Inovasi strategis yang hingga saat ini paling banyak diadopsi oleh mitra industri adalah sistem smart card.
SATUJABAR, BANDUNG – Inovasi periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengantarkan mereka meraih penghargaan pada momentum peringatan lima tahun BRIN.
Adalah Wahyu Cesar dari Pusat Riset Elektronika, periset yang yang meraih penghargaan kategori Mitra Industri Penerima Lisensi Terbanyak Tahun 2025, Selasa (28/4/2026).
Ia memiliki beberapa portofolio inovasi yang telah terlisensi di beberapa sektor teknologi strategis, antara lain sistem kartu cerdas (smart card) dan sistem pengisian daya kendaraan listrik (electric vehicle charging system). Inovasi strategis yang hingga saat ini paling banyak diadopsi oleh mitra industri adalah sistem smart card.
“Pada smart card, pengembangan dilakukan pada platform KTP elektronik, yang mencakup metode pembentukan dan deployment applet Java Card yang lebih efisien, aman, dan scalable untuk kebutuhan identitas elektronik nasional. Sementara itu, pada sistem pengisian daya kendaraan listrik lebih berfokus pada protokol komunikasi dan sistem pembayaran elektronik,” ujar Wahyu seperti dikabarkan Humas BRIN.
Lahirnya inovasi-inovasi unggulan tersebut bermula dari visinya untuk menghadirkan teknologi yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia menyadari pentingnya menciptakan sebuah ekosistem teknologi yang tidak bergantung pada satu pihak saja.
“Latar belakang riset ini adalah keinginan untuk memberikan solusi agar teknologi yang digunakan lebih bersifat terbuka. Didukung oleh banyak produsen, sehingga memberikan kesempatan banyak pihak berkontribusi, serta menggunakan teknologi terbaru sesuai kebutuhan masa depan,” tegasnya.
Untuk memastikan karyanya benar-benar aplikatif dan siap diserap pasar, Wahyu menerapkan pendekatan proaktif dalam melihat persoalan. “Kegiatan riset yang kami lakukan menggunakan pendekatan dengan melihat permasalahan nyata yang terjadi pada mitra industri, dengan menerjemahkan problem tersebut menjadi sebuah inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Pendekatan itu terbukti membuahkan hasil positif, dengan teknologinya diproduksi secara massal oleh pihak industri. Kolaborasi tersebut terus menghasilkan evaluasi yang konstruktif untuk penyempurnaan produk lanjutan.
“Dari hasil riset awal yang diterapkan untuk produksi massal hingga saat ini, ada feedback dari industri agar lebih efisien dan optimal guna mempercepat proses produksi, sehingga hasil produksi meningkat dan dapat mengurangi kegagalan produksi,” jelasnya.
Wahyu menyampaikan harapannya terkait masa depan ekosistem riset di Indonesia. Ia menyoroti pentingnya reformasi birokrasi dan perlunya pemahaman khusus mengenai karakter kolaborasi dengan pihak industri agar hilirisasi riset BRIN semakin masif.
“Harapan kami ke depannya adalah agar hasil riset BRIN semakin banyak dihilirisasi sehingga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri. Diperlukan penguatan sinergi melalui penyederhanaan birokrasi serta peningkatan kemudahan dalam skema kerja sama, baik untuk penelitian, pengembangan, maupun pelatihan,” ucap Wahyu.
“Selain itu, perlu dipahami karakteristik kolaborasi dengan industri sering kali memiliki keterbatasan dalam publikasi karena pertimbangan komersial dan kerahasiaan. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme yang seimbang agar kolaborasi berjalan optimal tanpa menghambat pelindungan kekayaan intelektual maupun kebutuhan diseminasi ilmiah,” tutupnya.







