Berita

Suhu Permukaan Bumi Bisa Naik 3ºC Pada 2050

Suhu permukaan bumi bisa naik 3ºC pada 2050 apabila tiada ada aksi atau upaya pengurangan laju kenaikan suhu.

SATUJABAR, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong prakiraan berbasis dampak (impact based-forecast/IBF) sebagai landasan untuk memperkokoh budaya tangguh bencana. Ketangguhan masyarakat terwujudkan melalui aksi dini dalam mitigasi bencana serta pembangunan multi-sektor sebagai respons terhadap peringatan dini.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kebutuhan menerjemahkan peringatan dini menjadi aksi merupakan misi bersama seiring dengan perubahan iklim yang berdampak sangat luas di seluruh wilayah dan sistem iklim global. Dampaknya, peningkatan kejadian ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi menyentuh sendi kehidupan masyarakat, seperti kesehatan, ketersediaan air, pangan, hingga energi.

“Sejak 1850, terjadi kenaikan rata-rata suhu permukaan bumi sebesar 1,4–1,5ºC. Di Indonesia sendiri, tercatat kenaikan suhu sebesar 0,8ºC. Apabila kita tidak melakukan aksi atau upaya pengurangan laju kenaikan, diproyeksikan kenaikan suhu permukaan bumi mencapai 3ºC pada 2050 mendatang,” kata Faisal pada pameran Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) di Jakarta (13/8).

Faisal menyebut bahwa paradigma IBF menjadi salah satu jawaban untuk menekan laju perubahan iklim melalui aksi dini berkat proses end-to-end yang dibangun dalam sistem tersebut, mulai dari observasi, analisis dan pemodelan, penilaian dampak, hingga penyusunan prakiraan berbasis dampaknya. Tahap awal observasi yang memanfaatkan infrastruktur pengamatan unggulan menghasilkan data berkualitas, kemudian dianalisis melalui berbagai pendekatan dan model, seperti Numerical Weather Prediction, climate prediction, model hidrologi, artificial intelligence (AI), hingga pemodelan tsunami.

“Tahap penilaian dampak menggabungkan hazard (bahaya), exposure (keterpaparan), dan vulnerability (kerentanan) sehingga memungkinkan kita memahami bukan hanya apa saja ancamannya, tetapi siapa yang terdampak dan seberapa besar risikonya,” tambah Faisal.

Faisal menegaskan bahwa BMKG terus menjaga prinsip saintifik dalam melakukan observasi berkualitas, pemodelan berbasis ilmu, validasi dan verifikasi, serta komunikasi probabilistik dan uncertainty. Dengan demikian, informasi IBF lebih relevan bagi pengguna, fokus pada dampak, serta mampu mempercepat respons dan meningkatkan efektivitas peringatan dini.

BMKG mengintegrasikan IBF ke dalam layanan informasi yang dibutuhkan bagi pembangunan multisektor, bidang berisiko bencana, termasuk risiko yang berdampak langsung di kehidupan masyarakat. Sejalan dengan itu, BMKG turut memberikan pendampingan kepada seluruh sektor di setiap wilayah hingga tingkat kelurahan melalui UPT yang tersebar di 191 titik.

“Transformasi peringatan dini berbasis dampak tidak hanya berfungsi sebagai sumber data dan peringatan dini, tetapi menjadi acuan strategi adaptasi yang tepat sesuai kondisi iklim yang diprediksi. Salah satu praktik baik ditunjukkan dari adaptasi pertanian berdasarkan data BMKG yang sejak awal tahun telah mengeluarkan peringatan dini potensi kekeringan akibat fenomena El Nino,” tambahnya.

Komisi Irigasi Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan melakukan percepatan jadwal tanam dari Minggu IV Maret hingga Minggu I April menggunakan varietas padi genjah umur 65–90 hari, serta memanfaatkan sumber air alternatif melalui sumur bor, embungnisasi, dan pompanisasi. Hasilnya, 7.067 hektar lahan pertanian dapat diselamatkan dari gagal panen.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno pada saat pembukaan EDRR Indonesia 2026, menegaskan bahwa peringatan dini tidak akan bermakna apabila tidak direspons melalui aksi dini. Maka dari itu, Pratikno menekankan pentingnya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berkolaborasi dalam merespons setiap peringatan dini yang disampaikan BMKG.

“Sebagaimana BMKG terus-menerus mengingatkan bagaimana El Nino yang akan melanda, kita harus bisa menguasai cara merespons cepat untuk meminimalkan dampaknya. Karena, kekeringan yang panjang dapat mengurangi ketersediaan air, ketahanan pangan, bahkan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” tutur Pratikno.

Pada kesempatan ini, BMKG turut berpartisipasi dalam pameran dengan menghadirkan berbagai alat, seperti campbell stokes, Warning Receiver System (WRS) New Generation, Automatic Weather System (AWS) Rekayasa, Seismometer, Buoy, dan berbagai kuis interaktif yang dapat diikuti seluruh pengunjung. Pameran EDRR berlangsung di Hall D2 JIExpo Kemayoran, Jakarta sepanjang 12–14 Agustus 2026.

Editor

Recent Posts

Kebakaran Gunung Gede Pangrango, Posko Didirikan

SATUJABAR, CIBODAS - Kebakaran hutan di sekitar kawasan Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango…

11 menit ago

Gajah Yuna Mati, BKSDA Aceh Perkuat Deteksi Dini Penyakit

Gajah Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun dari induk Gajah Suci, dinyatakan…

14 menit ago

Harimau Sumatera Masuk Perangkap, Dievakuasi BKSDA

Harimau Sumatera itu masuk perangkap yang dipasang usai petugas menerima laporan satwa dilindungi itu masuk…

18 menit ago

Weaving Archipelago, Menekraf: Tenun Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif

Weaving Archipelago tidak hanya menjadi sebuah pameran, tetapi juga menjadi ruang lahir kolaborasi baru, membuka…

1 jam ago

Pembiayaan Syariah Dorong Ekspansi Korporasi

Pembiayaan syariah bagi korporasi, terutama untuk mendukung investasi dan ekspansi usaha yang kompetitif, inovatif, dan…

3 jam ago

Harga Emas Kamis 13/8/2026 Antam Rp 2.700.000 Per Gram

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Kamis 13/8/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang…

5 jam ago

This website uses cookies.