SATUJABAR, BANDUNG–Polrestabes Bandung, Jawa Barat, kerahkan 300 personel untuk berpatroli malam mencegah tindak kejahatan jalanan dan pencurian, termasuk aksi begal. Para personel dikerahkan untuk menyisir wilayah Kota Bandung, terutama titik-titik rawan dan di jam-jam rawan.
Pengerahan 300 personel sebagai langkah Polrestabes Bandung dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Para personel berpatroli malam menyisir wilayah Koya Bandung, terutama titik-titik rawan dan di jam-jam rawan, mengantisipasi berbagai tindak kejahatan jalanan dan pencurian, termasuk aksi begal.
Patroli tersebut merupakan bagian dari Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD). KRYD merupakan program kepolisian fokus pada pencegahan tindak kriminal melalui peningkatan kehadiran aparat di lapangan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Dedi Supriyadi, mengatakan, kegiatan patroli malam mengerahkan ratusan personel, juga melibatkan unsur lintas instansi agar pengamanan dapat berjalan lebih efektif. Selain mengantisipasi tindak kejahatan jalanan, termasuk aksi begal, patroli juga menyasar gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat lainnya.
“Patroli skala besar ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk menjaga situasi Kota Bandung tetap aman dan kondusif, terutama pada malam hari ketika potensi tindak kriminal cenderung meningkat. Sebanyak 300 personel gabungan disebar ke sejumlah titik rawan gangguan keamanan,” ujar Dedi kepada wartawan, Rabu (22/07/2026).
Dedi menegaskan, para personwl bertugas melakukan patroli sejak malam hingga pagi hari, untuk memastikan masyarakat dapat beraktivitas maupun beristirahat dengan rasa aman dan nyaman. Kehadiran aparat di lapangan diharapkan juga bisa memberikan efek pencegahan terhadap para pelaku yang berniat melakukan aksi kejahatannya.
Patroli malam difokuskan pada pencegahan berbagai bentuk kejahatan jalanan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat. Beberapa sasaran utama patroli meliputi, aksi begal, pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian kedaraan bermotor (curanmo), serta aksi kejahatan lainnya sebagai gangguan kamtibmas
Selain melakukan patroli menggunakan kendaraan dinas di sejumlah ruas jalan dan kawasan strategis dan menempatkan personel, juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dialog dengan warga dilakukan sebagai upaya mendeteksi lebih dini potensi gangguan keamanan yang bisa terjadi di lingkungannya.
“Melalui komunikasi langsung, aparat berharap memperoleh informasi dari masyarakat mengenai kondisi keamanan di wilayah masing-masing. Interaksi langsung sebagai langkah pencegahan gangguan keamanan yang bisa dilakukan lebih cepat,” jelas Dedi.
Dedi mengungkapkan, pola pengamanan lebih ditingkatkan, menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem keamanan, yang juga melibatkan partisipasi masyarakat. Kehadiran personel di lapangan tidak hanya bertujuan menangkap pelaku kejahatan, tetapi juga membangun rasa amandan nyaman di tengah masyarakat.







