• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Minggu, 6 September 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Kamera Trap Rekam Dua Ekor Tapir di Areal HCV PT Silva Inhutani Mesuji, Lampung

Editor
Minggu, 06 September 2026 - 08:12
Tapir tertangkap kamera trap.(Foto: Humas Kemenhut)

Tapir tertangkap kamera trap.(Foto: Humas Kemenhut)

BANDAR LAMPUNG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung terus memperkuat pemantauan dan mitigasi konflik satwa liar di wilayah Mesuji, Lampung, menyusul kemunculan tapir (Tapirus indicus) pada 1 Juli 2026 di kawasan hutan Register 45 Sungai Buaya, areal konsesi PT Silva Inhutani Lampung, Kabupaten Mesuji.

Sebagai tindak lanjut, Tim Penanggulangan Konflik Satwa Liar memasang dua kamera jebak (camera trap) bernama SIL1 dan SIL2 pada 20 Juli hingga 1 September 2026 di areal konservasi PT Silva Inhutani. Pemasangan dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan, aktivitas, penggunaan habitat, dan jalur pergerakan tapir, terutama setelah ditemukan jejak tapir pada 20 dan 21 Juli 2026.

RelatedPosts

Abu Gunung Anak Krakatau Sampai di Bogor, Pemkab Antisipasi

Presiden Prabowo Bertemu Dubes AS, Ini yang Dibahas

Karhutla di Kalimantan, BMKG: OMC Buahkan Hasil

Kepala Balai KSDA Bengkulu, Agung Nugroho menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan indikasi kuat kawasan konservasi PT Silva Inhutani Lampung masih dimanfaatkan tapir sebagai bagian dari habitatnya.

“Berdasarkan hasil rekaman kamera jebak SIL2, terekam dua ekor tapir secara bersamaan pada 5 Agustus 2026 pukul 00.00.48 WIB. Rekaman berikutnya pada 9 Agustus 2026 pukul 21.18.49 WIB menunjukkan satu ekor tapir. Untuk rekaman kedua masih diperlukan analisis lebih lanjut untuk memastikan apakah individu yang terekam merupakan individu yang sama atau berbeda,” ujar Agung melalui keterangan resmi.

Menurut Agung, temuan tersebut penting bagi upaya konservasi karena menunjukkan kawasan masih memiliki fungsi ekologis sebagai habitat maupun jalur pergerakan satwa liar. Pemantauan perlu dilanjutkan secara sistematis untuk mengetahui sebaran, penggunaan habitat, serta potensi populasi tapir di wilayah Mesuji. Keberadaan tapir di areal konsesi juga perlu diikuti penguatan pengelolaan habitat karena terdapat potensi ancaman berupa fragmentasi dan perubahan habitat, perburuan, pemasangan jerat, serta konflik dengan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan. Di sisi lain, temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan hutan dan areal High Conservation Value (HCV) PT Silva Inhutani masih memiliki potensi keanekaragaman hayati yang penting untuk dipertahankan.

Agung Nugroho menyampaikan bahwa pengelolaan kawasan konservasi di dalam areal konsesi perlu dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah, akademisi, perusahaan, dan masyarakat.

“Temuan tapir ini menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan areal HCV PT Silva Inhutani Lampung. Keberadaan satwa liar tidak hanya perlu dipandang sebagai objek pemantauan, tetapi juga sebagai bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga dan dipertahankan fungsi ekologisnya. Karena itu, diperlukan langkah bersama melalui patroli, pemantauan, pengamanan habitat, penelitian, maupun edukasi kepada masyarakat,” jelas Agung.

Sebagai tindak lanjut, BKSDA Bengkulu mendorong penambahan titik kamera jebak untuk memperoleh data yang lebih representatif mengenai sebaran, penggunaan habitat, dan potensi populasi tapir. Selain itu, diperlukan peningkatan intensitas patroli secara kolaboratif oleh PT Silva Inhutani, BKSDA, Pemerintah Daerah Kabupaten Mesuji, dan para pihak terkait, khususnya pada lokasi yang teridentifikasi sebagai habitat dan jalur pergerakan satwa.

“Upaya konservasi tidak hanya difokuskan pada tapir, tetapi juga perlu mencakup seluruh potensi keanekaragaman hayati yang terdapat di areal HCV, baik mamalia, burung, herpetofauna, tumbuhan, maupun kelompok satwa dan tumbuhan lainnya yang memiliki nilai konservasi penting. Data hasil penelitian dan inventarisasi tersebut akan menjadi dasar yang kuat dalam menentukan langkah pengelolaan dan pemantauan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan,” ungkap Agung.

Komitmen kolaborasi tersebut ditegaskan dalam audiensi dan koordinasi Tim Seksi KSDA Wilayah III Lampung dengan Management PT Silva Inhutani Lampung pada 2–3 September 2026. Dalam koordinasi tersebut, perusahaan memastikan akan membentuk dan melatih Tim Satuan Tugas (Satgas) Konflik Satwa Liar sesuai arahan BKSDA dan juga menyepakati pemasangan kembali kamera jebak di titik atau lokasi yang berbeda sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemantauan dan perlindungan satwa liar di wilayah kerjanya.

Menurut Agung, komitmen tersebut merupakan langkah positif dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, perusahaan, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga keberadaan satwa liar serta habitatnya.

“Kami mengapresiasi komitmen PT Silva Inhutani untuk membentuk dan melatih Satgas Konflik Satwa Liar serta melanjutkan pemasangan kamera jebak di lokasi yang berbeda. Kolaborasi antara BKSDA, perusahaan, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat merupakan kunci dalam menjaga keberadaan satwa liar sekaligus mencegah dan meminimalkan potensi konflik manusia dengan satwa liar,” ujar Agung.

“Ke depan, kami berharap pengelolaan areal HCV PT Silva Inhutani semakin berbasis pada data dan informasi keanekaragaman hayati. Dengan demikian, setiap langkah pengelolaan dapat dilakukan secara lebih tepat dan terukur sehingga fungsi ekologis kawasan tetap terjaga dan keberadaan satwa liar di dalamnya dapat dipertahankan,” lanjutnya.

Temuan dua ekor tapir melalui kamera jebak SIL2 menjadi pengingat bahwa kawasan hutan dan areal HCV di Mesuji masih menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang penting. Perlindungan habitat, pemantauan populasi, penelitian, pengamanan kawasan, dan penguatan peran masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan. Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Bengkulu akan terus mendorong pengelolaan konservasi secara kolaboratif untuk memastikan keberadaan tapir dan satwa liar lainnya tetap terjaga sekaligus meminimalkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah Mesuji.

Tags: BKSDAtapir

Related Posts

Gambaran posisi Gunung Anak Krakatau terhadap Bogor Jawa Barat.(Image: Google)

Abu Gunung Anak Krakatau Sampai di Bogor, Pemkab Antisipasi

Editor
6 September 2026

CIBINONG– Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) terpantau mencapai wilayah Bogor. Kondisi tersebut berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi,...

Presiden Prabowo Subianto menerima Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN Kevin Kim di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat, pada Sabtu sore (05/09/2026).(Foto: BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Bertemu Dubes AS, Ini yang Dibahas

Editor
6 September 2026

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menerima Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN Kevin Kim dan Kuasa Usaha ad interim (Chargé...

Karhutla di Kalimantan.(Foto: Humas Kemenhut)

Karhutla di Kalimantan, BMKG: OMC Buahkan Hasil

Editor
6 September 2026

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoptimalkan dukungan analisis cuaca dan pemantauan dinamika atmosfer untuk menyukseskan Operasi Modifikasi...

Warga rusunawa Cingised Arcamanik latihan menghadapi bencana termasuk potensi gempa Lembang.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Warga Rusunawa Latihan Hadapi Potensi Gempa Lembang

Editor
6 September 2026

BANDUNG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung menggelar kegiatan simulasi evakuasi mandiri di kawasan Rumah Susun Sewa Sederhana...

BMKG

BMKG: Dentuman di Bandung Bukan dari Gempa Bumi

Editor
5 September 2026

BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Bandung memastikan bahwa fenomena suara dentuman yang terdengar di...

Harga emas hari ini antam melambung tinggi, harga emas, harga emas hari ini

Harga Emas Sabtu 5/9/2026 Antam Rp 2.640.000 Per Gram

Editor
5 September 2026

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Sabtu 5/9/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang dijual Rp 2.640.000 per gram...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.