SATUJABAR, JAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mengapresiasi film Foufo garapan SKAK Studios dan SinemArt. Kementerian Ekraf mendukung pengembangan film ini sejak tahap produksi yang mengangkat budaya, talenta, dan potensi daerah.
“Kami mengapresiasi upaya Mas Bayu bersama SKAK Studios dan SinemArt yang menghadirkan film dengan mengangkat kearifan lokal Madura. Tahun lalu Mas Bayu datang ke Kementerian Ekraf untuk memperkenalkan Foufo. Hari ini kita melihat komitmen tersebut telah terwujud menjadi sebuah karya yang siap dinikmati masyarakat. Ini membuktikan bahwa cerita dari daerah mampu menjadi tontonan yang menarik sekaligus memiliki potensi ekonomi,” ujar Menteri Ekraf saat menghadiri gala premiere film Foufo di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (3/7) melalui keterangan resminya.
Dukungan Kementerian Ekraf diberikan sejak tahap pengembangan film melalui rangkaian audiensi. Dalam proses tersebut, kedua pihak membahas peluang kolaborasi strategis, mulai dari penguatan Intellectual Property (IP), fasilitasi kolaborasi strategis lintas sektor, hingga perluasan awareness terhadap film melalui berbagai kesempatan. Produksi film ini melibatkan sekitar 90 persen talenta lokal—yang sebagian besar merupakan pendatang baru—serta 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya untuk pengembangan karakter Foufo.
Menteri Ekraf menegaskan bahwa Foufo menjadi bukti nyata bahwa budaya dapat menjadi fondasi produk ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Keberanian mengangkat bahasa daerah, memberikan ruang bagi talenta baru, serta pengembangan IP merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
“Budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dihilirisasi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi sehingga memberikan manfaat ekonomi. Kami berharap semakin banyak sineas di berbagai daerah yang berani mengangkat kearifan lokal melalui karya-karya kreatif,” kata Menteri Ekraf.
Sutradara Foufo sekaligus Founder SKAK Studios, Bayu Skak, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Ekraf yang telah membantu membuka jejaring hingga fasilitasi produksi di daerah. Menurutnya, visi Kementerian Ekraf untuk membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan semangat yang diusung dalam film Foufo.
“Visi Kementerian Ekraf membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan apa yang kami lakukan melalui Foufo. Kami ingin membuktikan bahwa talenta di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkembang di industri perfilman Indonesia,” ujar Bayu.
Foufo tidak hanya berhenti sebagai karya film, tetapi juga dikembangkan sebagai IP yang didukung melalui pengembangan merchandise dan berbagai aktivasi kreatif. Film dengan dialog yang didominasi bahasa daerah ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026.
Dalam gala premiere tersebut, Menteri Ekraf didampingi Deputi Bidang Kreativitas Media Cecep Rukendi, Direktur Film, Animasi, dan Video, Doni Setiawan.








