KEK Samota berada di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan meningkatkan kesejahteraan.
SATUJABAR, JAKARTA – Kementerian Pariwisata memperkuat dukungan terhadap pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Samota di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sebagai destinasi wisata bahari berkelas dunia yang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam Diskusi Rencana Tindak Lanjut KEK Samota di Seaside Resto, Sumbawa, Jumat (24/7/2026)
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa dalam Diskusi Rencana Tindak Lanjut KEK Samota di Seaside Resto, Sumbawa, Jumat (24/7/2026), mengatakan KEK Samota memiliki potensi besar karena memadukan kekayaan wisata bahari, kawasan konservasi, serta budaya lokal dengan peluang investasi yang menjanjikan. Potensi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan Samota sebagai destinasi wisata bahari berkelas dunia melalui pengelolaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Oleh karena itu, pengembangan kawasan ini tidak semata berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga diarahkan untuk membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat UMKM, serta menarik investasi jangka panjang,” kata Wamenpar Ni Luh melalui keterangan resmi.
Menurut Wamenpar, pengembangan KEK Samota mengusung konsep ekonomi biru, ekonomi hijau, ekonomi sirkular, dan ekonomi kreatif sehingga tidak hanya menghadirkan destinasi wisata berkualitas, tetapi juga memperkuat sektor perikanan, UMKM, peternakan, dan agroindustri. Pendekatan tersebut diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Dari sisi aksesibilitas, KEK Samota didukung oleh keberadaan Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin dan Pelabuhan Pototano yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan Pulau Lombok sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan nusantara maupun mancanegara. Kemudahan akses tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan konektivitas wisatawan menuju kawasan Samota sekaligus mendorong tumbuhnya investasi pariwisata.
Potensi pengembangan kawasan juga didukung oleh tren kunjungan wisata yang terus menunjukkan prospek positif. Sepanjang Januari–Oktober 2025, Kabupaten Sumbawa mencatat sebanyak 514.419 kunjungan wisatawan nusantara, sementara Kabupaten Dompu menerima 497.048 kunjungan.
Sementara itu, potensi pasar wisatawan mancanegara tercermin dari kunjungan melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Lombok yang didominasi wisatawan asal Malaysia, Singapura, Tiongkok, Inggris, dan Prancis.
Wamenpar menegaskan Kementerian Pariwisata akan terus mengawal pengembangan KEK Samota agar mampu berkembang secara optimal sebagai kawasan strategis yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata kelas dunia.
“KEK Samota merupakan aset strategis bagi pariwisata Indonesia karena memadukan keindahan bahari, kekayaan konservasi, dan budaya dalam satu kawasan yang terintegrasi. Kemenpar akan terus memperkuat ekosistem investasi pariwisata di kawasan ini, mulai dari fasilitasi perizinan, pengembangan infrastruktur dan kualitas destinasi, peningkatan kapasitas SDM pariwisata, hingga promosi investasi secara berkelanjutan,” ujar Ni Luh.
Kunjungan kerja Wamenpar Ni Luh Puspa ke Sumbawa dilakukan bersama Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto Sipin, Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Helvi Yuni Moraza, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan.







