JAKARTA – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menegaskan pentingnya menempatkan sektor ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru (the new engine of growth) bagi Indonesia. Terlebih dengan hadirnya Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) yang mencakup 21 subsektor, Wamenekraf mengatakan bahwa ekonomi kreatif menjadi fondasi strategis dalam mengoptimalkan potensi kreativitas dan Kekayaan Intelektual (KI) nasional.
“Ekonomi kreatif ini diharapkan menjadi tambang baru Indonesia. Indonesia juga memiliki banyak kekayaan intelektual dan paten yang potensinya ditunggu oleh dunia. Fokus kami adalah memasarkan, membuka sebanyak-banyaknya ruang dan tempat bagi orang untuk memamerkan karyanya. Kita berusaha menjodohkan pelaku kreatif dengan pasar, itu yang menjadi fokus kami,” ujar Wamenekraf saat menjadi narasumber dalam sesi Creative Biztalk pada gelaran Petranesian Business and Education Fair di Galaxy Mall 2, Surabaya, Minggu (20/9) yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 65 tahun Universitas Kristen (UK) Petra.
Lebih lanjut, Irene menjelaskan bahwa eksplorasi gagasan dalam proses kreatif membutuhkan kebebasan yang tetap berlandaskan pada etika dan moral. Di tengah percepatan teknologi dan dinamika ruang digital, pengembangan ekonomi kreatif harus berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan serta memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
“Menjadi kreatif adalah ketika kita memberikan diri kita kebebasan untuk melakukan apa pun tanpa terlalu memikirkan batasan. Namun, batasannya adalah etika dan moral: apakah ini sesuai dengan karakter kita? Di sanalah kita menjadi manusia sepenuhnya yang bisa berkreasi,” ujar Irene dikutip dari laman Ekraf.
“Menjadi kreatif adalah ketika kita memberikan diri kita kebebasan untuk melakukan apa pun tanpa terlalu memikirkan batasan. Namun, batasannya adalah etika dan moral: apakah ini sesuai dengan karakter kita? Di sanalah kita menjadi manusia sepenuhnya yang bisa berkreasi,” ujar Irene.
Irene turut menjelaskan tentang dampak dari ekonomi kreatif yang tidak semata-mata terkait estetika. Ia menekankan pentingnya kreativitas juga memiliki nilai tambah.
“Karya yang kita hasilkan bukan hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memberikan dampak yang efektif bagi orang lain, serta untuk memperkuatnya dengan give humanity a second chance and you will be surprised,” imbuh Irene.
Turut hadir dalam acara tersebut Rektor Universitas Kristen Petra, Prof. Rolly Intan; Ketua YPTK Petra, Hary Sudjoko Listijo; Wakil Bendahara, Lim Arif Alfian Nour; Sekretaris Pengawas YPTK Petra, Ajoe Kartika Mastaka; Direktur Office of Institutional Advancement, Meilinda; serta Ketua Panitia Rangkaian Acara Ulang Tahun UK Petra ke-65, Teddy Salim.







