• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Senin, 31 Agustus 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Indeks Kepercayaan Industri Manufaktur November 2024 Naik, Didorong Permintaan Domestik yang Tinggi

Editor
Jumat, 29 November 2024 - 06:28
kinerja Ekonomi jawa barat,indeks harga perdagangan besar,bps

Kawasan industri (bappeda Jabar)

BANDUNG – Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan tren positif meskipun di tengah ketidakstabilan kondisi global. Berdasarkan hasil analisis Tim Analis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian, pada bulan November 2024, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat mencapai 52,95, yang menunjukkan ekspansi. Angka ini meningkat 0,20 poin dibandingkan dengan Oktober 2024 dan 0,52 poin dibandingkan dengan November 2023.

“Peningkatan IKI bulan November ini ditopang oleh ekspansi 21 subsektor yang menyumbang 99,3% terhadap PDB Industri Manufaktur Nonmigas pada Triwulan II 2024,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (28/11).

RelatedPosts

Dugaan Pidana Kebakaran Bromo Tengger Semeru Diselidiki

Jalan Mulus di Sumedang Hingga ke Pelosok

Realisasi Investasi Kabupaten Bogor Semester I 2026 Rp13,72 Triliun

Peningkatan ini juga didorong oleh sejumlah faktor, antara lain kenaikan ekspansi indeks pesanan baru sebesar 2,58 poin menjadi 54,2, meskipun indeks persediaan sedikit menurun 1,18 poin menjadi 54,68 dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, sektor produksi menunjukkan kontraksi dengan penurunan 2,84 poin menjadi 49,72 akibat penguatan nilai tukar dolar AS yang menyebabkan kenaikan harga bahan baku impor.

Menurut Febri, meskipun sektor industri berorientasi ekspor menghadapi tantangan berupa penurunan permintaan global, sektor yang berfokus pada pasar domestik mencatatkan kinerja yang lebih baik. “Industri yang berorientasi pasar domestik masih menunjukkan performa yang baik berkat berbagai program pemerintah, seperti hilirisasi industri dan pemberian makan bergizi gratis,” jelasnya.

Indeks IKI bulan November juga menunjukkan kinerja yang baik pada tiga subsektor utama, yaitu Industri Peralatan Listrik, Industri Minuman, dan Industri Pencetakan dan Media Reproduksi. Kinerja subsektor Industri Peralatan Listrik, misalnya, dipengaruhi oleh penyelesaian proyek PLN dan peningkatan permintaan peralatan pengisi daya baterai untuk kendaraan listrik umum (SPKLU). Sementara itu, Industri Minuman didorong oleh persiapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serta persiapan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Namun, terdapat dua subsektor yang mengalami kontraksi, yaitu Industri Pengolahan Lainnya dan Reparasi serta Pemasangan Mesin dan Peralatan. Industri Pengolahan Lainnya yang lebih berorientasi ekspor, seperti produk perhiasan dan alat musik, menghadapi penurunan ekspor akibat pelambatan ekonomi negara tujuan ekspor. Sementara itu, subsektor Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan mengalami kontraksi karena penurunan permintaan domestik.

Lebih lanjut, analisis berdasarkan orientasi pasar menunjukkan bahwa IKI untuk industri yang berorientasi pasar domestik lebih tinggi dibandingkan dengan yang berorientasi ekspor. IKI untuk industri domestik tercatat 53,33, sementara IKI untuk industri ekspor berada di angka 52,39. Sebanyak 20 subsektor industri domestik mengalami ekspansi, sementara subsektor yang mengalami kontraksi terutama di sektor pengolahan tembakau dan pengolahan lainnya, yang terdampak penurunan permintaan.

Febri juga menyoroti bahwa IKI yang meningkat ini menunjukkan tingginya permintaan domestik yang didorong oleh keyakinan masyarakat terhadap pemerintahan baru. “Peningkatan keyakinan ini tercermin dalam kegiatan usaha yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya, dengan proporsi 30,8% pelaku industri melaporkan kondisi usaha membaik,” tambahnya.

Namun demikian, meskipun pasar domestik menunjukkan optimisme, Febri mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi domestik juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian terkait pemilihan presiden di Amerika Serikat. Hal ini menambah tantangan bagi industri manufaktur dalam menjaga stabilitas produksi dan nilai tukar Rupiah.

Sebagai langkah tindak lanjut, Kemenperin menegaskan pentingnya kebijakan pro-industri yang mendukung pasar domestik, termasuk kebijakan pembatasan impor produk jadi, yang akan memperkuat pasar domestik dan mendongkrak nilai IKI industri manufaktur Indonesia.

Tags: industrikemenperinmanufaktur

Related Posts

Kebakaran hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.(Foto: Humas Kemenhut)

Dugaan Pidana Kebakaran Bromo Tengger Semeru Diselidiki

Editor
31 Agustus 2026

PROBOLINGGO – Kebakaran hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru diselidiki Kementerian Kehutanan melalui Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Jawa, Bali,...

Jalan mulus di Sumedang.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Jalan Mulus di Sumedang Hingga ke Pelosok

Editor
31 Agustus 2026

SUMEDANG – Jalan mulus memudahkan mobilitas warga di Kecamatan Tomo yakni ruas jalan Mekarwangi-Darmawangi Kabupaten Sumedang. Ruas jalan itu sudah...

Realisasi investasi Kabupaten Bogor per Semester I 2026 mencapai Rp13,72 triliun dan menyerap 25.502 tenaga kerja.(Image: Humas Pemkab Bogor)

Realisasi Investasi Kabupaten Bogor Semester I 2026 Rp13,72 Triliun

Editor
31 Agustus 2026

CIBINONG – Realisasi investasi Kabupaten Bogor per Semester I 2026 mencapai Rp13,72 triliun dan menyerap 25.502 tenaga kerja. Hal itu...

Petugas gabungan melakukan upaya pemadaman kebakaran lahan di Desa Santan Ilir, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur pada Rabu (26/8). (Foto: BPBD Kab. Kutai Kartanegara)

Kejadian Bencana Terdata BNPB Hingga Senin 31 Agustus 2026

Editor
31 Agustus 2026

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat enam kejadian baru kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah pada...

Harga emas hari ini antam melambung tinggi, harga emas, harga emas hari ini

Harga Emas Senin 31/8/2026 Antam Rp 2.670.000 Per Gram

Editor
31 Agustus 2026

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Senin 31/8/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang dijual Rp 2.670.000 per gram...

Titik panas atau hotspot di sejumlah provinsi menurut Data terbaru SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan adanya penurunan.(Foto: Humas Kemenhut)

Hotspot di Kalsel, Sumsel, Riau dan Jambi Turun

Editor
31 Agustus 2026

JAKARTA – Hotspot di empat dari enam provinsi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan penurunan pada 29 Agustus...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.