• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Senin, 19 Oktober 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Kata BRIN, Bioflok Hemat Pakan Ikan Nila Hingga 84,03 Persen

Editor
Senin, 19 Oktober 2026 - 09:46
Image: BRIN

Image: BRIN

CIBINONG – Meningkatkan produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) tidak cukup hanya dengan menambah jumlah benih atau memperluas kolam. Pemilihan teknologi budidaya, efisiensi pakan, dan pengelolaan kualitas air turut menentukan keberhasilan usaha. Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa sistem bioflok memiliki keunggulan dalam efisiensi pemanfaatan pakan, sementara kolam intensif dan bioflok sama-sama menunjukkan produktivitas biomassa yang tinggi. Temuan tersebut dipaparkan Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Estu Nugroho, dalam webinar AquaTalk #12 bertema “Menuju Budidaya Ikan Nila Skala Industri untuk Kemandirian Pangan Nasional”, pada Rabu (14/10).

Dalam paparannya yang berjudul “Evaluasi Produktivitas dan Nilai Ekonomi dalam Budidaya Ikan Nila: Analisis Komparatif Sistem Kolam Intensif, Keramba Jaring Apung, dan Bioflok”, Estu membandingkan kinerja tiga sistem budidaya ikan nila berdasarkan data dari unit produksi komersial. Kajian tersebut, kata Estu, menilai sejumlah indikator, meliputi tingkat kelangsungan hidup ikan (survival rate), efisiensi pakan, pertumbuhan harian, produktivitas biomassa, serta aspek ekonomi. “Indikator ekonomi yang dianalisis mencakup biaya produksi, rasio penerimaan terhadap biaya (revenue-cost ratio atau R/C ratio), tingkat pengembalian investasi (return on investment atau ROI), titik impas (break-even point atau BEP), dan periode pengembalian modal,” tambahnya seperti dikutip laman BRIN.

RelatedPosts

Trade Expo Indonesia 2026 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Potensi Transaksi Capai USD 22,94 Miliar

BMKG Raih Anugerah PERHUMAS

Presiden Prabowo Sambut Hangat Sekjen PBB di Hambalang

Selanjutnya, Estu menjelaskan pendekatan berbasis data produksi komersial penting untuk menggambarkan kondisi budidaya secara nyata. Berbeda dengan penelitian eksperimental yang umumnya dilakukan dalam kondisi terkontrol, menurutnya, pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami keterkaitan antara karakteristik kolam, praktik pengelolaan, dan kinerja biologis ikan dalam kegiatan produksi. “Hasil kajian terhadap unit produksi komersial menunjukkan bahwa sistem kolam intensif dan bioflok memiliki keunggulan dalam produktivitas biomassa, sementara bioflok lebih unggul dari sisi efisiensi pakan dan indikator ekonomi,” ungkap Estu.

Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan pada sistem kolam intensif dan bioflok lebih tinggi dibandingkan keramba jaring apung. Adapun bioflok mencatat nilai efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 84,03 persen. Meski demikian, kata Estu, setiap sistem memiliki karakteristik dan kebutuhan pengelolaan yang berbeda. Estu menerangkan bahwa produktivitas tinggi pada sistem kolam intensif dan bioflok perlu didukung pengelolaan oksigen dan limbah secara ketat. Sementara itu, keramba jaring apung lebih bergantung pada kondisi perairan eksternal dan daya dukung lingkungan.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, Estu menyarankan, kolam intensif dapat menjadi pilihan bagi pembudidaya yang berorientasi pada produksi biomassa tinggi dan operasional berskala besar. Sedangkan sistem bioflok berpotensi menjadi alternatif bagi pembudidaya yang mengutamakan efisiensi pakan dan kinerja ekonomi. Adapun keramba jaring apung, kata Estu, menawarkan operasional yang relatif sederhana, meskipun produktivitas dan profitabilitasnya dalam kajian ini lebih rendah dibandingkan dua sistem lainnya.

Estu menegaskan bahwa tidak ada satu teknologi budidaya yang dapat dipilih tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi usaha. Pemilihan sistem perlu disesuaikan dengan tujuan produksi, ketersediaan modal, kapasitas pengelolaan, serta kondisi lingkungan agar kegiatan budidaya dapat berjalan produktif dan berkelanjutan. “Kajian ini menegaskan pentingnya riset berbasis data produksi komersial sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan di sektor akuakultur. Pemilihan teknologi budidaya perlu disesuaikan dengan tujuan produksi, ketersediaan modal, kapasitas pengelolaan, serta kondisi lingkungan agar kegiatan budidaya ikan nila dapat berlangsung secara produktif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Menjembatani Riset dan Kebutuhan Industri

Sebelumnya, Peneliti PRBAT BRIN Huria Marnis, mewakili Kepala PRBAT BRIN, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan budidaya ikan nila menuju skala industri membutuhkan dukungan benih unggul, teknologi budidaya yang efisien, manajemen produksi yang baik, serta inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

Menurut Huria, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah menjembatani kesenjangan antara hasil riset dan penerapannya pada skala produksi komersial. Keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari jumlah publikasi atau teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana hasil tersebut dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak nyata bagi pembudidaya maupun dunia industri. Karena itu, dirinya menegaskan bahwa kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi penting untuk memperkuat pemanfaatan hasil riset di sektor akuakultur.

“PRBAT BRIN akan terus berkomitmen mendorong riset dan inovasi yang aplikatif, berkelanjutan, serta mampu menjawab kebutuhan nyata sektor akuakultur. Kami berharap webinar AquaTalk ini dapat memberikan manfaat, memperkuat sinergi antara riset dan industri, serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan budidaya ikan nila yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan guna mendukung kemandirian pangan nasional,” tegas Huria.

Webinar AquaTalk #12 juga menghadirkan Rita Limans, pemilik Cikandang Farm, Rumpin, Bogor, yang berbagi pengalaman melalui paparan “Success Story: Budidaya Ikan Nila Bioflok Skala Industri”. Sementara itu, Priyadi Setiawan, dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, memaparkan perkembangan riset dan penerapan metode pemuliaan ikan nila dengan fokus pada program pemuliaan berkelanjutan untuk menghasilkan induk unggul.

Tags: BiofolkBRINikan nila

Related Posts

Menteri Perdagangan Budi Santoso resmi menutup gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada Minggu, (18/10). Selama lima hari pelaksanaan, pameran dagang terbesar di Indonesia ini mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 22,94 miliar, atau 31,1 persen melampaui target USD 17,5 miliar.(Foto: Humas Kemendag)

Trade Expo Indonesia 2026 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Potensi Transaksi Capai USD 22,94 Miliar

Editor
19 Oktober 2026

TANGERANG - Menteri Perdagangan Budi Santoso resmi menutup gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada Minggu, (18/10). Selama lima hari...

(Foto: Humas BMKG)

BMKG Raih Anugerah PERHUMAS

Editor
19 Oktober 2026

SURAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meraih Anugerah PERHUMAS 2026 kategori Humas Pemerintah atas kontribusi dan profesionalitasnya dalam...

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan kerja Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) António Guterres di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, pada Minggu (18/10/2026).(Foto: BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Sambut Hangat Sekjen PBB di Hambalang

Editor
19 Oktober 2026

JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan kerja Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) António Guterres di kediaman...

Harga emas hari ini antam melambung tinggi, harga emas, harga emas hari ini

Harga Emas Senin 19/10/2026 Antam Rp 2.574.000 Per Gram

Editor
19 Oktober 2026

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Senin 19/10/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang dijual Rp 2.574.000 per gram...

Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Hengki saat memberikan keterangan pers di lokasi penggerebekan pabrik obat-obatan keras terbatas ilegal di kawasan Pergudangan Bizpark Kopo, Kota Bandung.(Foto:Istimewa).

Pabrik Obat Keras Ilegal Produksi 8 Juta Butir Per Hari di Bandung Digerebek Polisi

Editor
18 Oktober 2026

SATUJABAR, BANDUNG -- Tim Satresnarkoba Polrestabes Bandung, menggerebek pabrik memproduksi obat-obatan keras terbatas ilegal di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat....

Denmark Open

Denmark Open 2026: Fajar / Fikri Juara Ganda Putra, Kalahkan Wakil Malaysia

Editor
18 Oktober 2026

ODENSE – Denmark Open 2026 digelar 13-18 Oktober 2026 di SJF Bank Arena, Ørbækvej 350, Odense, Denmark. Kompetisi ini berhadiah...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.