SATUJABAR, BANDUNG–Bencana tanah longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sebagai alarm harus dilakukan reboisasi dan tidak boleh ditempati lagi warga. Bencana tanah longsor disertai aliran deras dari lereng Gunung Burangrang tersebut, memakan banyak korban jiwa, total sudah 25 jenazah korban ditemukan dan 65 lainnya masih dicari.
Bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sebagai alarm harus dilakukan reboisasi, dan tidak boleh ditempati warga, diingatkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. Mendagri, Tito Karnavian, didampingi Wamendagri, Akhmad Wiyagus, mendatangi lokasi tanah longsor di Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (25/01/2026).
Tito yang datang setelah Wakil Presiden (Wapres), Gibran Rakabuming Raka, meminta proses pencarian terhadap korban yang belum ditemukan dilakukan semaksimal mungkin. Warga terdampak di Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda berjumlah 113 jiwa, 23 orang selamat, 25 ditemukan tewas tertimbun longsor, dan 65 lainnya masih dicari.
“Pertama jangka pendek dulu, semaksimal mungkin upaya pencarian korban yang belum ditemukan. Relokasi semua warga terdampak, saya lihat Gubernur, Bupati, dan lainnya sudah sama-sama melakukannya,” ujar Tito.
Tito mengatakan, upaya relokasi warga terdampak sebagai langkah jangka panjang ke tempat baik, aman, dan pekerjaan sebagai matapencahariannya harus dibantu. Longsor di wilayah Kecamatan Cisarua sebagai alarm harus dilakukan reboisasi dengan tanaman keras agar struktur tanahnya kembali menguat.
“Harus dilakukan reboisasi dengan tanaman keras agar struktur tanah kembali menguat, dan tidak boleh ditempati lagi warga. Ini juga sekaligus menjadi pelajaran bagi daerah lain, untuk memperkuat tata ruang, daerah rawan harus dipetakan oleh setiap bupati, walikota, dan gubernur, kita petakan secara nasional atas potensi kerawanan hidro meteorologi, jika terjadi hujan deras dan lebat ” kata Tito.
Tito menyebutkan, tanah di lokasi longsor di wilayah Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, gembur dan subur sehingga bagus ditanami tanaman. Namun, rawan terjadi longsor, karena fondasi tidak kokoh.
“Saya lihat daerah perbukitan yang gembur dan subur, banyak pemukiman warga, dan tanaman pelindung yang akarnya menancap ke dalam telah berganti holtikultura, sayuran dan lain-lain. Ini rentan saat terjadi hujan deras, mirip seperti terjadi di Banjarnegara, Cilacap, Jawa Tengah,” ungkap Tito.
Setelah ditetapkan status tanggap darurat bencana, operasi Tim SAR gabungan mencari korban yang belum ditemukan dalam bencana tanah longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, diberlakukan 24 jam. Tim SAR gabungan, terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polri, TNI, serta para relawan, terus berjibaku menyisir titik-titik dicurigai untuk bisa menemukan korban yang diduga masih tertimbun material longsor, sejak hari pertama proses pencarian, Sabtu (24/01/2026).







