Berita

Hilirisasi Ubi Kayu Picu Sumber Pendapatan Baru & Pangan Berkelanjutan

SATUJABAR, JAKARTA – Ubi kayu dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber pangan alternatif dan bahan baku industri. Namun, hingga kini pemanfaatannya belum optimal akibat rendahnya produktivitas, lemahnya posisi tawar petani, serta minimnya inovasi teknologi budidaya.

Hal tersebut disampaikan oleh Robert Asnawi dalam orasi ilmiahnya sebagai Profesor Riset Ilmu Ekonomi Pertanian, Bidang Agribisnis, Kepakaran Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Selasa (31/3/2026). Orasi ilmiahnya berjudul Transformasi Agribisnis Ubi Kayu sebagai Sumber Pendapatan dan Pangan Alternatif Berkelanjutan.

Robert menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen hasil ubi kayu di Indonesia masih dijual dalam bentuk segar. Akibatnya, nilai tambah yang diterima petani sangat terbatas, sementara harga di tingkat petani relatif rendah dan fluktuatif.

“Kondisi ini menyebabkan kesejahteraan petani tetap rendah. Dari sisi kelembagaan, kemitraan antara petani dan industri pengolahan belum terbangun secara luas. Posisi tawar petani masih lemah, data produksi belum terintegrasi dengan baik, dan kebijakan yang ada belum sepenuhnya berpihak pada pengembangan komoditas ini,” ujarnya seperti dilansir laman BRIN.

Terkait produktivitas, Robert mengatakan bahwa saat ini hanya rata-rata sekitar 26 ton per hektar. Padahal, ia menjelaskan, potensinya bisa mencapai 50 hingga 60 ton per hektar. Dalam kurun waktu 2020 hingga 2024, peningkatan produksi nasional juga dinilai relatif stagnan. Di sisi lain, impor produk turunan masih terjadi setiap tahun, menunjukkan potensi domestik yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Padahal, Robert menegaskan, saat ini terjadi tren penurunan konsumsi beras dan meningkatnya kebutuhan pangan alternatif. “Hal tersebut, seharusnya mengakibatkan ubi kayu memiliki peluang besar untuk menjadi substitusi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

 

Proses Perkembangan

Ia memaparkan, secara historis, perkembangan ubi kayu di Indonesia terbagi dalam tiga fase, yakni fase tradisional sebelum 1995, fase transisi menuju sistem semi-komersial, dan fase modern sejak 2010. Meski demikian, peningkatan produktivitas pada fase modern dinilai belum mencapai potensi optimal.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, ia mengatakan bahwa diperlukan transformasi menyeluruh. Beberapa langkah strategis yang diusulkan meliputi peningkatan produktivitas melalui inovasi teknologi budidaya, penetapan harga berbasis kualitas secara transparan, serta penguatan kemitraan inklusif antara petani dan industri. Selain itu, penerapan sistem tanam yang lebih efisien juga dinilai mampu meningkatkan hasil panen hingga lebih dari dua kali lipat. Petani juga dapat memanfaatkan lahan dengan sistem tumpang sari, seperti menanam jagung atau kedelai, guna menambah pendapatan dan mengurangi risiko.

Model kemitraan inklusif menjadi kunci penting dalam transformasi ini. Industri tidak hanya berperan sebagai pembeli, tetapi juga sebagai mitra yang mendukung penyediaan bibit, sarana produksi, hingga pendampingan teknis. Peran pemerintah daerah, lembaga riset seperti BRIN, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya juga dinilai krusial dalam penyusunan kebijakan, pengawasan, dan edukasi.

Robert mengatakan, di masa depan, pengembangan ubi kayu diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi produk, penguatan kelembagaan petani, serta pembangunan sistem distribusi yang lebih inklusif. “Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut aspek ekonomi, sosial, dan kelembagaan,” ujarnya.

Ia berharap, dengan potensi yang besar tersebut, ubi kayu dapat menjadi komoditas strategis nasional. Komoditas tersebut tidak hanya sebagai sumber pangan alternatif, tetapi juga sebagai penopang ekonomi petani yang lebih adil dan berkelanjutan.

Editor

Recent Posts

Harga Emas Minggu 17/5/2026 Antam Rp 2.769.000 Per Gram

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Minggu 17/5/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang…

35 menit ago

Makanan Haji Siap Santap Cita Rasa Nusantara Aman untuk Puncak Haji

SATUJABAR, MAKKAH – Makanan haji siap santap cita rasa Nuasantara sudah dalam kondisi aman produksi…

40 menit ago

Cadangan Beras Tembus 5,3 Juta Ton, Ungkap Mensesneg

SATUJABAR, JAKARTA – Cadangan beras pemerintah mencapai 5,3 juta ton di gudang Bulog. Menurut Menteri…

49 menit ago

Turnamen Tinju Antar Pelajar Diapresiasi Wamenpora Taufik

SATUJABAR, JAKARTA – Turnamen Tinju Antar Pelajar diapresiasi Wamenpora atau Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga…

2 jam ago

Pengurus Federasi Arung Jeram Indonesia 2026-2030 Dilantik

SATUJABAR, JAKARTA - Pengurus Federasi Arung Jeram Indonesia 2026-2030 dilantik oleh Ketua Umum Komite  Olahraga…

2 jam ago

Joging Trek Hadir di Lapang Bola Cikeruh Sumedang

SATUJABAR, SUMEDANG – Joging trek sepanjang 360 meter sedang dibangun di pinggir Lapang Sepakbola Desa…

7 jam ago

This website uses cookies.