SATUJABAR, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprioritaskan konservasi 378 jenis koleksi tumbuhan kritis di Kebun Raya Cibodas. Hal ini sebagai bagian dari upaya menyelamatkan keanekaragaman hayati Indonesia melalui penguatan konservasi ex situ.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Imliah – Hayati Hidup Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Kebun Raya Cibodas, Daseng Ahmad Samsudin, dalam Webinar Koleksi Ilmiah, Senin (3/8). Langkah strategis ini berfokus pada perbanyakan serta pelestarian tumbuhan yang berstatus terancam punah dalam daftar IUCN Red List dan koleksi kritis.
Berdasarkan pendataan, terdapat 378 jenis tanaman koleksi kritis di Kebun Raya Cibodas. Hingga kini, program perbanyakan telah membuahkan hasil signifikan. Sebanyak dua jenis tanaman berstatus Rentan (Vulnerable/VU) berhasil diperbanyak, yaitu Yucca treculeana dan Agave vivipara L.
Kemudian 18 jenis berstatus Terancam Punah (Endangered/EN), satu jenis berstatus Sangat Terancam Punah (Critically Endangered/CR), yaitu Musa insularimontana Hayata, serta 63 jenis tanaman koleksi kritis lainnya berhasil diperbanyak dan diregenerasi.
“Indonesia yang kaya akan kekayaan hayati menghadapi tekanan besar akibat deforestasi, alih fungsi lahan, perubahan iklim, serta aktivitas manusia. Kondisi ini mendorong berbagai tumbuhan endemik dan vital secara ekologis ke dalam ambang kepunahan,” kata Daseng seperti dikabarkan Humas BRIN.
Terbitkan Peraturan
Guna mengatasi kondisi tersebut, BRIN menerapkan fondasi hukum berdasarkan Peraturan BRIN Nomor 7 Tahun 2024 sebagai pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2023.
“Tidak hanya itu, enam langkah penguatan juga perlu dilakukan, seperti inventarisasi dan identifikasi koleksi prioritas dengan mendata tumbuhan berstatus Rentan (Vulnerable/VU), Terancam Punah (Endangered/EN), dan Sangat Terancam Punah (Critically Endangered/CR),” tambah Daseng.
Langkah berikutnya adalah pengumpulan material perbanyakan dengan menghimpun sumber material dari koleksi hidup Kebun Raya Cibodas, hasil eksplorasi lapangan, pertukaran benih, maupun sumbangan untuk selanjutnya dilakukan produksi dan pemeliharaan awal.
“Selanjutnya ada aklimatisasi dan regenerasi, yakni menyesuaikan bibit hasil perbanyakan dengan lingkungan luar serta memperbarui populasi koleksi secara berkala,” ujarnya.
Dokumentasi dan manajemen data menjadi langkah keempat. Setiap bibit wajib memiliki data berupa nomor akses, asal-usul, metode perbanyakan, tanggal penyemaian, dan tanggal keberhasilan.
Setelah bibit hidup dan memenuhi syarat untuk dikoleksi, tanaman didaftarkan ke dalam Repositori Ilmiah Nasional (RIN) dan aplikasi Makoyana. Setelah memperoleh nomor akses baru, koleksi disimpan dalam buku kebun.
“Langkah kelima adalah pengembangan cadangan bibit koleksi. Bibit jenis langka atau terancam punah wajib disimpan di tempat yang aman, baik di dalam ruangan maupun rumah kaca, agar variasi genetik tanaman tetap terjaga dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, penyakit, maupun perubahan iklim, sehingga siap untuk penanaman secara terencana,” tambahnya.
Langkah terakhir adalah evaluasi untuk memantau tingkat kelangsungan hidup (survival rate) serta penurunan persentase koleksi berstatus kritis.
Dalam pelaksanaannya, BRIN menghadapi tantangan berupa risiko kegagalan perbanyakan, dampak perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, serta ancaman hama dan penyakit. Untuk memitigasi kendala tersebut, BRIN menerapkan berbagai langkah, antara lain riset kultur jaringan, optimalisasi rumah kaca dengan kontrol mikroklimat presisi, penguatan kolaborasi riset dan pendanaan eksternal, serta monitoring intensif dan perlindungan biologis terpadu.
Konservasi ex situ di Kebun Raya Cibodas diharapkan menjadi komitmen berkelanjutan berbasis sains untuk menjaga kelestarian flora Indonesia serta memastikan keberlangsungannya bagi generasi mendatang.







