• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Rabu, 17 Juni 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
Advertisement
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Suhu Permukaan Jakarta Naik Tajam

Editor
Rabu, 05 Juni 2024 - 11:20
Kendaraan tinggalkan Jakarta H-7 Lebaran 2024 capai 43.360 unit, menurut data yang dilansir PT Jasamarga Transjawa Tol.

Kendaraan tinggalkan Jakarta H-7 Lebaran 2024 capai 43.360 unit, menurut data yang dilansir PT Jasamarga Transjawa Tol. (FOTO: Humas Jasa Marga)

BANDUNG – Suhu permukaan Jakarta naik tajam hingga 1,6 derajat Celsius dalam 130 tahun terakhir, menurut Praktisi Cuaca dan Iklim Ekstrem BMKG Siswanto dikutip dari situs Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Siswanto mengungkapkan, suhu permukaan Jakarta itu ebih kuat dibandingkan laju kenaikan suhu global dan regional.

RelatedPosts

Pengemudi Ojol Tewas Terlindas Bus Damri di Jalan Pasteur Bandung

Mahasiswa Kepung Gedung DPRD Jabar, Sampaikan 7 Tuntutan

Alhamdulillah! Insentif Guru Madrasah Non ASN Cair Akhir Juni 2026

Menurut Siswanto, secara umum, iklim Jakarta telah berubah signifikan seiring dengan pertumbuhan kota.

Hal ini berindikasi terhadap peningkatan suhu permukaan sebesar satu derajat celsius yang dapat meningkatkan ekstremitas hujan sebesar 14 persen.

Dampaknya, curah hujan Jakarta kategori ekstrem menunjukkan tren peningkatan signifikan dengan sifat curah hujan yang mengalami perubahan.

“Semakin deras, durasinya lebih pendek. Peningkatan curah hujan pagi hari dan pergeseran hujan siang ke malam hari, serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan pada musim hujan,” kata Siswanto, dalam webinar PRIMA’s Talk bertajuk “Urban climate of Jakarta city: from the last 130 years to the end of 21st century”.

Dia menjelaskan, iklim urban didefinisikan sebagai keadaan iklim yang sangat berbeda dengan wilayah rural sekitarnya, yang disebabkan iklim karakteristiknya berbeda antara kota dengan rural. Ini disebabkan adanya perkembangan perkotaan.

Pemicu

Salah satu pemicu karakteristiknya adalah urbanisasi, perubahan lanskap, serta penggunaan semua properti di dalam perkotaan seperti energi, tata kelola air, dan tata kelola lahan.

Siswanto menerangkan, berdasarkan hasil pencitraan satelit Landsat untuk Jakarta pada 1972, kawasan terbangun di Jakarta masih terbatas, vegetasi lebih dominan.

Demikian juga pada 1982, vegetasi masih terlihat dominan hijau. Suhu belum banyak berubah dengan rata-rata 28 derajat Celsius, meskipun suhu maksimumnya bertambah rata-ratanya dari 31,7 derajat celsius menjadi 32,2 derajat celsius.

Untuk suhu minimumnya pun masih tidak terlalu jauh perubahannya, yaitu dari 24,3 derajat celsius menjadi 24,7 derajat celcius.

Lima belas tahun kemudian, pada 1997, terlihat warna merah atau kawasan hunian sangat ekspansif.

Diikuti perubahan suhu udara dari rata-rata menjadi 28,4 derajat celsius naik sekitar 0,4 derajat celsius. Dengan suhu maksimum yang tidak banyak perubahan dan suhu minimum malam hari 25 derajat celsius.

Pada 2005, perkembangan kawasan hunian Jakarta semakin ekspansif hingga 2014. Terlihat kawasan hunian semakin padat di mana-mana hingga keluar batas Jakarta.

“Perubahan lingkungan kompatibel dengan perubahan iklim atau perubahan suhu, dalam hal ini yang terjadi di Jakarta,” kata Siswanto.

Siswanto memberikan gambaran pemahaman tentang lingkungan perkotaan. Lingkungan ini banyak didominasi oleh bangunan baik perumahan maupun komersial dengan kepadatan tinggi, permukaan yang beraspal, dan faktor lainnya yang menciptakan lanskap unik tersendiri.

Perkembangan wilayah

Dirinya merinci Jakarta dari waktu ke waktu terus berubah. Di kisaran 1675-1725 terlihat pemukiman Jakarta belum padat serta masih nampak gunung-gunung.

Setelah VOC masuk sekitar tahun 1755-1785, Jakarta mulai berkembang, gunung-gunung sudah mulai tidak kentara. Tahun 2018, gunung-gunung atau perbukitan yang tadinya terlihat itu sudah menghilang.

“Kita akan terus mengalami perubahan itu, tetapi yang pasti perubahan lanskap dan lingkungan akan menghasilkan konsekuensi, salah satunya konsekuensi terhadap iklim,” tegas Siswanto.

Mengacu Laporan IPCC 2013 (AR5), kata Siswanto, aktivitas manusia sangat mungkin menjadi penyebab meningkatnya setengah rata-rata suhu permukaan global yang telah diamati dari 1951 hingga 2010.

Peningkatan ini memberi dampak langsung terhadap pemanasan global, di mana peningkatan kapasitas atmosfer menahan air sekitar tujuh persen per satu derajat celsius dari tiap pemanasan, yang menyebabkan peningkatan kandungan uap air di atmosfer.

“Sehingga hal ini mempengaruhi siklus hidrologi, khususnya karakteristik curah hujan, mulai dari jumlah, frekuensi, intensitas, durasi, jenis dan kejadian ekstrem,” urainya.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Albertus Sulaiman mengatakan, perubahan tersebut memerlukan penanganan serius terutama para peneliti yang mumpuni dalam sains iklim dan atmosfer.

“Masalah di dunia kita sekarang ini terkait dengan Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya tentang kehidupan lebih baik dan berkelanjutan. Sains atau ilmu berperan untuk menyelesaikan masalah, terutama terkait dengan iklim urban perkotaan,” tandasnya.

Tags: BRINjakartasuhuSuhu permukaan Jakarta

Related Posts

Ilustrasi korban kecelakaan lalu-lintas.(Foto:Istimewa).

Pengemudi Ojol Tewas Terlindas Bus Damri di Jalan Pasteur Bandung

Editor
17 Juni 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Seorang pengemudi ojek online (ojol) tewas terlindas Bis Damri di Jalan Dr. Djunjunan, atau Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa...

Tujuh tuntutan mahasiswa dalam aksi unjukrasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat.(Foto:Istimewa).

Mahasiswa Kepung Gedung DPRD Jabar, Sampaikan 7 Tuntutan

Editor
17 Juni 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia di Jawa Barat menggelar aksi unjukrasa di depan Gedung...

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan insentif guru madrasah non ASN akan mulai cair pada akhir Juni 2026.(Foto: Humas Kemenhaj)

Alhamdulillah! Insentif Guru Madrasah Non ASN Cair Akhir Juni 2026

Editor
17 Juni 2026

Insentif guru madrasah Non ASN akan mulai cair pada akhir Juni 2026, ungkap Menteri Agama Nasaruddin Umar saat rapat di...

Sistem koridor biometri di imigrasi saat kepulangan jemaah haji 2026.(Foto: Humas Kemenhaj)

Haji 2026: Sistem Koridor Biometrik Pangkas Antrean

Editor
17 Juni 2026

Pemulangan kali ini mencatatkan sejarah baru dalam pelayanan perhajian di Jawa Timur melalui implementasi sistem keimigrasian biometrik SATUJABAR, SURABAYA –...

PWP Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan salurkan ribuan paket sembako dan santunan anak yatim dalam menyambut HUT PWP XXVI PWP Pertamina.(Foto: Istimewa)

PWP Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan Salurkan Ribuan Paket Sembako

Editor
17 Juni 2026

PWP Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan salurkan ribuan paket sembako dan santunan anak yatim dalam menyambut HUT PWP XXVI PWP...

Ilustrasi kebakaran.(Foto:Istimewa).

Kebakaran Kandang Ayam dan Puyuh di Kuningan, Ribuan Ekor Terpanggang

Editor
17 Juni 2026

SATUJABAR, KUNINGAN--Ribuan ekor ayam dan burung puyuh mati terpanggang, setelah peristiwa kebarakan menghanguskan bangunan kandang di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat....

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.