NAGOYA – Isak tangis haru dan raut bangga menyelimuti wajah pasangan ganda putri padel Indonesia, Fadona Kusumawati dan Fitriani Sabatini, usai memastikan raihan medali perak pada ajang Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Meski harus merelakan posisi puncak kepada ganda putri tuan rumah Jepang, Saki Tsukamoto/Kae Tokumoto, kedua atlet Tanah Air tersebut tetap memancarkan rasa syukur mendalam atas pencapaian bersejarah di panggung olahraga terbesar se-Asia tersebut.
Laga final yang berlangsung penuh tensi tinggi itu sempat memberikan angin segar bagi pasangan Indonesia. Fadona/Fitriani sempat mengendalikan jalannya permainan dan unggul jauh 4-1 pada set kedua. Namun, kebangkitan lawan membuat keunggulan tersebut sirna hingga laga berakhir dengan kekalahan.
Rasa emosional tak mampu dibendung Fitriani Sabatini saat mengingat momen-momen kritis di lapangan. Kesempatan emas yang berada di depan mata terpaksa lepas dari genggaman.
“Tadi kita emosional banget karena kita pikir kita bisa ambil set kedua, apalagi sudah pimpin 4-1, cuma akhirnya kalah. Jadi ya, agak sedikit sedih,” ujar Fitriani, Sabtu (3/10) seperti dikabarkan Humas Kemenpora.
Senada dengan sang partner, Fadona Kusumawati tak menampik sengitnya perjuangan di lapangan. Di tengah kepungan dukungan suporter tuan rumah, srikandi Merah Putih itu telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya.
Dia menyadari ketatnya jam terbang lawan yang sudah menekuni cabang olahraga ini selama hampir satu dekade, sementara Indonesia baru merintisnya dalam beberapa tahun terakhir.
“Kita mati-matian tadi di lapangan, cuman lawan memang lebih bagus banget. Pengalaman mereka sudah main 9 tahun padel, dan kita baru 2 tahun. Tapi kita bersyukur banget dan bangga pastinya,” ungkap Fadona.
Bagi Fadona, berdiri di podium Asian Games merupakan momentum yang sangat spesial. Apalagi, ini menjadi kali pertama cabang olahraga padel resmi dipertandingkan dalam pesta olahraga multievent tersebut.
“Ini pertama kali main Asian Games dan padel pertama kali ada di Asian Games, kita bisa langsung dapat perak. Sungguh bangga,” tambahnya.
Kegagalan meraih emas tak lantas memadamkan asa keduanya. Sebaliknya, medali perak ini menjadi pemantik api semangat untuk melangkah lebih jauh dan membalas kekalahan pada ajang berikutnya.
Fadona menegaskan bahwa fokus utama mereka ke depan adalah meningkatkan kualitas latihan dan menjaga ritme semangat bertanding.
“Yang pasti untuk ke depannya kita harus bisa latihan terus, semangat lebih dari sebelumnya, dan mau ngalahin lawan kita tadi di turnamen berikutnya,” tegas Fadona.
Komitmen serupa diutarakan Fitriani. Pengalaman berharga dari laga final Asian Games 2026 ini diakuinya menjadi pendorong utama untuk bekerja lebih keras lagi di arena latihan.
“Saya pun mau tambah giat latihannya, tambah sering ikut turnamen biar pengalaman makin banyak, dan tentunya pengen ngalahin mereka lagi,” pungkas Fitriani.







