
Taka da transportasi umum menuju Bangbayang. Kalau naik ojek sekali naik Rp 25-30 ribu. Kalau malam bisa Rp 50 ribu. Namun sejak memiliki motor lebih gampang, kini semua warga di Bangbayang memiliki motor.
Namun siapa sangka di ujung desa yang berbatasan dengan hutan lebat dan dibatas hutan pinus ini ada satu tempat yang biasa dipakai meditasi. Lokasi hutan pinus yang menjadi tempat wisata sekaligus tempat meditasi di Kampung Sadaray.
Tempat wisata lainnya adalah Curug Cikidang. Air terjunnya cukup tinggi sekitar 20 meteran. Pemerintahan desa sudah membuat kolam kecil membendung aliran air dengan bronjong. Jarak dari ujung kampung ke curug sekitar 750 meter dan harus ditempuh dengan jalan kaki menyususri Sungai Cicapar.
Sumber: Deddi Rustandi/Diskominfo Kab. Sumedang







