• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Sabtu, 7 Maret 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Merawat Tradisi Penyembuhan Dayak Taboyan: Jaga Keseimbangan Alam, Roh, dan Manusia

Editor
Senin, 13 Oktober 2025 - 06:55
(Foto: Dok. Humas BRIN)

(Foto: Dok. Humas BRIN)

SATUJABAR, JAKARTA – Masyarakat Dayak Taboyan di pedalaman Kalimantan Tengah masih teguh menjaga tradisi penyembuhan yang diturunkan leluhur mereka. Meskipun arus modernisasi sudah mendominasi pengobatan medis berbasis teknologi. Di wilayah yang akses kesehatannya terbatas, balian, sebutan untuk penyembuh tradisional, tetap menjadi sandaran utama warga dalam menghadapi berbagai penyakit, baik fisik maupun gangguan jiwa.

Para periset Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PR AK) BRIN mendiskusikan hal tersebut dalam sesi diskusi “Pengobatan Tradisional Masyarakat Dayak Taboyan Kalimantan Tengah”, Kamis (9/10).

RelatedPosts

Persis Ramadan Expo 2026, Dorong Penguatan UMKM dan Ekonomi Keumatan

Bali Sabet lagi “The Best Island” di DestinAsian Readers’ Choice Awards

Libur Lebaran 2026: 700 Ribu Wisatawan Siap Serbu Bandung

Dalam paparannya, Setyo Boedi Oetomo membahas eksistensi pengobatan tradisional dayak dalam konteks masyarakat pedalaman Kalimantan Tengah sub etnis Dayak Tabayon. Ia menjelaskan bahwa di sana masih melakukan praktik pengobatan tradisional berbasis kepercayaan lokal Kaharingan. Praktik ini masih diterapkan di Desa Panaen, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara.

Dijelaskannya, desa tersebut terletak sekira sembilan jam perjalanan darat dari Palangka Raya, melewati jalan Trans-Kalimantan yang sebagian rusak akibat aktivitas tambang dan perkebunan sawit.

“Pengobatan tradisional di pedalaman masih sangat dibutuhkan karena keterbatasan fasilitas medis modern,” ujar Boedi dikutip laman BRIN.

Dia mengemukakan rumah sakit terdekat saja berjarak ratusan kilometer, sehingga balian dan bidan kampung menjadi penolong utama warga.

Boedi lalu menuturkan perjalanan menuju lokasi penelitian di sana yang penuh tantangan, seperti jalan berlubang, jembatan kayu sederhana, hingga risiko longsor dan gangguan satwa liar. Namun, sambutan masyarakat yang ramah membuat tim peneliti mudah diterima.

Untuk dapat diterima masyarakat, tim peneliti menerapkan pendekatan partisipatif dengan melibatkan peneliti lokal sebagai mediator budaya. Mereka menginap di rumah tokoh adat dan mengikuti tata cara adat saat memasuki hutan, termasuk membawa sesajen kecil berupa paku, beras, dan uang logam sebagai simbol izin kepada roh penjaga alam.

“Pendekatan ini penting agar masyarakat merasa dihormati dan bersedia berbagi pengetahuan tanpa curiga,” jelasnya. Ia menekankan bahwa penelitian ini bukan untuk eksploitasi, melainkan pendokumentasian pengetahuan lokal.

Selanjutnya, Mustolehudin membahas prosesi ritual pengobatan tradisional Dayak Taboyan. Ia menguraikan bahwa ritual pengobatan tradisional Dayak Taboyan dipimpin oleh balian bakawat, bentuk lokal dari tradisi penyembuhan Dayak. Diungkapkannya, peran balian zaman dahulu dapat dilakukan oleh laki-laki (balian dawo) maupun perempuan (balian dadas).

Ritual biasanya berlangsung selama tiga hari dua malam, dengan berbagai perlengkapan seperti campuran bahan lokal seperti kelapa tua, beras serta sesaji berupa telur, janur, bunga, dan patung kecil dari adonan tepung beras (saradiri) yang menjadi media pemindahan penyakit.

Upacara diiringi musik tradisional berupa kendang dan gong, menambah suasana magis di sekitar rumah balian. Simbol-simbol seperti tangga balian dan penegen ringin melambangkan hubungan antara dunia manusia dan roh leluhur. Setelah ritual selesai, makanan persembahan seperti ayam rebus, lemang, dan kue tradisional disantap bersama sebagai bagian dari rasa syukur.

“Keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada keyakinan pasien,” jelas Mustolehudin. Dalam kepercayaan Dayak, disebutnya, penyembuhan terjadi ketika keseimbangan antara manusia dan roh telah dipulihkan.

Menariknya, dalam praktik pengobatan, banyak mantra yang menggunakan idiom Islam seperti basmalah dan syahadat. Hal ini menunjukkan adanya sinkretisme antara ajaran Islam dan tradisi Kaharingan. Itu mencerminkan dinamika spiritual yang lentur dan adaptif.

Lalu, Joko Tri Haryanto membahas eksistensi roh-roh dalam pengobatan tradisional suku Dayak Tabayon. Dijelaskannya, kepercayaan terhadap roh dan makhluk halus dalam masyarakat Dayak Taboyan bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari sistem kosmologi yang hidup. Mereka meyakini adanya tiga lapisan dunia: dunia atas (tempat para dewa), dunia tengah (tempat manusia), dan dunia bawah (tempat roh jahat atau kunyang).

“Penyakit dalam pandangan mereka bukan hanya persoalan biologis, tetapi tanda rusaknya relasi manusia dengan alam dan roh penjaga,” terang Joko. Karena itu, balian berfungsi sebagai mediator spiritual yang menegosiasikan pemulihan keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib.

Dalam praktik sehari-hari, masyarakat selalu meminta izin sebelum mengambil hasil hutan atau menebang pohon. Mereka percaya, jika tidak dilakukan dengan hormat, seseorang bisa terkena “kepohonan”. Maksudnya, penyakit akibat gangguan roh karena melanggar pantangan adat.

Salah satu contoh yaitu kayu bajakah yang kini dikenal luas karena berkhasiat sebagai antikanker, juga berakar dari pengetahuan lokal Dayak Taboyan. Namun, bagi mereka, kayu ini hanya berkhasiat jika diambil dengan izin dan niat baik, tanpa itu bajakah dianggap tidak memiliki daya penyembuh.

Melalui penelitian ini, BRIN berupaya mendokumentasikan sekaligus menegaskan bahwa pengobatan tradisional Dayak Taboyan bukan sekadar warisan budaya, tetapi sistem pengetahuan yang menyatukan tubuh, jiwa, dan alam.

“Dalam dunia yang semakin modern, pengetahuan lokal seperti ini penting untuk dipahami, bukan diromantisasi atau dieksploitasi,” tegas Joko. Karena, tradisi penyembuhan mereka mengajarkan kita tentang keseimbangan, penghormatan terhadap alam, dan pentingnya spiritualitas dalam menjaga kesehatan.

Dengan demikian, di tengah keterpencilan geografis dan tekanan modernisasi, masyarakat Dayak Taboyan tetap menjadi penjaga warisan pengetahuan leluhur. Ini sebagai sebuah sistem yang bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga merawat harmoni antara manusia, alam, dan roh.

Tags: BRINPenyembuhan Dayak Taboyan

Related Posts

(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Persis Ramadan Expo 2026, Dorong Penguatan UMKM dan Ekonomi Keumatan

Editor
7 Maret 2026

SATUJABAR, BANDUNG - Pengurus Pusat Persatuan Islam (PP Persis) menggelar Persis Ramadan Expo 2026 yang digelar di area parkir barat...

DestinAsian Readers' Choice Awards.(Foto: Dok. kemenpar)

Bali Sabet lagi “The Best Island” di DestinAsian Readers’ Choice Awards

Editor
6 Maret 2026

SATUJABAR, NUSA DUA - Bali kembali menorehkan prestasi internasional dengan meraih penghargaan “The Best Island” dalam ajang DestinAsian Readers’ Choice...

Walikota Bandung Muhammad Farhan dan Plt Kapolrestabes Bandung Kombes Adi Wijaya.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Libur Lebaran 2026: 700 Ribu Wisatawan Siap Serbu Bandung

Editor
3 Maret 2026

SATUJABAR, BANDUNG – Libur panjang Lebaran merupakan salah satu moment melimpahnya kunjungan wisatawan ke Bandung meskipun tidak sebanyak pada pergantian...

menu buka puasa ramadhan 2023 buah kurma,awal ramadhan

Doa Buka Puasa Populer di Kalangan Umat Islam

Editor
2 Maret 2026

SATUJABAR, BANDUNG - Redaksi doa yang populer di sebagian kaum muslimin ketika berbuka shaum adalah sebagai berikut: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ...

BRIN

Kayu Raru Kandidat Herbal Antidiabetes, Ungkap BRIN

Editor
1 Maret 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Diabetes masih menjadi tantangan kesehatan global, termasuk di Indonesia. Hampir setengah miliar penduduk dunia hidup dengan diabetes,...

(Foto: Ekraf)

Harmoni Imlek Nusantara 2026 jadi Panggung Akulturasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Editor
1 Maret 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Puncak perayaan Harmoni Imlek Nusantara–Imlek Festival 2026 berlangsung meriah di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2 malam). Dengan...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.