Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria.(Foto: Humas BRIN)
Mencetak peraih Nobel membutuhkan proses panjang yang ditopang oleh passion kuat di bidang riset. Menurutnya, periset unggul tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga imajinasi, kreativitas, serta daya juang yang tinggi.
SATUJABAR, JAKARTA – Talenta riset unggul Indonesia harus dipersiapkan sejak dini agar mampu bersaing di tingkat global, bahkan mampu meraih Nobel.
Demikian dikatakan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, dalam kegiatan Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize bertajuk “BRIN Menjemput Talenta Riset: Dari Sekolah hingga Panggung Dunia”, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (20/4).
Arif menyatakan komitmen BRIN dalam menyiapkan talenta riset unggul sejak dini hingga mampu bersaing di tingkat global, bahkan menargetkan lahirnya peraih Nobel dari Indonesia.
Menurutnya, mencetak peraih Nobel membutuhkan proses panjang yang ditopang oleh passion kuat di bidang riset. Menurutnya, periset unggul tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga imajinasi, kreativitas, serta daya juang yang tinggi.
“Periset yang hebat adalah mereka yang memiliki imajinasi kuat, kreativitas tinggi, dan ketahanan luar biasa. Untuk mencapai level Nobel, dibutuhkan waktu panjang, bahkan bisa 40 sampai 50 tahun,” ujarnya.
Ia mencontohkan ilmuwan Susumu Kitagawa yang menekuni risetnya hingga 40–50 tahun sebelum mencapai Nobel Kimia 2025.
Untuk itu, BRIN melalui berbagai program strategis terus mengidentifikasi dan mengembangkan talenta unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Program seperti magang mahasiswa dan postdoctoral dinilai efektif menarik minat generasi muda untuk berkarier sebagai peneliti.
“Sekarang semakin banyak anak muda yang bercita-cita menjadi peneliti dan ingin bekerja di BRIN. Ini menunjukkan program yang kita jalankan cukup berhasil menarik talenta-talenta terbaik,” kata Arif.
Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menyampaikan BRIN diamanatkan untuk mengoordinasikan Manajemen Talenta Nasional bidang riset dan inovasi berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024.
Menurutnya, pengembangan talenta riset dilakukan secara sistematis, komprehensif, dan berkesinambungan karena riset membutuhkan waktu panjang. Oleh karena itu, BRIN bersama kementerian lain juga mendorong keterlibatan talenta sejak usia dini hingga menjadi talenta unggul di masa depan.
“Bagaimana meng-engage talenta sejak muda, sejak dini, sejak siswa, ini merupakan langkah kita menuju ke Nobel Prize,” katanya.
Ia menekankan penguatan ekosistem riset tidak hanya melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM), tetapi juga melalui dukungan pendanaan riset dan infrastruktur. “Pendanaan yang terkait dengan pengembangan SDM, risetnya, dan infrastrukturnya, itulah yang menjadikan sebuah ekosistem riset,” ucapnya.
SATUJABAR, BANDUNG – China Open 2026 digelar pada 21 hingga 26 Juli 2026. Turnamen papan…
SATUJABAR, JAKARTA - Indonesia memasuki ekosistem hidrogen dengan kehadiran armada bus diesel yang dimodifikasi serta…
Bridgestone Indonesia menghadapi tantangan ekspor ke Uni Eropa akibat penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR).…
SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan klarifikasi resmi sekaligus mengambil langkah cepat responsif menanggapi…
SATUJABAR, CIAMIS--Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap seorang pria di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.…
Air Danau Toba susut menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akibat faktor yang berbeda-beda…
This website uses cookies.