Berita

Mungkin Tak Lama Lagi, BRIN Bisa Bikin Material Pemurnian Uranium untuk Energi Nuklir

Indonesia memiliki potensi besar bahan baku nuklir, salah satunya berasal dari pasir monasit – limbah hasil penambangan timah. Namun, tantangan utama terletak pada pemisahan uranium dan thorium yang bercampur dengan logam tanah jarang.

SATUJABAR, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong pengembangan teknologi bahan bakar nuklir berbasis sumber daya lokal. Salah satu upaya tersebut dilakukan oleh peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Ade Saputra dan tim, yang mengembangkan material adsorben inovatif untuk pemurnian uranium.

Ade mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar bahan baku nuklir, salah satunya berasal dari pasir monasit – limbah hasil penambangan timah. Namun, tantangan utama terletak pada pemisahan uranium dan thorium yang bercampur dengan logam tanah jarang.

“Jika pemisahan ini berhasil, kita tidak hanya menyelesaikan masalah limbah radioaktif, tetapi juga memperoleh logam tanah jarang yang bersih serta bahan bakar nuklir dari sumber domestik,” katanya, saat diwawancara Tim Humas BRIN, Selasa (5 Mei 2026) dikutip laman BRIN.

Menurutnya, kebutuhan energi yang terus meningkat, serta komitmen Indonesia menuju net zero emission, menempatkan energi nuklir sebagai salah satu opsi strategis. Dalam konteks ini, penguasaan teknologi hulu khususnya pemurnian bahan bakar menjadi kunci penting.

Riset yang dilakukan Ade dan tim menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan tersebut. Tidak hanya berorientasi pada aspek teknis, tetapi juga pada efisiensi proses dan keberlanjutan lingkungan. “Penyiapan bahan bakar nuklir merupakan fondasi penting dalam memastikan keberlanjutan operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) ke depan,” ujarnya.

Inovasi utama riset ini adalah pengembangan Covalent Organic Framework (COF) tersulfonasi sebagai material adsorben. COF dikenal sebagai material berstruktur kristalin dengan stabilitas tinggi terhadap kondisi ekstrem, seperti keasaman tinggi dan radiasi.

Material ini dirancang secara spesifik untuk meningkatkan selektivitas terhadap uranium. Dengan pendekatan tersebut, tim berhasil menghasilkan COF-SO₃H yang mampu mengadsorpsi uranium dengan kapasitas tinggi, bahkan dalam kondisi larutan sangat asam yang menyerupai kondisi nyata pengolahan pasir monasit.

Lebih dari itu, material ini menunjukkan ketahanan penggunaan berulang hingga beberapa siklus, sehingga berpotensi menekan biaya operasional dalam aplikasi industri.

Selain material, aspek metode sintesis juga menjadi perhatian penting. Tim mengembangkan pendekatan dissolution-precipitation yang lebih efisien dibanding metode konvensional. Metode ini dinilai memiliki prospek untuk dikembangkan ke skala besar karena waktu sintesis yang lebih singkat serta penggunaan pelarut yang lebih ramah lingkungan.

Tantangan Riset

Meski demikian, perjalanan riset tidak lepas dari tantangan. “Kami sempat mengalami berbagai kegagalan dalam sintesis, namun dari situ kami melakukan modifikasi hingga akhirnya berhasil mengembangkan metode yang sesuai,” ungkap Ade.

Riset ini memiliki dampak strategis yang luas. Selain meningkatkan efisiensi proses pemurnian uranium, pendekatan berbasis adsorpsi menggunakan COF juga mampu mengurangi limbah cair radioaktif dibanding metode konvensional.

Dengan demikian, teknologi ini tidak hanya menjawab kebutuhan industri energi, tetapi juga mendukung prinsip ramah lingkungan dalam pengelolaan bahan radioaktif.

Lebih jauh, penguasaan teknologi ini membuka peluang pemanfaatan sumber daya mineral nasional secara optimal. Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi mampu mengolah dan memanfaatkan sumber daya tersebut untuk kepentingan energi domestik.

Ke depan, pengembangan riset ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan bahan baku prekursor COF dan keterbatasan fasilitas karakterisasi material radioaktif.

Untuk itu, tim menargetkan pengembangan skala produksi yang lebih besar serta pengujian sistem secara kontinyu pada skala pilot. Kolaborasi dengan industri dan mitra internasional juga menjadi langkah penting dalam mempercepat hilirisasi teknologi.

Riset ini menjadi salah satu langkah awal menuju penguasaan teknologi bahan bakar nuklir secara mandiri di Indonesia. Dalam jangka panjang, kemampuan ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi nuklir yang aman, efisien, dan berkelanjutan.

“Harapannya, teknologi ini dapat menjadi bagian dari solusi dalam mendukung kemandirian energi nasional,” pungkas Ade.

Editor

Recent Posts

Pertamina EP Atasi Kebakaran di Stasiun Pengumpul Utama Cemara Indramayu

Tidak terdapat korban luka dalam insiden tersebut. Selain itu, kejadian ini juga dipastikan tidak menimbulkan…

6 menit ago

IBL GoPay 2026 Segera Umumkan Penghargaan Individu

SATUJABAR, JAKARTA - Musim reguler IBL GoPay 2026 tinggal satu pekan lagi. Liga akan segera…

24 menit ago

Harga Emas Batangan Antam Rabu 6/5/2026 Rp 2.790.000 Per Gram

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas batangan Antam Rabu 6/5/2026 dikutip dari situs Aneka Tambang dijual…

34 menit ago

Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual

Kementerian Agama sudah memperkuat regulasi dan mekanisme pembinaan di satuan pendidikan keagamaan, yang akan mengawasi…

45 menit ago

Kemenperin & Kemenpora Dorong Kinerja Sport Industry

Produk alat olahraga nasional telah berhasil menembus pasar ekspor utama seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea…

57 menit ago

38 Perlintasan Kereta Sebidang Wilayah Daop 2 Bandung Ditutup Permanen

SATUJABAR, BANDUNG--PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, terus mengurangi jumlah perlintasan…

60 menit ago

This website uses cookies.