JAKARTA – Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Daerah Pemilihan Jawa Barat (Jabar) Agita Nurfianti menyoroti upaya deteksi dan pengobatan tuberkulosis (TBC) yang masih menghadapi tantangan, khususnya dalam memastikan pasien terdeteksi dan menjalani pengobatan secara rutin, termasuk yang ia temui di daerah Jabar. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Kerja Komite III DPD RI dengan Kementerian Kesehatan RI, Selasa (6/10), di Kantor DPD RI, Senayan, Jakarta Pusat.
Agita mengatakan, angka pengidap TBC di Jawa Barat termasuk tinggi. Karena itu, ia mempertanyakan apakah pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dapat sekaligus mendeteksi masyarakat yang menderita TBC.
“Di Jawa Barat, angka pengidap TBC ini termasuk yang tinggi. Kemudian, dari CKG ini apakah bisa dideteksi pasien-pasien penderita TBC?” ujar Agita.
Selain persoalan deteksi, Agita juga menyoroti ketersediaan obat TBC dengan durasi pengobatan yang lebih singkat. Ia menyampaikan bahwa dirinya mengetahui adanya obat TBC yang disebut dapat digunakan dengan masa pengobatan hanya sekitar satu bulan, berbeda dengan pengobatan TBC yang selama ini membutuhkan waktu lebih panjang.
“Yang saya tahu ada pengobatan TBC yang lebih singkat, yaitu sekitar satu bulan saja, hal ini berbeda dengan pengobatan TBC yang biasanya memakan waktu sekitar enam bulan. Apakah obat tersebut sudah ada dan sudah beredar, atau seperti apa?” kata Agita.

Agita kemudian mempertanyakan apakah obat tersebut sudah tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas serta dapat diperoleh oleh pasien yang menggunakan BPJS Kesehatan.
“Jika sudah ada, apakah ini ada di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan juga apakah bisa didapatkan oleh pasien pengguna BPJS?” ujarnya.
Menurut Agita, ketersediaan pengobatan dengan durasi yang lebih singkat akan sangat membantu penanganan TBC, terutama karena pengobatan dalam jangka waktu panjang membutuhkan pengawasan dan pengendalian kepatuhan pasien.
“Ini kalau memang sudah ada dan sudah beredar, ini akan sangat membantu, karena pengobatan yang selama enam bulan itu butuh pengontrolannya yang agak sulit juga untuk di Jawa Barat ini, untuk mengontrol pasien-pasien TBC ini, untuk mau meminum obat atau mau berobat secara rutin,” kata Agita.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membenarkan bahwa pemerintah saat ini tengah mengembangkan pilihan pengobatan TBC, antara lain melalui suntikan sekali pemberian, yang durasi pengobatannya lebih singkat dibanding metode pengobatan sebelumnya. Namun, metode tersebut saat ini belum bisa beredar, dikarenakan masih dalam tahap uji klinis.
“Kemudian kita ada suntik sekali. Tapi itu sedang diuji klinis Bapak/Ibu. Mudah-mudahan kalau bisa jalan nanti bisa bagus ya,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Agita berharap penanganan TBC dapat terus diperkuat, mulai dari deteksi pasien hingga memastikan keberlanjutan pengobatan. Menurutnya, kemudahan akses terhadap pengobatan dan dukungan pembiayaan menjadi penting agar pasien dapat menjalani pengobatan secara rutin hingga tuntas.







