• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Kamis, 15 Januari 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Terapkan Urban Farming di Atap Rumah, Warga Bandung Raup Jutaan Rupiah

Editor
Selasa, 30 Desember 2025 - 06:04
Pertanian perkotaan atau urban farming.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Pertanian perkotaan atau urban farming.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

SATUJABAR, BANDUNG – Pemanfaatan ruang sempit di tengah kota membuahkan hasil nyata di RW 7 Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung. Urban farming yang dikembangkan warga setempat mampu menghasilkan pendapatan hingga jutaan rupiah per bulan.

Inovasi pertanian perkotaan ini mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat melakukan monitoring, Senin 29 Desember 2025.

Urban farming tersebut dikelola oleh Bara Hidro milik Kartibayu bersama warga setempat. Uniknya, lahan pertanian tidak berada di tanah lapang, melainkan memanfaatkan atap bangunan di lantai empat.

Di lokasi ini, berbagai jenis sayuran ditanam dengan sistem hidroponik dan organik.

“Ini urban farming dalam arti yang sebenarnya. Dilakukan di tengah Kota Bandung, bahkan di atap rumah, tapi bisa efektif dan menghasilkan,” ujar Farhan melalui keterangan resmi Humas Pemkot Bandung.

Farhan mengapresiasi kreativitas warga RW 7 yang mampu mengubah keterbatasan lahan menjadi peluang ekonomi.

Menurutnya, urban farming ini menjadi bukti bahwa pertanian tidak harus selalu dilakukan di pedesaan, melainkan bisa tumbuh dan berkembang di kawasan perkotaan.

Dalam pengelolaannya, Bara Hidro menerapkan dua metode tanam. Sistem hidroponik masih menggunakan nutrisi berbasis kimia, sementara sistem organik sepenuhnya memanfaatkan pupuk alami tanpa pestisida. Pupuk organik tersebut dibuat sendiri dari sisa makanan dan sampah organik warga sekitar.

Farhan berharap konsep ini dapat direplikasi di wilayah lain. Ia menargetkan RW 7 menjadi kawasan yang semakin hijau dan produktif, sekaligus menjadi contoh pengembangan ketahanan pangan berbasis masyarakat.

“Kalau ini bisa dikembangkan, setiap RW bisa punya urban farming sendiri. Kota akan lebih hijau, warga lebih mandiri, dan ekonomi lokal ikut bergerak,” kata Farhan.

Sementara itu, Pemilik Bara Hidro, Kartibayu, menjelaskan seluruh proses dilakukan secara terpadu, mulai dari pembenihan, pembesaran tanaman, panen, hingga pengemasan dan pemasaran.

Urban farming ini telah berjalan sejak 2023 dan melibatkan sejumlah petani binaan di lingkungan sekitar.

“Dalam satu bulan kami bisa panen sekitar delapan kali. Totalnya kurang lebih 160 kilogram. Rata-rata pendapatan per bulan berkisar Rp5-6 juta,” ungkap Kartibayu.

Selain mengelola lahan di atap bangunan, kelompok ini juga membina petani lain. Bibit disiapkan di satu titik, kemudian pembesaran dilakukan oleh petani mitra.

Setelah panen, hasilnya kembali diserap untuk dipasarkan bersama, sehingga menciptakan ekosistem pertanian perkotaan yang saling menguatkan.

Tak hanya berdampak pada ekonomi, urban farming RW 7 Suka Asih juga berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan.

Pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk dinilai mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan nilai tambah.

Tags: buruan saeurban farming

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.