• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Rabu, 19 Agustus 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Museum KAA Dikunjungi 35.000 Orang

Editor
Sabtu, 04 Juli 2026 - 04:15
Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA).(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA).(Foto: Humas Pemkot Bandung)

SATUJABAR, BANDUNG – Museum KAA atau Konferensi Asia-Afrika terus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Kota Bandung. Tak hanya menyimpan kisah penting lahirnya semangat solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika, museum yang berada di kawasan Gedung Merdeka ini juga menjadi magnet bagi pelajar, wisatawan domestik hingga mancanegara.

Kepala Seksi Publikasi dan Nilai-nilai KAA, Christoforus Katon menjelaskan, Museum KAA lahir dari gagasan Menteri Luar Negeri RI saat itu, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Ide tersebut muncul setelah banyak pemimpin negara Asia dan Afrika yang ingin mengunjungi Gedung Merdeka, lokasi bersejarah penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955.

RelatedPosts

Gang Stones, Kreasi Unik Warga di Hari Kemerdekaan

Jejak Kemerdekaan: Diplomasi Sunyi di Linggarjati

Jejak Kemerdekaan di Jabar: Rengasdenglok di Ambang Kemerdekaan RI

“Gagasan pendirian museum muncul untuk mengabadikan sejarah serta semangat Konferensi Asia-Afrika. Usulan tersebut disampaikan pada peringatan 25 tahun KAA tahun 1980, mendapat dukungan Presiden Soeharto. Akhirnya Museum Konferensi Asia-Afrika diresmikan pada 24 April 1980 bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika,” kata Christoforus dalam keterangan resmi, Jumat 3 Juli 2026 dikutip Humas Pemkot Bandung.

Museum KAA menyuguhkan beragam koleksi yang membawa pengunjung menelusuri perjalanan sejarah diplomasi dunia. Di antaranya diorama Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955, koleksi peralatan jurnalistik, arsip foto dan dokumen sejarah hingga film dokumenter yang mengisahkan jalannya konferensi serta dampaknya terhadap perkembangan dunia.

Selain menampilkan sejarah pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika, museum ini juga mengajak pengunjung mengenal perjalanan panjang Gedung Merdeka yang menjadi saksi lahirnya semangat perdamaian dan kerja sama antarbangsa.

Minat masyarakat untuk berkunjung ke Museum KAA pun terus meningkat. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, museum ini telah menerima lebih dari 35.000 pengunjung, didominasi wisatawan domestik dan rombongan pelajar. Sementara itu, wisatawan mancanegara yang datang pada periode yang sama mencapai lebih dari 3.500 orang.

Untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam, Museum KAA menyediakan layanan edukator atau pemandu wisata bagi rombongan yang telah melakukan reservasi. Layanan ini tersedia dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Mandarin, sehingga dapat melayani wisatawan dari berbagai negara.

Seluruh layanan kunjungan ke Museum KAA juga tidak dipungut biaya. Pengunjung individu maupun rombongan cukup melakukan reservasi melalui laman mkaa.kemlu.go.id/halaman/registrasi-simkuring. Khusus rombongan, reservasi dilakukan terlebih dahulu melalui admin museum sebelum mengisi formulir kunjungan.

Museum KAA membuka layanan setiap Rabu hingga Sabtu pukul 09.00–15.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00–13.00 WIB. Khusus hari Jumat, jam layanan menyesuaikan waktu salat Jumat.

Selain itu, Museum KAA menerima kunjungan rombongan di sesi pagi pukul 09.00-12.00 WIB hanya menerima sebanyak 250 orang sedangkan pada sesi siang pukul 13.00-15.00 WIB menerima sebanyak 200 orang.

Menurut Christoforus, Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada 18–24 April 1955 di Gedung Merdeka diikuti oleh 29 negara Asia dan Afrika. Peristiwa bersejarah tersebut menjadi tonggak penting lahirnya semangat kerja sama negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kemerdekaan, persamaan derajat, dan perdamaian dunia.

Ia berharap nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika terus diwariskan kepada generasi muda.

“Peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955 mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama antarindividu maupun antarbangsa dalam menjaga persatuan serta perdamaian dunia,” tuturnya.

Sebagai salah satu ikon sejarah dunia yang berada di jantung Kota Bandung, Museum Konferensi Asia-Afrika tidak hanya menjadi tempat menyimpan memori masa lalu, tetapi juga ruang belajar yang menginspirasi generasi masa kini untuk terus merawat semangat persaudaraan, diplomasi dan perdamaian global.

Tags: museum KAA

Related Posts

Gang Stones di Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Gang Stones, Kreasi Unik Warga di Hari Kemerdekaan

Editor
17 Agustus 2026

Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Gang Stones di Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, ikut memeriahkan suasana 17...

Gedung di Linggarjati Kabupaten Kuningan Jawa Barat.(Foto: Disparbud Jabar)

Jejak Kemerdekaan: Diplomasi Sunyi di Linggarjati

Editor
14 Agustus 2026

SATUJABAR, BANDUNG - Di kaki Gunung Ciremai yang sejuk, sebuah rumah peristirahatan di Desa Linggarjati, Kuningan, mendadak menjadi pusat perhatian...

Oleh Nelly - Friend's work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=610101

Jejak Kemerdekaan di Jabar: Rengasdenglok di Ambang Kemerdekaan RI

Editor
13 Agustus 2026

Dini hari, 16 Agustus 1945. Di sudut sunyi Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, sebuah rumah kayu sederhana milik seorang petani Tionghoa...

Lomba desan batik sumedang.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Batik Sumedang, Kini Sedang Dirintis

Editor
10 Agustus 2026

SATUJABAR, SUMEDANG - Pemerintah Kabupaten Sumedang mendorong lahirnya motif batik khas Sumedang yang mampu merepresentasikan sejarah, alam, budaya, dan kearifan...

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim.(Foto: Humas Pemkot Bogor)

Jalan Santai Bersama Kang Dedie, Olahraga Sekaligus Berbagi

Editor
9 Agustus 2026

SATUJABAR, BOGOR - Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mendukung kegiatan peduli antarsesama yang dikemas melalui aktivitas olahraga, Sabtu (8/8/2026)....

Pahlawan Nasional Wanita Indonesia - Museum RA Kartini.(Foto: Dok. Humas Kemenpar)

Pahlawan Wanita: Segudang Pelajaran di Museum RA Kartini

Editor
7 Agustus 2026

JAKARTA – Pahlawan wanita di Indonesia tentu sangatlah banyak di antara sederet nama yang ‘diakui’ pemerintah. Salah satunya adalah Raden...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.