SATUJABAR, JAKARTA- Sebagian dari kita mungkin masih menganggap situs arkeologi Sangiran di Kabupaten Sragen dan Karanganyar adalah situs tertua yang pernah ditemukan di Indonesia. Akan tetapi, penemuan kawasan situs arkeologi Bumiayu Brebes mengubah catatan sejarah arkeologi Indonesia menyusul penemuan fosil yang diduga berusia sekitar 1,8 juta tahun.
Menurut Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Herry Yogaswara, temuan ini membuka peluang besar untuk mengungkap sejarah manusia dan kehidupan purba di wilayah Jawa bagian barat, bahkan diperkirakan lebih tua dibandingkan temuan di Sangiran.
“Kawasan ini memiliki nilai penting dari berbagai aspek, mulai dari geologi, paleontologi, paleoantropologi, hingga arkeologi,” ungkap Herry saat pembukaan program magang Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) batch 3 di Kawasan Stasiun Lapang (KSL) Bumiayu, Rabu (1/4/2026) seperti dikabarkan Humas BRIN.
Sebagaimana diketahui, hasil eskavasi menemukan berbagai fosil seperti gajah, kuda nil, buaya, kura-kura, ikan, hingga moluska. Hal ini menunjukan bahwa wilayah ini dahulu merupakan lingkungan dekat perairan dangkal yang kemudian mengalami perubahan menjadi daratan.
Tak hanya itu, Herry juga menambahkan, ditemukan pula artefak berupa alat batu dan tulang yang digunakan manusia purba dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut memperkuat indikasi adanya awal kehidupan manusia purba di kawasan tersebut.
Melalui penguatan riset, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi dalam diseminasi hasil penelitian, BRIN optimistis Situs Bumiayu dapat menjadi kawasan unggulan arkeologi sekaligus destinasi edukasi yang berdampak bagi masyarakat luas.







