CIBINONG – Meningkatkan produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) tidak cukup hanya dengan menambah jumlah benih atau memperluas kolam. Pemilihan teknologi budidaya, efisiensi pakan, dan pengelolaan kualitas air turut menentukan keberhasilan usaha. Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa sistem bioflok memiliki keunggulan dalam efisiensi pemanfaatan pakan, sementara kolam intensif dan bioflok sama-sama menunjukkan produktivitas biomassa yang tinggi. Temuan tersebut dipaparkan Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Estu Nugroho, dalam webinar AquaTalk #12 bertema “Menuju Budidaya Ikan Nila Skala Industri untuk Kemandirian Pangan Nasional”, pada Rabu (14/10).
Dalam paparannya yang berjudul “Evaluasi Produktivitas dan Nilai Ekonomi dalam Budidaya Ikan Nila: Analisis Komparatif Sistem Kolam Intensif, Keramba Jaring Apung, dan Bioflok”, Estu membandingkan kinerja tiga sistem budidaya ikan nila berdasarkan data dari unit produksi komersial. Kajian tersebut, kata Estu, menilai sejumlah indikator, meliputi tingkat kelangsungan hidup ikan (survival rate), efisiensi pakan, pertumbuhan harian, produktivitas biomassa, serta aspek ekonomi. “Indikator ekonomi yang dianalisis mencakup biaya produksi, rasio penerimaan terhadap biaya (revenue-cost ratio atau R/C ratio), tingkat pengembalian investasi (return on investment atau ROI), titik impas (break-even point atau BEP), dan periode pengembalian modal,” tambahnya seperti dikutip laman BRIN.
Selanjutnya, Estu menjelaskan pendekatan berbasis data produksi komersial penting untuk menggambarkan kondisi budidaya secara nyata. Berbeda dengan penelitian eksperimental yang umumnya dilakukan dalam kondisi terkontrol, menurutnya, pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami keterkaitan antara karakteristik kolam, praktik pengelolaan, dan kinerja biologis ikan dalam kegiatan produksi. “Hasil kajian terhadap unit produksi komersial menunjukkan bahwa sistem kolam intensif dan bioflok memiliki keunggulan dalam produktivitas biomassa, sementara bioflok lebih unggul dari sisi efisiensi pakan dan indikator ekonomi,” ungkap Estu.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan pada sistem kolam intensif dan bioflok lebih tinggi dibandingkan keramba jaring apung. Adapun bioflok mencatat nilai efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 84,03 persen. Meski demikian, kata Estu, setiap sistem memiliki karakteristik dan kebutuhan pengelolaan yang berbeda. Estu menerangkan bahwa produktivitas tinggi pada sistem kolam intensif dan bioflok perlu didukung pengelolaan oksigen dan limbah secara ketat. Sementara itu, keramba jaring apung lebih bergantung pada kondisi perairan eksternal dan daya dukung lingkungan.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, Estu menyarankan, kolam intensif dapat menjadi pilihan bagi pembudidaya yang berorientasi pada produksi biomassa tinggi dan operasional berskala besar. Sedangkan sistem bioflok berpotensi menjadi alternatif bagi pembudidaya yang mengutamakan efisiensi pakan dan kinerja ekonomi. Adapun keramba jaring apung, kata Estu, menawarkan operasional yang relatif sederhana, meskipun produktivitas dan profitabilitasnya dalam kajian ini lebih rendah dibandingkan dua sistem lainnya.
Estu menegaskan bahwa tidak ada satu teknologi budidaya yang dapat dipilih tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi usaha. Pemilihan sistem perlu disesuaikan dengan tujuan produksi, ketersediaan modal, kapasitas pengelolaan, serta kondisi lingkungan agar kegiatan budidaya dapat berjalan produktif dan berkelanjutan. “Kajian ini menegaskan pentingnya riset berbasis data produksi komersial sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan di sektor akuakultur. Pemilihan teknologi budidaya perlu disesuaikan dengan tujuan produksi, ketersediaan modal, kapasitas pengelolaan, serta kondisi lingkungan agar kegiatan budidaya ikan nila dapat berlangsung secara produktif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Menjembatani Riset dan Kebutuhan Industri
Sebelumnya, Peneliti PRBAT BRIN Huria Marnis, mewakili Kepala PRBAT BRIN, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan budidaya ikan nila menuju skala industri membutuhkan dukungan benih unggul, teknologi budidaya yang efisien, manajemen produksi yang baik, serta inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
Menurut Huria, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah menjembatani kesenjangan antara hasil riset dan penerapannya pada skala produksi komersial. Keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari jumlah publikasi atau teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana hasil tersebut dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak nyata bagi pembudidaya maupun dunia industri. Karena itu, dirinya menegaskan bahwa kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi penting untuk memperkuat pemanfaatan hasil riset di sektor akuakultur.
“PRBAT BRIN akan terus berkomitmen mendorong riset dan inovasi yang aplikatif, berkelanjutan, serta mampu menjawab kebutuhan nyata sektor akuakultur. Kami berharap webinar AquaTalk ini dapat memberikan manfaat, memperkuat sinergi antara riset dan industri, serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan budidaya ikan nila yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan guna mendukung kemandirian pangan nasional,” tegas Huria.
Webinar AquaTalk #12 juga menghadirkan Rita Limans, pemilik Cikandang Farm, Rumpin, Bogor, yang berbagi pengalaman melalui paparan “Success Story: Budidaya Ikan Nila Bioflok Skala Industri”. Sementara itu, Priyadi Setiawan, dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, memaparkan perkembangan riset dan penerapan metode pemuliaan ikan nila dengan fokus pada program pemuliaan berkelanjutan untuk menghasilkan induk unggul.







