SATUJABAR, BANDUNG – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyatakan, data Layanan Catatan Informasi RW (Laci RW) di seluruh RW akan diuji validitasnya oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Farhan menilai, keterbukaan data harus diiringi dengan akurasi. Ia tak ingin pemerintah sekadar mempublikasikan angka tanpa verifikasi ilmiah.
“Dalam minggu-minggu ini, data dari Laci RW akan kita uji ke Badan Pusat Statistik supaya kita tahu betul bahwa data yang kita pakai ini data yang valid,” ujar Farhan saat Siskamling Siaga Bencana, Senin 2 Maret 2026 dilansir laman bandung.go.id.
Ia mengakui, keterbukaan data seringkali memunculkan protes dari berbagai pihak. Namun menurutnya, transparansi adalah bagian dari tata kelola pemerintahan yang jujur.
“Risikonya kalau kita membuka data ke publik, pasti ada yang protes. Tapi kita mau terbuka. Hal yang penting jujur supaya kita tahu masalah intinya apa,” katanya.
Farhan mencontohkan persoalan data septic tank dan sanitasi lingkungan. Ia menemukan adanya perbedaan persepsi di lapangan, termasuk soal sistem pembuangan seperti BUDP dan sambungan langsung ke saluran air.
“Ini harus dikonfirmasi supaya kita betul-betul tahu kondisi sebenarnya. Jangan sampai kita salah membaca data,” tegasnya.
Ia juga menyinggung data kemiskinan terbaru dari BPS yang menunjukkan tren penurunan. Namun dengan persentase 3,78 persen dari sekitar 2,6 juta penduduk, masih ada sekitar 100 ribu jiwa yang tergolong miskin.
“Kalau tidak punya data yang akurat, kita tidak bisa membuat kebijakan yang tepat sasaran,” katanya.
Karena itu, ia meminta seluruh lurah dan ketua RW aktif memperbarui data secara berkala. Pembaruan data dijadwalkan kembali pada Juni 2026.
Farhan menilai, pemerintah harus berani jujur meski hasilnya tidak selalu terlihat “indah”.
“Kejujuran itu memang pahit, tapi itu obat yang paling manjur,” ujarnya.








