Tutur

Kembali ke Masa Lalu di Alun-Alun Tegalkalong: Semangat Budaya yang Tak Ingin Padam

Suara kayu dipukul berdentang. Anak-anak berlarian sambil tertawa riang, bermain egrang dan engkle di pelataran Alun-Alun Tegalkalong, Kecamatan Sumedang Utara. Sementara di sudut lain, seorang ibu tua sedang menjelaskan cara menimba air dari sumur yang dibangun ala zaman dulu.

Suasana itu tak biasa. Seolah waktu berhenti sejenak, lalu memutar balik ke masa ketika teknologi belum menguasai segalanya. Ketika permainan anak-anak bukan layar sentuh, tapi tanah, kayu, dan tawa.

Inilah Gelar Budaya bertema “Sumanget Kasumedangan Ngaguar Sajatining Tali Paranti Ti Bihari Ka Kiwari”, sebuah upaya menyambungkan benang budaya dari masa lalu ke masa kini. Sebuah upaya, agar tak semuanya hilang begitu saja tertelan zaman.

 

Rumah Panggung, Leuit, dan Sumur Timbanya… Hidup Kembali

Warga Sumedang tumpah ruah. Ada yang mengenakan pakaian tradisional, ada pula yang datang membawa anak-anak mereka untuk menyaksikan langsung seperti apa kehidupan “baheula”.

Mulai dari bentuk rumah tradisional, leuit (lumbung padi), sumur timba, hingga permainan anak-anak khas Sunda, semuanya hadir dan hidup kembali. Tak hanya sebagai pajangan, tapi benar-benar dimainkan dan dirasakan.

 

Bupati Turun Tangan, Main Beklen dan Nostalgia Masa Kecil

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, hadir dan menyambut hangat acara ini. Ia bahkan sempat ikut bermain bersama anak-anak.

“Ini luar biasa. Anak-anak jadi tahu bagaimana bentuk rumah zaman dulu, makanan, hingga permainan tradisional. Mereka jadi belajar, dan ini penting agar mereka tidak lupa dari mana mereka berasal,” ujar Bupati Dony seperti dilansir laman Pemkab Sumedang.

Bagi Dony, memperkenalkan budaya pada generasi muda bukan hanya soal melestarikan tradisi, tapi juga menyelamatkan anak-anak dari ketergantungan gawai.

“Permainan tradisional seperti egrang, congklak, beklen, itu membuat anak-anak bergerak, tertawa, berpikir. Mereka jadi lebih ceria dan pintar. Ini cara kita menjaga masa depan mereka, dengan memberi ruang pada masa lalu,” tambahnya.

 

Gelar Budaya Bukan Sekadar Panggung Acara

Bukan hanya budaya yang ditampilkan. Gelar Budaya ini juga menjadi ruang kolaborasi antar-instansi. Dinas Kesehatan membuka layanan cek kesehatan gratis, sementara Dinas Pendidikan mengajak siswa sekolah dasar melakukan observasi budaya secara langsung.

“Saya ingin kegiatan seperti ini tidak berdiri sendiri. Harus terintegrasi. Anak-anak bisa belajar, data kesehatan masyarakat juga bisa dikumpulkan. Semua bisa saling mendukung,” tutur Dony.

Anak-anak sekolah tampak antusias mencatat di lembar observasi mereka, mewawancarai pengisi acara, dan mencatat bentuk rumah adat hingga nama permainan yang mereka temui.

 

Menyalakan Obor Budaya di Tegalkalong

Bupati Dony berharap, obor budaya yang dinyalakan di Alun-Alun Tegalkalong ini tidak padam begitu saja. Ia ingin tempat ini menjadi lebih dari sekadar ruang terbuka hijau—tapi juga sebagai pusat edukasi, ekonomi, silaturahmi, dan tentunya budaya.

“Alun-Alun ini bisa menjadi tempat berkumpul yang berdampak positif, bukan cuma tempat nongkrong. Ini bisa meningkatkan indeks kebahagiaan warga. Saya harap, kegiatan seperti ini bisa ditiru di kecamatan lain,” tuturnya penuh harap.

 

Dari Masa Lalu untuk Masa Depan

Hari itu, di bawah sinar matahari sore dan angin yang mengibarkan kain batik di tenda-tenda pameran, Sumedang seolah mengirim pesan: bahwa akar budaya tak boleh putus, dan masa lalu adalah bagian penting dari masa depan.

Anak-anak yang tertawa sambil bermain congklak, orang tua yang tersenyum melihat kembali mainan masa kecil mereka, hingga pemuda yang ikut mengenakan pangsi dan iket kepala—semua menjadi saksi bahwa budaya masih hidup, selama ada yang peduli dan melestarikannya.

 

#SumedangNgaguarBudaya #GelarBudayaTegalkalong #KaulinanBarudak #BudayaSundaHirupKembali

Editor

Recent Posts

Rangkaian HUT Jakarta ke-499 Diluncurkan di CFD Rasuna Said

SATUJABAR, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi memulai rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun…

4 jam ago

Egrang Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Ruang Digital

SATUJABAR, JAKARTA - Egrang – permainan tradisional - dinilai semakin relevan di tengah tingginya intensitas…

5 jam ago

Rizki Juniansyah Sabet Best of the Best NOC Indonesia Award

Rizki Juniansyah sebagai penerima Best of the Best menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi besar…

5 jam ago

Garuda Academy Year II Resmi Dibuka, Dongkrak Industri Sepak Bola

SATUJABAR, JAKARTA - Garuda Academy kembali digelar. PSSI kembali membuka pendaftaran Garuda Academy Scholarship Program…

5 jam ago

Jadwal ASEAN U-19 Boys Bank Sumut Championship 2026

SATUJABAR, JAKARTA – Jadwal ASEAN U-19 menegaskan pertaruhan Indonesia sebagai tuan rumah. Seperti dikabarkan laman…

5 jam ago

Bogorun 2026 Sukses Besar

SATUJABAR, BABAKAN MADANG — Bogorun 2026 sukses besar dengan ribuan pesertanya. Bupati Bogor Rudy Susmanto…

5 jam ago

This website uses cookies.