Jenazah Yogi Saleh (40), Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, saat akan dimakamkan.(Foto:Istimewa).
SATUJABAR, PURWAKARTA–Penyebab kematian Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Yogi Saleh, masih belum bisa dipastikan. Yogi Saleh, berusia 40 tahun, yang ditemukan tewas bersimbah darah dengan sejumlah luka, termasuk luka tusukan, dua hari sebelumnya tidak masuk kerja.
Penyidik Satreskrim Polres Purwakarta masih melalukan penyelidikan, untuk memastikan penyebab kematian Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, Yogi Saleh. Penyidik juga masih menunggu hasil pemeriksaan otopsi rumah sakit terhadap jenazah Yogi Saleh, berusia 40 tahun, yang ditemukan sejumlah luka, termasuk tiga luka tusukan di bagian lehernya.
Korban ditemukan tewas bersimbah darah di kamar rumahnya, di Kampung Karangsari, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, pada Minggu (14/06/2026) malam. Kematian korban pertamakali diketahui oleh istrinya saat baru pulang setelah mendampingi anaknya wisuda.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, dua hari korban tidak masuk kerja sebelum ditemukan tewas. Namun, korban tidak memberitahukan alasan tidak masuk kerja ke kantornya.
“Jadi, sejak hari Kamis dan Jumat, korban tidak masuk kerja. Namun, korban tidak memberikan alasan ke kantornya,” ujar Hendra dalan keterangannya, Selasa (16/06/2026).
Hendra mengatakan, penyebab kematian korban belum bisa dipastikan, masih dalam proses penyelidikan penyidim Satreskrim Polres Purwakarta. Pihak keluarga yang menilai kematian korban janggal dan tidak yakin akibat tindakan bunuh diri, diminta bersabar menunggu proses penyelidikan dan hasil otopsi jenazah dari rumah sakit.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, Yogi Saleh, ditemukan tewas bersimbah darah di kamar rumahnya, pada Minggu (14/06/2026) malam, sekitar pukul 19.30 WIB. Kematian korban pertamakali diketahui istrinya saat baru pulang menghadiri wisuda anaknya.
“Saat istri pulang usai menghadiri wisuda anaknya, kondisi rumah dalam keadaan terkunci dan gelap. Istri korban berusaha menggedor-gedor pintu, hingga bisa masuk melalui jendela rumah yang bisa dibuka. Korban sudah tergeletak beesimbah darah di dalam kamar, setelah istrinya menemukan ceceran darah di depan pintu,” ujar Kasatreskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, Senin (15/06/2026).
Tim Inafis Satreskrim Polres Purwakarta telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah luka, teemasuk luka tusukan di tubuh korban.
Polisi juga menemukan barang-barang yang diduga berkaitan dengan kematian korban, diantaranya tangga, dua potong kabel yang sudah terputus, serta sebuah ikat pinggang. Meski barang-barang tersebut ditemukan di sekitar kamar, belum bisa menyimpullan penyebab kematian korban, karena tindakan bunuh diri, atau dibunuh.
“Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan, kami belum bisa menyimpulkan terkait penyebab kematian korban. Meninggal karena tindakan bunuh diri, atau tindak pidana dibunuh,” kata Made.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak tidak ada barang-barang berharga yang hilang. Dompet berikut uang tunai, kartu identitas, telepon genggam, masih utuh.
“Tidak ada barang-barang berharga hilang, termasuk dompet, uang, hp, dan kartilu identitas korban. Jadi, kami belum menemukan indikasi tindak pidana perampokan maupun tanda-tanda perkelahian,” ungkap Made.
Hasil visum rumah sakit, korban mengalami tiga luka tusukan serius di bagian leher dan luka robek di ulu hati. Selain itu, ada bekas jeratan di leher.
Barang bukti sebilah pisau dapur dengan panjang 10 hingga 15 sentimeter, ditemukan di lokasi kejadian. Penyidik masih mendalami percakapan terakhir dalam telepon genggam korban, serta bukti petunjuk rekaman kamera pengawas, atau CCTV, untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban, sekaligus motif yang melatarbelakanginya.
Sementara itu, pihak keluarga mendesak pihak kepolisian mengungkap penyebab kematian korban secara menyeluruh dan transparan. Pihak keluarga tidak yakin jika korban tewas karena binuh diri.
Perwakilan keluarga korban, Eka Yusuf, mengatakan, temuan sejumlah luka pada tubuh korban, membuat keluarga meragukan spekulasi yang berkembang terkait penyebab kematian mengarah tindakan bunuh diri. Banyak luka yang ditemukan, penyebab kematian janggal lebih mengindikasikan ke tindak pidana.
“Saya melihat ada kejanggalan, banyak luka ditemukan, di leher dan bagian tubuh lainnya. Kalau takdir kami terima, tapi kalau memang karena tindak pidana, keluarga meminta keadilan dan meminta polisi mengungkap kasusnya seterang-terangnya,” ujar Eka.
Selain meminta pihak kepolisian mengusut tuntas, keluarga juga meminta Pemkab Purwakarta memberikan perhatian serius terhadap penanganan perkara yang menimpa salah satu pejabatnya. Proses penyelidikan masih dilakukan penyidik Satreskrim Polres Purwakarta untuk memastikan penyebab kematian, termasuk hasil otopsi rumah sakit yang dilakukan terhadap jenazah korban.
SATUJABAR, JAKARTA – Macau Open 2026 berlangsung 16 - 21 Juni 2026 di Dome Pesta…
SATUJABAR, JAKARTA – Macau Open 2026 berlangsung 16 - 21 Juni 2026 di Dome Pesta…
SATUJABAR, JAKARTA - Pembangunan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat menjadi arah utama kebijakan anggaran Kementerian…
SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan…
SATUJABAR, MAKKAH - Haji 2026 masih dalam fase pemulangan jemaah bersamaan dengan operasional penyelenggaraan ibadah…
SATUJABAR, JAKARTA - Menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar…
This website uses cookies.