BANDUNG – Film dokumenter pendek asal Indonesia berjudul Mama Jo, karya sutradara Ineu Rahmawati, meraih penghargaan bergengsi Best Short Documentary dalam ajang Golden FEMI Film Festival yang digelar di Hotel Balkan Palace, Sofia, Bulgaria.
Penghargaan tersebut diterima oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sofia, Irvan Fachrizal, mewakili sang sutradara yang berhalangan hadir. Festival tahun ini turut dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Bulgaria Iliana Iotova, jajaran dewan juri, para sineas, dan tamu undangan dari berbagai negara.
Dalam sambutan yang disampaikan secara resmi, Ineu Rahmawati mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada panitia, dewan juri, serta penonton atas apresiasi terhadap karyanya. Meski tidak hadir langsung karena kendala logistik, Ineu mengirimkan salam hangat dari Indonesia.
Mama Jo mengangkat kisah menyentuh tentang Santi, seorang ibu tangguh, dan putranya Johan, seorang anak berusia 9 tahun yang hidup dengan cerebral palsy. Lewat film ini, Ineu menyuarakan perjuangan keluarga penyandang disabilitas, sekaligus menyoroti pentingnya inklusi, akses, dan martabat sebagai hak universal.
“Film ini adalah pengingat bahwa inklusi, akses, dan martabat adalah hak universal yang harus kita junjung bersama,” disampaikan dalam pidato penerimaan penghargaan dikutip situs Kemlu.
Pemerintah Indonesia sendiri terus memperkuat komitmennya terhadap pemenuhan hak-hak anak penyandang disabilitas melalui kebijakan inklusif di bidang pendidikan, kesehatan, dan dukungan sosial.
Keberhasilan Mama Jo di panggung internasional menambah deretan prestasi dunia perfilman Indonesia yang terus berkembang. Sepanjang 2024, jumlah penonton film nasional tercatat mencapai 68,95 juta, tertinggi dalam sejarah perfilman Tanah Air. Saat ini terdapat 2.088 layar bioskop di seluruh Indonesia, dan 60% di antaranya dipenuhi oleh penonton film lokal.
Capaian ini menandai kebangkitan cerita-cerita orisinal dan film-film yang menyuarakan kemanusiaan. Analis industri memproyeksikan pertumbuhan industri film Indonesia sebesar 20% hingga 2027, terutama di genre dokumenter, animasi, dan kisah-kisah autentik yang tengah naik daun di kawasan Asia-Pasifik.
“Mulai dari narasi fiksi hingga dokumenter yang menyuarakan kesadaran sosial seperti Mama Jo, sineas Indonesia menunjukkan keberanian menyuarakan yang tak terlihat dan menggugah empati lintas budaya,” ungkap KBRI Sofia dalam pernyataannya.
Sebagai lanjutan dari apresiasi tersebut, Mama Jo direncanakan akan diputar di klub film Universitas Sofia dalam waktu dekat.
KBRI Sofia, mewakili sutradara dan komunitas film Indonesia, menyampaikan apresiasi kepada Golden FEMI Film Festival atas penghargaan ini, serta berharap momentum ini dapat membuka jalan bagi kolaborasi internasional yang lebih luas di dunia perfilman.