Berita

BRIN: Bioplastik Solusi Krisis Plastik

Plastik konvensional bergantung pada bahan baku fosil sehingga rentan terhadap fluktuasi harga energi dunia. Sebagai solusi, BRIN mengembangkan bioplastic pellet, yaitu bahan baku plastik berbasis biomassa dari sumber terbarukan seperti sagu, jagung, dan limbah lignoselulosa.

SATUJABAR, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan material berkelanjutan melalui riset bioplastik berbasis biomassa. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif plastik konvensional yang ramah lingkungan, siap digunakan dalam skala industri, serta mendukung kemandirian bahan baku nasional di tengah dinamika krisis energi global.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN sekaligus inventor bioplastik, Yeyen Nurhamiyah, memaparkan perkembangan riset bioplastik sebagai alternatif plastik konvensional. Ia menyebutkan, harga plastik konvensional meningkat akibat ketergantungan pada minyak bumi dan dinamika krisis energi global.

Menurut Yeyen, plastik konvensional bergantung pada bahan baku fosil sehingga rentan terhadap fluktuasi harga energi dunia. Sebagai solusi, BRIN mengembangkan bioplastic pellet, yaitu bahan baku plastik berbasis biomassa dari sumber terbarukan seperti sagu, jagung, dan limbah lignoselulosa.

“Bioplastik yang kami kembangkan tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dirancang untuk siap digunakan dalam skala industri,” ujar Yeyen, dalam Webinar Product Knowledge #3 bertajuk “Bioplastik untuk Produk Cetak”, Jumat (17/4) seperti dilansir laman BRIN.

Material tersebut dapat diproses menggunakan teknologi industri seperti injection moulding dan extrusion, serta memiliki sifat mekanik yang kompetitif untuk berbagai aplikasi produk cetak. Selain itu, bioplastik yang dikembangkan bersifat 100 persen biodegradable sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah plastik. Pemanfaatan biomassa lokal juga memberi nilai tambah dalam mendukung ketahanan bahan baku nasional.

Kepala Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Akbar Hanif Dawam A., menekankan pentingnya inovasi material berbasis sumber daya terbarukan untuk menjawab tantangan global, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.

Diskusi juga menyoroti peluang pengembangan bioplastik, termasuk potensi kolaborasi dengan industri dalam pemanfaatan limbah biomassa menjadi produk bernilai tambah. Hal ini sejalan dengan tren global penggunaan material ramah lingkungan serta kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.

Editor

Recent Posts

BMKG: Dentuman di Bandung Bukan dari Gempa Bumi

BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Bandung memastikan bahwa fenomena…

2 jam ago

Harga Emas Sabtu 5/9/2026 Antam Rp 2.640.000 Per Gram

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Sabtu 5/9/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang…

3 jam ago

China Masters 2026: An Se Young Jumpa Tomoka Miyazaki di Final

SHENZHEN — China Masters 2026 atau LI-NING China Masters 2026 berlangsung mulai 1 hingga 6…

4 jam ago

Indonesia Sports Summit 2026, Lompatan Kuantum Olahraga Indonesia

Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 menghadirkan para pemimpin nasional dan global untuk membicarakan arah masa…

4 jam ago

Menpora Dorong Pencak Silat Jadi Platform Global

JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir menghadiri Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus…

4 jam ago

Asian Games 2026: Misi Putri KW Berdiri di Podium

JAKARTA - Atlet bulu tangkis tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani mengungkapkan kesiapan diri dan…

4 jam ago

This website uses cookies.