SATUJABAR, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis sebagai alternatif sumber gula sekaligus upaya meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan sorgum dipilih sebagai sumber alternatif karena berpotensi besar sebagai bahan baku pangan dan energi, meski selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi lebih fleksibel pemanfaatannya. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan,” ujar Sandi saat diwawancarai Tim Humas BRIN, Rabu (8/4/2029) dilansir laman BRIN.
Teknologi Terintegrasi
Ia menambahkan, meskipun kandungan gula sorgum lebih rendah dibandingkan tebu, yakni sekitar 11–15 persen, tanaman ini tetap menjanjikan sebagai sumber gula alternatif, terutama untuk skala petani dan usaha kecil.
Pengolahan gula semut dari sorgum dilakukan melalui serangkaian mesin yang dirancang terintegrasi. Proses dimulai dari pemerasan batang hingga menjadi produk akhir berupa gula semut.
Tahap pertama menggunakan mesin roller press untuk mengekstraksi nira dari batang sorgum. Dari sekitar 100 kilogram batang, rata-rata dihasilkan hingga 20 liter nira, tergantung kondisi tanaman dan lingkungan.
Selanjutnya, nira diolah melalui dua pendekatan berbeda, yaitu menggunakan mesin vacuum evaporator dan open pan cooker. Vacuum evaporator bekerja dalam sistem tertutup dengan suhu lebih rendah, sekitar 60–70 derajat celsius, sehingga menghasilkan gula cair sorgum atau sirup.
Sementara itu, open pan cooker digunakan untuk menghasilkan gula semut. Proses ini berlangsung pada suhu lebih tinggi, sekitar 90-100 derajat celsius, dengan waktu pemasakan lebih lama agar kadar air berkurang mencapai 5–6 persen dan terbentuk kristal gula.
“Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam, tergantung kandungan gula awalnya,” jelas Sandi.
Setelah proses pemasakan, gula yang masih menggumpal dikeringkan kembali menggunakan oven dehydrator untuk menurunkan kadar air. Tahap akhir dilakukan dengan mesin penghancur (crusher) untuk menghasilkan butiran gula semut yang siap dikemas.

Lebih efisien dan higienis
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah efisiensi energi. Jika produksi gula tradisional umumnya menggunakan kayu bakar, teknologi BRIN memanfaatkan gas sebagai sumber panas yang dinilai lebih hemat dan mudah dikontrol.
“Kalau dibandingkan, penggunaan gas lebih efisien secara biaya dan lebih stabil dalam proses,” kata Sandi.
Selain itu, seluruh peralatan dirancang menggunakan material stainless steel tipe food grade, sehingga lebih higienis dan memenuhi standar keamanan pangan. Hal ini menjadi nilai tambah dibandingkan alat tradisional yang umumnya masih menggunakan bahan non-food grade.
Desain alat juga dibuat modular dan mudah dipindahkan, sehingga cocok untuk skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan kapasitas maksimal sekitar 30 liter nira per proses, teknologi ini dinilai ideal untuk kelompok tani atau pelaku usaha kecil di daerah.
Sejak dikembangkan, teknologi ini telah mulai dimanfaatkan melalui kerja sama dengan mitra riset dan industri. Salah satunya adalah Sorghum Center Indonesia (SCI) yang menjadi lokasi uji coba dan pengembangan lebih lanjut.
Untuk aspek hilirisasi, beberapa komponen teknologi seperti mesin open pan cooker telah dilisensikan kepada industri, yakni CV Sentosa Teknik, sementara teknologi lainnya masih dalam proses lisensi.
“Tujuannya agar teknologi ini tidak berhenti di riset, tapi benar-benar bisa digunakan oleh masyarakat dan industri,” ujar Sandi.
Meski teknologi pengolahan sudah tersedia, Sandi menekankan tantangan utama justru berada pada aspek hulu, yakni keberlanjutan budidaya tanaman sorgum. Menurutnya, minat petani masih dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama perbandingan harga dengan komoditas lain seperti jagung atau padi.
“Kalau harga jual belum kompetitif, petani akan berpikir ulang untuk menanam sorgum. Padahal dari sisi waktu panen, sebenarnya sama, sekitar tiga bulan,” jelasnya.
Selain itu, skala lahan dan kebutuhan modal juga menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan produksi.
Sandi berharap, dengan adanya teknologi pengolahan yang mampu meningkatkan nilai tambah, minat petani terhadap sorgum dapat meningkat, sehingga tercipta ekosistem produksi yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir. “Kalau bahan bakunya tersedia dan industrinya jalan, maka rantai nilai sorgum ini bisa berkembang,” kata Sandi.







