KLATEN – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Badan Layanan Umum (BLU) Museum dan Cagar Budaya (MCB) menandai babak penting pelestarian cagar budaya nasional melalui prosesi simbolis Peletakan Batu Tutup Cungkup Candi Perwara Deret 1 Nomor 2 di Kompleks Percandian Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Momentum ini menandai penyelesaian pemugaran tahap awal dari lima candi perwara yang direvitalisasi melalui skema kemitraan strategis (public-private partnership) bersama Djarum Foundation.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor yang terwujud berkat keterlibatan aktif filantropi dan peran Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya. Menteri menegaskan bahwa amanat pemajuan dan pemeliharaan kebudayaan nasional sebagaimana termaktub dalam konstitusi bukan semata beban birokrasi pemerintah, melainkan ikhtiar kebangsaan bersama.
“Tanggung jawab pemajuan kebudayaan itu bukan hanya berada di pundak pemerintah, dari pusat sampai ke desa, melainkan juga peran swasta dan individu yang memiliki kepedulian filantropis. Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi Djarum Foundation serta para anggota Dewan Penyantun yang telah memberi inspirasi nyata bahwa dunia usaha dapat berkontribusi besar dalam melestarikan warisan peradaban bangsa,” tegas Menbud.
Menbud menambahkan, “Kebudayaan ini bukan cost center atau beban anggaran. Justru kebudayaan adalah the new engine of economic growth motor baru pertumbuhan ekonomi kita. Situs bersejarah tidak hanya kita lindungi demi merawat memori kolektif dan jati diri bangsa, tetapi juga kita kembangkan dan dayagunakan menjadi destinasi wisata edukatif serta ekonomi budaya yang menggerakkan kesejahteraan masyarakat di kawasan sekitarnya.”
Dalam arahannya, Menteri Kebudayaan secara khusus mengibaratkan Candi Plaosan sebagai ‘Taj Mahal-nya Indonesia’. Monumen mahakarya abad ke-8 hingga ke-9 Masehi ini berakar dari kisah persembahan cinta antara Sri Maharaja Rakai Pikatan yang beragama Hindu kepada permaisurinya, Sri Kahulunan Pramodawardhani yang memeluk agama Buddha. Keunikan ini tercermin nyata dari arsitektur dua candi induk kembar berlantai dua bercorak Hindu yang dikelilingi stupa-stupa Buddha, menjadikannya simbol otentik akulturasi, kerukunan, dan toleransi peradaban Nusantara yang usianya ratusan tahun lebih tua dibandingkan Taj Mahal di India.
Kepala BLU Museum dan Cagar Budaya, Indira Estianty Nurjadin, menguraikan bahwa tata kelola terpadu Candi Plaosan berpijak pada nilai inti Harmony in Diversity. Narasi ini memuat pesan luhur kebajikan (dharma), kebijaksanaan, pengetahuan, etos kerja, serta keselarasan mengelola lingkungan hidup.
Melalui skema kemitraan dengan Djarum Foundation, BLU MCB memugar lima candi perwara di Candi Plaosan (Deret 1 Nomor 1, 2, 3, 10, dan 50) serta Candi Semar di Dataran Tinggi Dieng. Pekerjaan Candi Perwara Deret 1 Nomor 2 yang dimulai sejak 5 Januari 2025 menunjukkan deviasi progres sangat positif, sehingga prosesi peletakan batu penutup cungkup dapat dilangsungkan lebih cepat dari target awal, dengan proyeksi tuntas menyeluruh pada November 2026.
Guna menjawab tantangan pemugaran ratusan struktur cagar budaya di Indonesia, termasuk 72 candi perwara dan 268 stupa di Kompleks Plaosan serta 218 perwara Candi Prambanan, Kementerian Kebudayaan menekankan keharusan akselerasi dengan integrasi teknologi. Pemanfaatan rekonstruksi visual 3D, kecerdasan buatan, hingga penggantian material batu yang telah lapuk secara presisi dan terukur menjadi standar baru pemugaran tanpa mencederai prinsip otentisitas arkeologi dunia.
Pengembangan Candi Plaosan dilakukan secara terintegrasi bersama gugusan percandian sekitar, meliputi Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Bubrah, dan Candi Lumbung. Pembenahan fisik tidak hanya menyentuh struktur candi, namun juga lanskap gerbang utama, pagar pembatas, fasilitas penerimaan pengunjung, sentra cinderamata, dan ruang kuliner lokal guna menggerakkan perekonomian masyarakat perbatasan Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Prosesi peletakan batu sungkup ini turut dihadiri Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Penasihat Menteri Kebudayaan, Putu Supadma Rudana; maestro patung I Nyoman Nuarta; Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; jajaran pimpinan Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara dan Agus Siswanto Wibawa; Direktur Utama PT Taman Wisata Candi, Febrina Intan; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan D.I. Yogyakarta, Nahar Cahyandaru; dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, Riris Purbasari.







