SATUJABAR, BANDUNG – Saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sedang menata 17 koridor.
Menurut Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, penataan 17 koridor itu harus nyata, bersih, dan bebas PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial).
Farhan menegaskan beautifikasi 17 koridor jalur wisata Kota Bandung tidak boleh berhenti pada konsep dan laporan administratif, melainkan harus terlihat nyata di lapangan, terutama dalam aspek kebersihan, penerangan jalan umum (PJU), ketertiban sosial, dan penanganan PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial).
Hal tersebut disampaikan Wali Kota saat memberikan arahan evaluasi pelaksanaan beautifikasi koridor, yang saat ini telah memasuki Triwulan I Tahun 2026, sebagaimana diatur dalam Instruksi Wali Kota Bandung Nomor 03/ADBANG-2026 tentang Pelaksanaan Beautifikasi 17 Koridor.
Farhan mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan lapangan, PPKS masih ditemukan tidur di sejumlah titik strategis, khususnya di Jalan Asia Afrika, pada ruas Masjid Agung hingga Sudirman.
Selain itu, beberapa titik di Simpang Lima hingga Tamblong juga masih ditemukan PPKS, meskipun terbatas di sisi kiri jalan.
“Paling menonjol itu di Asia Afrika dan Otista. Ini tidak boleh dibiarkan,” ujar Farhan pada Minggu, 1 Februari 2026 melalui keterangan resminya.
Beberapa lokasi lain yang menjadi perhatian serius antara lain Stasiun Timur, putaran Suniaraja, serta tenda biru di depan Pasar Baru.
Farhan memastikan, Pemkot Bandung tidak ingin Kota Bandung menjadi kota yang membuat para homeless betah, namun tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan.
“Kita bukan tidak manusiawi. Justru kita ingin mengembalikan mereka ke rumahnya, ke daerah asalnya, dengan pendekatan yang benar,” ujarnya.







