KUNINGAN – Di tengah kondisi kemarau dan kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah, Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), alim ulama, tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan, pimpinan pondok pesantren, aparatur pemerintah, serta masyarakat melaksanakan Salat Istisqa di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Kuningan, Senin (21/9/2026).
Salat Istisqa dilaksanakan sebagai ikhtiar bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar Kabupaten Kuningan segera dianugerahi hujan yang membawa rahmat, keberkahan, dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. mengatakan, pelaksanaan Salat Istisqa tidak hanya menjadi momentum untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga menjadi ruang untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri.
“Hari ini kita hadir dalam rangka menyelenggarakan Salat Istisqa, permohonan hujan, dan untuk introspeksi. Kita hadir untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri karena dalam Salat Istisqa ini ada tuntutan untuk bertobat atas semua dosa, serta merupakan upaya menghentikan kezaliman yang merupakan bagian dari ikhtiar kita bersama,” ujar Bupati Dian dilansir laman Pemkab Kuningan.
Menurutnya, hujan merupakan rahmat bagi seluruh makhluk. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan agar hujan yang turun nantinya merupakan hujan yang bermanfaat dan membawa keberkahan tanpa menimbulkan bencana.
“Mari berdoa dengan khusyuk agar Allah SWT menurunkan hujan, hujan yang bermanfaat, hujan yang membawa keberkahan, dan tentu saja hujan yang tidak menimbulkan bencana,” ungkapnya.
Bupati Dian menegaskan, ikhtiar menghadapi kekeringan tidak boleh berhenti pada doa. Menurutnya, Salat Istisqa harus menjadi momentum untuk semakin meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan menjaga sumber daya air.
Ia mengajak masyarakat untuk menghemat penggunaan air, menjaga sungai dan mata air, serta menggalakkan penghijauan dan penanaman pohon.
“Istisqa ini jangan berhenti pada doa, tetapi harus diikuti ikhtiar menjaga lingkungan dan sumber daya air, hemat penggunaan air, menjaga sungai, mata air, menggalakkan penghijauan dan penanaman pohon,” katanya.
Bupati Dian menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Kuningan telah melakukan berbagai langkah untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
Penanganan dilakukan bersama perangkat daerah, BUMD, BPBD, Perumda Air Minum, serta unsur Forkopimda, termasuk TNI dan Polri, melalui penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang membutuhkan.
“Kita sudah melaksanakan berbagai upaya ikhtiar dari kawan-kawan SKPD, dari BUMD juga kita telah menerjunkan bantuan-bantuan air bersih. Dari kawan-kawan Forkopimda juga, dari pihak Polres juga, TNI, BPBD, PDAM, juga sudah banyak dilakukan seperti itu,” jelasnya.
Selain menghadapi kekeringan, pemerintah daerah juga mewaspadai dampak lain dari kemarau panjang, khususnya potensi kebakaran.
Bupati menyebut, sejumlah kejadian kebakaran telah dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, di antaranya Garawangi, Cikananga, dan Tambakbaya. Penanganan dapat dilakukan dengan cepat berkat kolaborasi antara petugas dan masyarakat.
“Di samping kekeringan juga kita antisipasi akibat dari kemarau panjang ini, kebakaran. Sudah ada laporan dari beberapa bagian di Kuningan yang mengalami kebakaran. Kemarin di Garawangi, di daerah Cikananga, Tambakbaya juga. Tapi alhamdulillah secepatnya telah dipadamkan bersama masyarakat,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, Bupati Dian berharap Salat Istisqa menjadi ikhtiar spiritual yang memperkuat semangat masyarakat untuk terus berdoa dan berusaha.
“Kita munajat ke Allah SWT, kita mohon ampunan-Nya, kita bertobat, memasrahkan diri kepada Sang Pencipta. Hari ini kekeringan sudah mulai melanda. Dari situlah kami meminta kepada Allah SWT supaya tanah kami diberikan secepatnya hujan, turun hujan yang bermanfaat, yang berkah, dan dijauhkan dari segala bencana,” ungkapnya.
Lebih jauh, Bupati Dian menilai kondisi kekeringan juga menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan rasa simpati dan empati serta menghidupkan nilai silih asah, silih asih, silih asuh dalam kehidupan bermasyarakat.
“Salat Istisqa ini hari ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri kita bersama-sama, memperkuat kepedulian sosial, rasa simpati, rasa empati, silih asah, silih asih, silih asuh, menjaga lingkungan, dan tentu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT,” katanya.
Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuningan, Drs. KH. Dodo Syarif Hidayatullah, M.A., menyampaikan apresiasi atas langkah Pemerintah Kabupaten Kuningan yang menginstruksikan pelaksanaan Salat Istisqa.
Menurutnya, pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bentuk kolaborasi dan kebersamaan antara pemerintah daerah, ulama, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam menghadapi kondisi kekeringan.
“Saya selaku Ketua MUI Kabupaten Kuningan yang merupakan mitra daripada pemerintah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pak Bupati yang telah mengeluarkan instruksi untuk melaksanakan Salat Istisqa memohon hujan kepada Allah SWT,” ujar KH. Dodo.
Ia menjelaskan, masukan dari MUI kemudian mendapatkan respons dari Bupati Kuningan melalui instruksi pelaksanaan Salat Istisqa. Bahkan, pelaksanaan Salat Istisqa juga dilakukan secara serentak di sejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Kuningan.
“Masukan kami juga diterima oleh beliau, lalu ditindaklanjuti dengan instruksi melaksanakan Salat Istisqa. Bahkan serentak di beberapa tempat juga melaksanakan. Ada informasi dari beberapa kecamatan yang menyampaikan kepada saya melaksanakannya,” ungkapnya.
Dodo menilai langkah tersebut menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara ulama dan pemerintah daerah dalam merespons kondisi yang tengah dihadapi masyarakat.
“Nah, ini merupakan kolaborasi dan kebersamaan yang sangat indah sekali. Mudah-mudahan Allah kabulkan doa kita semua. Amin,” pungkasnya.







