Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan Panen Raya Padi Organik hasil demplot pupuk cair Biovina di Desa Margajaya, Kecamatan Tanjungsari, Jumat (18/4/2025).(Foto: Humas Pemkab Sumedang)
SATUJABAR, SUMEDANG – Fenomena El Niño merupakan anomali iklim global yang berdampak pada perubahan pola curah hujan di Indonesia. Kondisi ini umumnya menyebabkan penurunan curah hujan, sehingga memicu musim kemarau lebih panjang serta meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada periode April hingga Mei 2026 secara bertahap. Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026.
Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang menggelar rapat koordinasi (Rakor) untuk membahas mitigasi dampak fenomena El Niño terhadap sektor pertanian. Rapat tersebut dilaksanakan di Aula Tampomas Setda, Selasa (1/4/2026), sebagai langkah antisipatif menghadapi perubahan iklim yang diprediksi terjadi tahun ini dan berpotensi memengaruhi produksi pertanian daerah.
Khusus di Kabupaten Sumedang, dampak El Niño diprediksi mulai terasa pada bulan Mei dengan potensi puncak kekeringan sekitar Agustus. Oleh karena itu, Pemda Sumedang menilai perlu dilakukan langkah mitigasi sejak dini agar dampak terhadap sektor pertanian dapat diminimalisir.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, saat memimpin rapat menekankan pentingnya strategi manajemen air sebagai langkah utama menghadapi potensi kekeringan. Ia menginstruksikan agar seluruh pihak terkait memanfaatkan sisa musim hujan untuk menyimpan cadangan air. “Mumpung ini masih musim hujan, harus banyak menyimpan air, contohnya di danau, embung, bendung, dan sebagainya. Dinas Pertanian, PUTR, dan BBWS harus mempersiapkan hal ini,” ujarnya seperti dikabarkan Humas Pemkab Sumedang.
Selain itu, Bupati juga meminta agar irigasi yang rusak segera diperbaiki serta bendung yang ada difungsikan secara optimal guna memastikan pasokan air tetap mengalir ke lahan pertanian. Ia juga menekankan percepatan pelaksanaan pembangunan irigasi yang telah dianggarkan dalam APBD. “Kemudian irigasi yang sudah dianggarkan di APBD agar secepatnya dieksekusi. Dinas Pertanian juga harus memetakan jumlah mesin pompa air yang dimiliki serta memastikan ketersediaan BBM,” tuturnya.
Lebih lanjut, Bupati menambahkan bahwa camat di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang diminta untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penguatan ketahanan pangan keluarga. Salah satunya melalui pengaktifan kembali program Teras Hejo. “Program Teras Hejo agar dihidupkan kembali dari sekarang. Dengan menanam sayur-sayuran di depan rumah, tentu dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga,” tambahnya.
Melalui langkah-langkah tersebut, Pemda Sumedang berharap dampak El Niño terhadap sektor pertanian dapat ditekan, sekaligus menjaga stabilitas ketahanan pangan masyarakat.
SATUJABAR, BANDUNG - Bintang muda sepak bola Spanyol, Lamine Yamal, mengecam nyanyian suporter yang bernuansa…
SATUJABAR, JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengimbau perusahaan swasta, badan usaha milik negara (BUMN),…
SATUJABAR, JAKARTA - Pemerintah Republik Indonesia, melalui Wakil Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) -…
SATUJABAR, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menyebutkan NTP Jawa Barat pada bulan…
SATUJABAR, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menyebutkan pada Februari 2026 volume penumpang…
SATUJABAR, BANDUNG - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang Kawasan yang berada pada jarak 129…
This website uses cookies.