• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Rabu, 14 Oktober 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Sejarah Kota Bandung Diungkap Bandung Heritage dalam Milestone Kota Bandung

Editor
Selasa, 13 Oktober 2026 - 05:18
Bandung Heritage menghadirkan pameran Milestone Kota Bandung di Microlibrary Asia Afrika pada 5–18 Oktober 2026 untuk memperkenalkan jejak sejarah dan tonggak penting perkembangan Kota Bandung kepada masyarakat.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Bandung Heritage menghadirkan pameran Milestone Kota Bandung di Microlibrary Asia Afrika pada 5–18 Oktober 2026 untuk memperkenalkan jejak sejarah dan tonggak penting perkembangan Kota Bandung kepada masyarakat.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

BANDUNG – Bandung Heritage menghadirkan pameran Milestone Kota Bandung di Microlibrary Asia Afrika pada 5–18 Oktober 2026 untuk memperkenalkan jejak sejarah dan tonggak penting perkembangan Kota Bandung kepada masyarakat.

Pameran ini secara khusus mengangkat sejarah perkembangan taman dan ruang terbuka hijau, sekaligus mengajak masyarakat memahami tantangan lingkungan perkotaan dari masa ke masa.

RelatedPosts

Yuk! Jajaki Fun Offroad di Sumedang

Musiconic 2026: Panggung Musik Indie Kota Bandung

9 Dari 10 Orang Depresi Belum Terjangkau Layanan Kesehatan

Ketua Bandung Heritage, Aji Bimarsono menjelaskan, pameran Milestone Kota Bandung merupakan tindak lanjut dari arahan Wali Kota Bandung agar jejak dan tonggak sejarah perkembangan kota semakin dikenal masyarakat.

“Nama Milestone Kota Bandung itu memang adalah arahan dari Pak Wali. Beliau ingin agar narasi mengenai jejak-jejak, tonggak-tonggak sejarah Kota Bandung itu semakin banyak tersosialisasikan kepada masyarakat,” kata Aji.

Pameran ini berupaya menerjemahkan arahan tersebut melalui penyajian informasi mengenai sejarah perkembangan Kota Bandung, khususnya terkait perjalanan pembangunan taman dan ruang terbuka hijau.

Materi pameran dibagi menjadi empat bagian. Dua bagian pertama membahas perkembangan Bandung pada masa kolonial, termasuk perpindahan pusat kota dan perubahan status administrasi menjadi gemeente atau kotamadya yang mendorong perkembangan sistem perencanaan dan pembangunan kota.

Bagian ketiga mengajak pengunjung merefleksikan kondisi Bandung saat ini, terutama tantangan akibat meningkatnya kepadatan penduduk dan berkurangnya ruang terbuka hijau.

Sementara itu, bagian keempat menampilkan pemikiran, penelitian, dan gagasan dari kalangan akademisi mengenai persoalan lingkungan, lanskap perkotaan, serta pengembangan ruang terbuka hijau.

Melalui rangkaian tersebut, pameran tidak hanya menyajikan catatan sejarah, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai pentingnya pelestarian warisan kota dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Salah seorang pengunjung, Agnes Soebakir mengaku mendapatkan pengalaman berbeda setelah mengikuti penjelasan mengenai materi pameran secara menyeluruh.

Menurutnya, pameran tersebut memberikan kesempatan untuk memahami kembali sejarah dan nilai penting yang terkandung dalam perkembangan Kota Bandung.

“Saya belum pernah melihat ini, lihat tapi acuh. Kalau hari ini benar-benar dijelasin dari awal sampai akhir,” ungkap Agnes.

Ia menilai, pelestarian sejarah dan lingkungan kota perlu menjadi perhatian bersama, termasuk dengan melibatkan generasi muda agar warisan yang ada tidak terabaikan.

“Kita sudah berumur, jadi kita harus menggerakkan generasi muda untuk melanjutkan apa yang ada pada saat ini. Itu tugas adik-adik semuanya. Jangan sampai ditinggalkan begitu saja,” tuturnya.

Agnes juga menyoroti pentingnya memperluas sosialisasi pameran agar dapat menjangkau lebih banyak kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Menurutnya, informasi mengenai kegiatan semacam ini perlu disebarluaskan secara lebih luas agar semakin banyak masyarakat mengetahui dan tertarik untuk berkunjung.

“Jadi untuk kita menyebarkan ini tuh harus lebih banyak lagi supaya mereka tahu, baik dari sekolah-sekolah, kampus ataupun masyarakat pada umumnya. Karena ini bukan hanya untuk anak sekolah atau anak mahasiswa, tapi masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Agnes menekankan pentingnya keberadaan dan perawatan pohon serta ruang hijau di perkotaan. Menurutnya, vegetasi yang terawat tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga berperan dalam menjaga ketersediaan air.

“Terutama untuk membangun pohon-pohon itu sangat penting, karena kalau ada pohon yang terawat rapi, bunga-bunga semua, itu juga bisa menyimpan air di bawahnya. Jadi kita tidak takut kekeringan. Tapi kalau itu tidak dirawat, selesai semuanya. Akan sulit mencari air,” katanya.

Sejak diresmikan pada hari Senin, pameran telah berlangsung selama enam hari berdasarkan keterangan penyelenggara. Sejumlah materi bahkan sudah dapat dilihat pengunjung sekitar satu minggu sebelum peresmian, meskipun saat itu penyajiannya belum sepenuhnya lengkap.

Ke depan, Bandung Heritage berencana meningkatkan kualitas penyajian pameran, mulai dari tampilan foto dan gambar, teknik pencetakan panel, hingga pemanfaatan teknologi digital agar informasi lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat.

Tags: bandung heritagesejarah kota bandung

Related Posts

Kabupaten Sumedang kini memiliki pilihan wisata baru melalui aktivitas jeep fun offroad yang menawarkan pengalaman menjelajahi keindahan alam dan destinasi wisata Sumedang.(Foto: Diskominfo Kab. Sumedang)

Yuk! Jajaki Fun Offroad di Sumedang

Editor
12 Oktober 2026

Kabupaten Sumedang kini memiliki pilihan wisata baru melalui aktivitas jeep fun offroad yang menawarkan pengalaman menjelajahi keindahan alam dan destinasi...

Musiconic 2026 Bandung.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Musiconic 2026: Panggung Musik Indie Kota Bandung

Editor
11 Oktober 2026

BANDUNG - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menyelenggarakan kegiatan Musiconic 2026 Bandung IndieMusic Appreciation (BIMA) di De Majestic,...

Depresi, sakit jiwa,gangguan jiwa

9 Dari 10 Orang Depresi Belum Terjangkau Layanan Kesehatan

Editor
10 Oktober 2026

Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi...

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif / Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar bersama Raphael Donny membahas dan menegaskan seni video mapping sebagai salah satu konten digital yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru ekonomi kreatif nasional. Jakarta, Rabu (7/10/2026).(Foto: Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.)

Wamen Ekraf Dorong Karya Video Mapping di WCCE 2026

Editor
9 Oktober 2026

JAKARTA - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif / Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menegaskan seni video mapping sebagai...

Macklemore menyanyikan "Can't Hold Us" secara ‘LIVE’ (Sumber: Facebook/Macklemore)

Rilis Tahun 2011, Lagu Macklemore “Can’t Hold Us” Melejit di Tangga Lagu Global

Editor
9 Oktober 2026

BANDUNG - Lagu populer Can't Hold Us karya Macklemore yang dirilis lebih dari satu dekade lalu kini kembali mengalami lonjakan...

Menu masakan Manika.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Rumah Makan Manika Hadirkan Pernak Pernik Suasana Rumahan

Editor
9 Oktober 2026

BANDUNG - Bagi sebagian orang, makanan bukan sekadar soal rasa tetapi juga tentang kenangan dan suasana rumah. Konsep itulah yang...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.