• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Rabu, 22 Juli 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Layanan Humanis Puskesmas Garuda, Menumbuhkan Asa Baru ODHIV di Kota Bandung

Editor
Rabu, 24 Desember 2025 - 07:21
Pelanyanan di Puskesmas Garuda Kota Bandung. (Foto: Humas Pemkot Bandung)

Pelanyanan di Puskesmas Garuda Kota Bandung. (Foto: Humas Pemkot Bandung)

SATUJABAR, BANDUNG – Puskesmas Garuda Kota Bandung telah menerapkan pendekatan pelayanan yang komprehensif, humanis, dan tanpa stigma. Hal itu menjadikan puskesmas ini sebagai salah satu rujukan utama layanan HIV di Kota Bandung.

Melalui sistem layanan terintegrasi dan kolaborasi lintas sektor, ratusan Orang Dengan HIV (ODHIV) mampu bertahan menjalani pengobatan secara rutin dan berkelanjutan.

RelatedPosts

Ibu Kota Majapahit: BRIN Terapkan Penelitian Multidisiplin

Purwoceng, Tanaman Obat Endemik Indonesia Hampir Punah

N.V. BIMA Pabrik Panci Legendaris, Tembus Pasar Dunia

Pengelola Program HIV Puskesmas Garuda, Dwi Juniarti Rasmedi, menjelaskan, layanan HIV di Puskesmas Garuda dirancang menyeluruh, tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan dukungan psikososial.

“Layanan HIV di sini meliputi tes HIV, tes dan pengobatan Infeksi Menular Seksual (IMS), terapi antiretroviral (ARV), skrining TBC, skrining hepatitis B dan C, layanan harm reduction, PrEP untuk pencegahan HIV, serta rujukan layanan psikolog,” jelas Dwi di Puskesmas Garuda, Senin, 22 Desember 2025 melalui keterangan resmi Humas Pemkot Bandung.

Ia menerangkan, skrining TBC dilakukan secara rutin setiap kali kunjungan pasien, sementara skrining hepatitis B dan C dilakukan minimal satu kali dalam setahun.

Hal ini penting karena ODHIV memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit infeksi oportunistik.

Hingga November 2025, tercatat 177 ODHIV aktif menjalani terapi ARV secara rutin di Puskesmas Garuda. Mayoritas pasien berada pada rentang usia 19 hingga 35 tahun, atau usia produktif.

“Ini menjadi perhatian serius karena mereka adalah generasi produktif. Kalau kesehatannya terjaga, mereka tetap bisa bekerja dan berkarya,” ujarnya.

Dwi memastikan ketersediaan obat ARV saat ini dalam kondisi aman. Meski demikian, program pengambilan obat untuk jangka waktu tiga bulan sekaligus (multi-month dispensing) belum sepenuhnya bisa diterapkan karena keterbatasan stok.

Selain layanan medis, Puskesmas Garuda juga didukung pendampingan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Salah satunya LSM Srikandi Pasundan, yang berperan aktif dalam penjangkauan dan pendampingan ODHIV.

Pendamping lapangan LSM Srikandi Pasundan, Ian menjelaskan, tugas LSM adalah menjangkau kelompok berisiko, mengajak tes HIV, serta memastikan pasien yang terdeteksi positif mau mengakses layanan kesehatan dan tidak putus pengobatan.

“Kami menjangkau di lapangan, lalu merujuk ke puskesmas. Kalau hasilnya positif, kami dampingi supaya tetap berobat dan patuh minum obat,” kata Ian.

Menurutnya, tantangan terbesar di lapangan adalah stigma, ketakutan mengetahui hasil tes, hingga kejenuhan pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang. Bahkan, ada pasien yang memilih berhenti minum obat dan beralih ke pengobatan alternatif.

“Kalau berhenti berobat risikonya besar. Ada yang akhirnya drop, bahkan meninggal. Itu yang selalu kami ingatkan,” ujarnya.

Ian juga mengungkapkan, sebagian besar pasien yang berobat di Puskesmas Garuda justru berasal dari luar Kota Bandung, seperti Jakarta, Sukabumi, Subang, hingga Tangerang.

“Mereka merasa nyaman di sini. Ada yang rela datang jauh-jauh sebulan sekali karena merasa dilayani dengan baik,” katanya.

Kenyamanan layanan tersebut dibenarkan oleh salah seorang pasien ODHIV asal Bandung yang namanya disamarkan.

Ia mengaku mulai menjalani pengobatan sejak 2022 setelah mengalami penurunan berat badan drastis dan kondisi fisik yang terus melemah.

“Berat badan saya turun jauh, tenaga drop. Dari situ saya langsung periksa dan akhirnya rutin berobat di sini,” tuturnya.

Ia mengungkapkan sempat memiliki pengalaman kurang menyenangkan saat mencoba mengakses layanan di luar Bandung.

Perlakuan yang bernuansa stigma membuatnya memilih kembali ke Bandung.

“Di luar kota saya sempat dimarahi dan dihakimi. Di sini beda, pelayanannya ramah, tidak menghakimi, malah dikasih arahan supaya tetap sehat,” katanya.

Berkat kepatuhan menjalani terapi ARV, kondisi kesehatannya kini stabil dan berat badan kembali ideal. Ia pun mengajak sesama ODHIV untuk tidak menyerah dan tetap disiplin minum obat.

“Minum obat itu kunci hidup. Jangan benci diri sendiri, berdamai dengan keadaan, dan tetap jaga kesehatan,” pesannya.

Dengan layanan yang ramah, kolaboratif, dan berkelanjutan, Puskesmas Garuda terus memperkuat perannya sebagai ruang aman bagi ODHIV di Kota Bandung, sekaligus contoh pelayanan kesehatan publik yang berorientasi pada kemanusiaan.

Tags: hivPuskesmasPuskesmas Garuda

Related Posts

Peninggalan sejarah di Ibu Kota Majapahit.(IMAGE: BRIN)

Ibu Kota Majapahit: BRIN Terapkan Penelitian Multidisiplin

Editor
17 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Penelitian mengenai ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, perlu dilakukan melalui pendekatan multidisiplin...

Purwoceng.(Image: Halodoc via BRIN)

Purwoceng, Tanaman Obat Endemik Indonesia Hampir Punah

Editor
16 Juli 2026

Purwoceng merupakan spesies endemik Indonesia yang secara alami hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama di Dieng, pada ketinggian sekitar...

NV Bima.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

N.V. BIMA Pabrik Panci Legendaris, Tembus Pasar Dunia

Editor
16 Juli 2026

N.V. BIMA adalah jejak manufaktur dunia yang terlihat di Kota Bandung. Kisahnya mewarnai jejak peradaban manusia yang terus beradaptasi dan...

Museum Musik rencananya akan menempati aset Jiwasraya di Jalan Asia-Afrika Bandung.(Foto: Dok. Jiwasraya)

Museum Musik di Bandung, Museum Film di Jakarta, Museum Fotografi di Semarang

Editor
15 Juli 2026

Museum Musik di Bandung, Museum Film di Jakarta, Museum Fotografi di Semarang akan menggunakan aset Jasa Raharja dan Jiwasraya dibawah...

Kereta api melintasi jembatan.(FOTO: Humas KAI). penumpang KAI 2024,ka parahyangan.layanan baru KAI, KA Cut Meutia.KA Pasundan

Rute Terpanjang Kereta Api, Sebagian Tembus 1.000 KM

Editor
14 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA – Rute terpanjang kereta api di Indonesian tercatat beberapa di antaranya ada yang menembus 1.000 KM, menurut data...

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bersama Chairman The Nippon Foundation Yohei Sasakawa mengunjungi Kompleks Kusta Jongaya, RW 04, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sabtu (11/7/2026).(Foto: Humas Kemenkes)

Kampung Kusta Jongaya, Menkes: Kusta Bukan Kutukan

Editor
12 Juli 2026

Kampung Kusta Jongaya dikunjungi menjadi wujud komitmen pemerintah bersama mitra internasional untuk mempercepat eliminasi kusta sekaligus menghapus stigma yang masih...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Pesona Jawa Barat