• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Senin, 12 Oktober 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf: Warisan Perjuangan Antikolonialisme dan Penyebaran Islam Lintas Benua

Editor
Minggu, 11 Oktober 2026 - 05:55
(Foto: Dok. Kemenbud)

(Foto: Dok. Kemenbud)

AMSTERDAM – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa warisan intelektual, spiritual, dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–1699) merupakan salah satu bukti penting kontribusi Nusantara terhadap peradaban dunia. Hal ini disampaikan dalam Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari di pusat kebudayaan Indonesia (Indonesia House Amsterdam/IHA), Amsterdam, Jumat (09/10/2026). Peringatan ini juga tercatat dalam komemorasi tokoh dan peristiwa bersejarah UNESCO periode 2026–2027.

Melalui rangkaian pameran, diskusi panel ahli, dan pemutaran film bagi publik di Belanda, Kementerian Kebudayaan mengangkat kembali perjalanan dan warisan Syekh Yusuf sebagai tokoh ulama besar, pemikir sufi, sekaligus pejuang antikolonial yang menghubungkan sejarah Indonesia, Belanda, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan.

RelatedPosts

‘Kaulinan Barudak’ Hadir Setiap Hari Minggu di PPS

Menelusuri Sejarah di Balik Sumpah Pemuda

Museum Bing Slamet Diresmikan, Menbud: Hidupkan Warisan Sang Maestro

Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menegaskan peringatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia, memperkenalkan kontribusi intelektual dan spiritual Syekh Yusuf kepada masyarakat internasional, memperdalam pemahaman terhadap sejarah—termasuk kolonialisme dan pengasingan, serta mendorong kolaborasi internasional dalam pelestarian warisan budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Menteri Kebudayaan juga menyoroti peran Nusantara sebagai pusat pertukaran pengetahuan dan peradaban sejak berabad-abad lalu. “Perjalanan Syekh Yusuf dari Gowa menuju berbagai pusat keilmuan di dunia Islam, hingga pengasingannya akibat perlawanan terhadap VOC, mencerminkan bagaimana gagasan dan nilai-nilai kemanusiaan dapat melampaui batas wilayah, kekuasaan, dan zaman,” ujar Menbud.

Jejak pemikiran Syekh Yusuf yang melintasi berbagai wilayah, menurut Menbud, menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah menghubungkan masyarakat lintas bangsa, jauh sebelum terbentuknya hubungan diplomatik modern. “Warisan Syekh Yusuf terus menghubungkan masyarakat dari berbagai bangsa dan generasi,” ujar Menbud Fadli Zon dikutip dari laman Kemenbud.

Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1626, Syekh Yusuf menempuh perjalanan intelektual melalui berbagai pusat keilmuan di Nusantara, India, hingga Timur Tengah. Selain dikenal sebagai ulama dan pemikir sufi, ia juga terlibat dalam perlawanan terhadap ekspansi VOC di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah ditangkap pada 1683, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon, kini Sri Lanka, pada 1684, sebelum kembali dipindahkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.

Menbud menyoroti bahwa pengasingan tersebut tidak menghentikan pengaruh intelektual dan spiritual Syekh Yusuf. “Di Afrika Selatan, ia terus mengajar dan berperan penting dalam membentuk komunitas Muslim awal yang terorganisasi, bahkan dikenal luas sebagai “Bapak Islam di Afrika Selatan” (Father of Islam in South Africa). Jejak pengaruhnya masih dapat ditemukan hingga kini, termasuk melalui situs kramat dan kawasan Macassar di dekat Cape Town yang dinamai berdasarkan daerah asalnya di Nusantara,” ujar Menbud.

“Perjalanan Syekh Yusuf juga merupakan kisah perlawanan, pengasingan, dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pengasingan tidak membungkam beliau. Sebaliknya, gagasan dan ajarannya terus hidup serta memberikan pengaruh bagi masyarakat lintas generasi,” jelas Menbud.

Penyelenggaraan peringatan di Belanda juga memiliki makna historis tersendiri, mengingat kaitan perjalanan Syekh Yusuf dengan sejarah kolonial Belanda di Nusantara. Menbud menegaskan pentingnya membuka dialog sebagai ruang untuk memperdalam kajian sejarah, membangun pemahaman bersama, dan memperkuat dialog kebudayaan antara Indonesia dan Belanda.

Pameran “Sacred Journey of Syekh Yusuf Al-Makassari” berlangsung pada 9–15 Oktober 2026 di Indonesia House Amsterdam. Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, Kementerian Kebudayaan juga menyelenggarakan seminar internasional secara hibrida bertajuk “Syekh Yusuf Al-Makassari: Collective Memories of Knowledge, Freedom, and Humanity Across the Indian Ocean”. Diskusi ini menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar, antara lain Prof. Martin van Bruinessen, Prof. Muhammed Haron, Prof. Oman Fathurahman, Dr. Mukhlis PaEni, dan Dr. Suryadi. Diskusi berfokus pada jaringan intelektual Syekh Yusuf, pemikiran spiritualnya, perlawanan terhadap kolonialisme, serta pembentukan memori kolektif yang menghubungkan masyarakat di kawasan Samudra Hindia.

Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa hubungan antar masyarakat sering kali telah terbentuk jauh sebelum hubungan diplomatik formal. Sejalan dengan upaya pelestarian warisan tersebut, Kementerian Kebudayaan juga tengah mengembangkan rencana pendirian Rumah Budaya Indonesia (RBI) dan Museum Syekh Yusuf di kawasan Macassar, Cape Town, Afrika Selatan.

“RBI dan Museum Syekh Yusuf ini diharapkan dapat menjadi pusat pelestarian sejarah, pendidikan, penelitian, serta penguatan hubungan kebudayaan Indonesia dengan masyarakat Afrika Selatan, termasuk komunitas Cape Malay, yang menurut Menteri Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie saat ini berjumah sekitar 2,7 juta orang,” ujar Menbud Fadli Zon.

Hadir untuk mendampingi Menteri Kebudayaan, yakni Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan, Mardisontori.

Menbud turut menekankan bahwa pemajuan kebudayaan Indonesia merupakan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945, yang menempatkan kebudayaan nasional dalam peradaban dunia. Upaya pelestarian manuskrip, pengembangan penelitian, serta kerja sama kebudayaan internasional menjadi bagian penting untuk memastikan warisan sejarah tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Melalui peringatan ini, kita berharap semakin banyak ruang dialog yang terbuka, pemahaman sejarah bersama semakin mendalam, serta hubungan kebudayaan dan masyarakat Indonesia–Belanda semakin kuat. Semoga peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari terus menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan, perjuangan kebebasan, dan nilai-nilai kemanusiaan lintas bangsa dan generasi,” pungkas Menbud Fadli Zon.

Sumber: Kementerian Kebudayaan

Tags: fadli zonSyekh Yusuf

Related Posts

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir beserta jajaran mencoba ‘kaulinan barudak’ di PPS, Minggu (11/10/2026).(Foto: Diskominfo Kab. Sumedang)

‘Kaulinan Barudak’ Hadir Setiap Hari Minggu di PPS

Editor
11 Oktober 2026

SUMEDANG - Warga Sumedang kini memiliki pilihan aktivitas rekreasi bersama keluarga setiap hari Minggu. Berbagai kaulinan barudak atau permainan tradisional...

Kongres Pemuda II yang menjadi salah satu scene terjadinya Sumpah Pemuda.(Foto: Wikipedia)

Menelusuri Sejarah di Balik Sumpah Pemuda

Editor
7 Oktober 2026

JAKARTA - Apa yang terjadi pada 28 Oktober 1928 hingga tanggal tersebut dikenang sebagai Hari Sumpah Pemuda? Peristiwa itu bermula...

Peresmian Museum Bing Slamet.(Foto/Dokumentasi: Kementerian Kebudayaan / Agung panji)

Museum Bing Slamet Diresmikan, Menbud: Hidupkan Warisan Sang Maestro

Editor
30 September 2026

JAKARTA - Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Museum Bing Slamet yang berlokasi di Jalan Arimbi No. 7, Tanah Tinggi,...

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bersama anggota MPR di Gedung Merdeka.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Peluncuran Buku Sejarah MPR di Gedung Merdeka Bandung

Editor
28 September 2026

BANDUNG - Gedung Merdeka, Kota Bandung, menjadi lokasi Peluncuran Buku Sejarah MPR dalam Mengawal Kedaulatan Rakyat serta Risalah Tematik Perubahan...

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon saat memberikan sambutan dalam acara Peresmian Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.(Foto: Humas Kemenbud)

Menbud Resmikan Perpustakaan Danantara Museum Nasional Indonesia

Editor
27 September 2026

JAKARTA - Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa hadirnya perpustakaan di Museum Nasional Indonesia merupakan dua elemen yang saling...

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menerima Piagam Penghargaan dari Keraton Sumedang Larang yang diserahkan Sri Radya Keraton Sumedang Larang Lukman Soemadisoeria di Museum Srimanganti, Kamis (24/9/2026).(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Keraton Sumedang Larang Beri Penghargaan ke Bupati

Editor
25 September 2026

Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas dedikasi serta perhatian dalam memberikan perlindungan hukum kepada Keraton Sumedang Larang, Bupati Sumedang  Dony...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.