Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI), menghadiri sekaligus mencanangkan Hari Filateli Nasional (HFN) 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.(Foto: Istimewa)
SATUJABAR, YOGYAKARTA – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI), menghadiri sekaligus mencanangkan Hari Filateli Nasional (HFN) 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan nasional sekaligus momentum penguatan filateli sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan.
Peringatan HFN 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi antara PFI, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Pemerintah Kota Yogyakarta. Mengusung tema “Filateli – Budaya Koleksi Anak Negeri”, kegiatan ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari komunitas filatelis, akademisi, pelajar, hingga pemangku kepentingan kebudayaan.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa filateli bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari kebudayaan material yang menyimpan banyak cerita dan sejarah bangsa. Ia menjelaskan bahwa sejak masa awal kemerdekaan, perangko telah menjadi bagian dari identitas nasional sekaligus media komunikasi yang merekam berbagai peristiwa penting, mulai dari budaya, organisasi, hingga dinamika kehidupan masyarakat.
Fadli Zon juga mengulas bahwa praktik filateli memiliki akar sejarah panjang secara global sejak kemunculan perangko pertama di dunia pada abad ke-19. Di Indonesia, penerbitan perangko sejak masa kolonial hingga era republik menjadi penanda penting perjalanan sejarah bangsa. Menurutnya, perangko dan benda filateli merekam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kekayaan budaya, rumah adat, wastra Nusantara, hingga peristiwa nasional.
“Filateli adalah benda kecil yang menyimpan cerita besar bangsa. Ia merekam sejarah, identitas, dan perjalanan budaya kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa di tengah perkembangan teknologi komunikasi, filateli tetap memiliki nilai penting sebagai sarana edukasi yang mengajarkan ketekunan, ketelitian, dan pemahaman sejarah. Filateli juga dinilai memiliki potensi sebagai instrumen diplomasi budaya, termasuk melalui penerbitan perangko bersama antarnegara.
“Ke depan, filateli dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat diplomasi budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Aria Nugrahadi, menyampaikan bahwa filateli memiliki posisi penting sebagai ruang untuk merekam jejak sejarah bangsa. Ia menilai bahwa meskipun era digital telah mengubah cara berkomunikasi, filateli tetap relevan sebagai media pembelajaran lintas generasi.
“Filateli bukan hanya aktivitas koleksi, tetapi juga sarana edukasi yang kaya nilai dan makna sejarah,” ujarnya.
Wakil Ketua Panitia HFN 2026, Yetti Martanti, dalam laporannya menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan filateli di Indonesia. Ia menegaskan bahwa filateli bukan sekadar aktivitas berkirim surat, tetapi ruang kecil yang menyimpan ingatan besar bangsa.
Rangkaian kegiatan HFN 2026 mencakup pengecapan cap slogan di kantor pos Yogyakarta pada 28 Maret hingga 30 April 2026, seminar nasional filateli, pameran, lokakarya bagi guru dan mahasiswa, pertemuan pelaku kartu pos, serta berbagai lomba dan peluncuran produk filateli. Kegiatan serupa juga dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari gerakan budaya inklusif, seperti di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Dalam acara seremonial, turut dilakukan penandatanganan Sampul Peringatan Filateli “HFN 2026” oleh Menteri Kebudayaan bersama sejumlah pejabat. Selain itu, diluncurkan pula buku kartu pos berjudul “Kartu Pos Bergambar Djocjocarta” karya Fadli Zon dan Mahpudi.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan ini, antara lain Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo; Wali Kota Semarang, Agustin Wilujeng Pramestuti; Ketua Tim Strategi Pengembangan Industri Pos dan Kurir Kementerian Komunikasi dan Digital, Muhammad Fadh; Direktur Komersial PT Pos Indonesia, Daud Joseph; serta Dewan Penasehat PFI, Woro Widiastuty. Menteri Kebudayaan juga didampingi oleh Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana.
Menutup kegiatan, Menteri Kebudayaan secara resmi menetapkan Hari Filateli Nasional diperingati setiap 29 Maret sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kebudayaan nasional.
SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Batangan Antam Selasa 31/3/2026 dikutip dari situs Aneka Tambang dijual…
SATUJABAR, JAKARTA - Pemerintah terus memperkuat skema layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia pada musim…
SATUJABAR, JAKARTA - Setelah libur panjang Idul Fitri, Kementerian Koperasi (Kemenkop) kembali mengonsolidasikan kekuatan dan…
SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital memanggil Google dan Meta (Facebook, Instagram, dan Threads)…
SATUJABAR, SUMEDANG - Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir memberikan bantuan sebesar Rp 10 juta dari…
SATUJABAR, BANDUNG – Kawasan Jelekong DI Kabupaten Bandung berpotensi menjadi salah satu lokasi pengolahan sampah…
This website uses cookies.