Berita

Studi BRIN Ungkap Paparan Unsur Toksik di Kawasan Geotermal Dieng

Dalam penelitiannya, Riostantieka mengidentifikasi sejumlah unsur toksik prioritas di lanskap geotermal, yaitu arsenik (As), antimoni (Sb), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan timbal (Pb) pada salah satu manifestasi aktif Dieng, yaitu Kawah Sileri.

SATUJABAR, JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi energi panas bumi (geotermal) terbesar di dunia. Selama ini, studi lebih banyak dibaca dari sisi potensi energi, sistem reservoir, serta pengembangannya.

Namun, dalam konteks wilayah vulkanik aktif, sistem geotermal perlu dipahami dari sisi paparan lingkungan dan implikasinya bagi masyarakat. Peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Riostantieka Mayandari Soedarto, memaparkan kajian bertajuk “Bumi, Air, Manusia: Perspektif Geotermal-Geodermis dari Dieng” dalam webinar DIGDAYA #21 Rabu (22/4).

Ia menjelaskan perspektif geotermal-geomedis dalam studi ini berfokus pada jalur paparan lingkungan dan kontaminasi geogenik di lanskap vulkanik-geotermal, yaitu bagaimana unsur-unsur yang berasal dari sistem panas bumi dapat bergerak melalui air, tanah, sedimen, debu, dan tanaman, lalu menjadi relevan bagi manusia.

Sebagai studi kasus, Riostantieka menyoroti kawasan Dataran Tinggi Dieng. Wilayah ini dipilih karena memiliki sistem geotermal aktif yang terkait dengan kompleks vulkanik muda, serta sebaran manifestasi termal yang masih aktif dan berdekatan dengan sumber air, pertanian, permukiman, serta aktivitas harian masyarakat lainnya.

Dalam konteks ini, Dieng diposisikan bukan hanya sebagai energy landscape, tetapi juga sebagai environmental exposure landscape.

“Dieng cocok menjadi laboratorium hidup untuk menghubungkan energi, geokimia, dan perlindungan masyarakat. Dieng bukan hanya lapangan panas bumi, tetapi bentang alam hidup tempat interaksi antara manifestasi geotermal, sumber air, pertanian, permukiman, dan aktivitas harian,” ujarnya.

Dalam penelitiannya, Riostantieka mengidentifikasi sejumlah unsur toksik prioritas di lanskap geotermal, yaitu arsenik (As), antimoni (Sb), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan timbal (Pb) pada salah satu manifestasi aktif Dieng, yaitu Kawah Sileri. Unsur-unsur tersebut dipilih karena konsisten muncul dalam dataset tanah di sekitar Sileri, relevan dengan sumber hidrotermal/geogenik, memiliki standar pembanding kesehatan internasional yang jelas, serta mewakili unsur berisiko tinggi dalam paparan jangka panjang.

Pengambilan sampel dilakukan pada Agustus–September 2025 sekitar delapan bulan setelah erupsi Sileri terakhir pada 18 Desember 2024, pada musim kering/pascapanen. Survei dilakukan di 81 titik pengamatan yang disusun dalam lima transek radial untuk menangkap gradien deposisi unsur di sekitar kawah.

Metode yang digunakan meliputi pengukuran lapangan dengan portable-XRF (pXRF), pengambilan grab sample untuk analisis kadar air secara gravimetri, serta koreksi hasil agar konsentrasi unsur dinyatakan dalam basis berat kering (dry-weight basis).

“Hasil awal menunjukkan konsentrasi arsenik di wilayah Sileri Barat mencapai 94 kali lipat dari standar pedoman air minum WHO. Pada media tanah, arsenik mencapai 562 kali pembanding US EPA, antimoni 6,5 kali Dutch Soil Standards, kadmium 4,2 kali Dutch Soil Standards, kromium 157 kali pembanding US EPA, serta timbal melebihi National Environment Protection Measure (Australia),” ungkap Riostantieka.

Ia menjelaskan riset geotermal di Dieng diarahkan dari evidence ke action melalui beberapa tahapan, yaitu screening (identifikasi awal unsur dan media kunci), validasi (pengujian laboratorium dan QA/QC), pemetaan sebaran spasial dan identifikasi hotspot, prioritas (penentuan sumber air, komoditas, dan kelompok rentan), dan mitigasi (penyusunan sistem monitoring, SOP, policy brief, dan strategi komunikasi risiko).

“Melalui riset berkelanjutan, geotermal ini diharapkan tidak cukup hanya dibaca dari energi dan reservoir saja, namun perlu dipahami sebagai jalur mobilisasi unsur yang dapat bertemu dengan air, pangan, dan manusia. Selain itu, riset ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi, serta memperkaya mandat PRSDG BRIN agar geosains semakin bermakna bagi masyarakat,” tegasnya.

Kepala PRSDG BRIN, Iwan Setiawan, menyampaikan harapannya agar hasil riset ini dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan terkait pengelolaan geotermal yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Iwan menggarisbawahi peringatan Hari Bumi menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pengelolaannya, baik energi panas bumi, logam tanah jarang, dan riset-riset lainnya. Menurutnya, kolaborasi, sinergi dan membangun jejaring serta kompetensi juga sangat penting bagi kemajuan riset, khususnya dalam sumber daya alam di Indonesia.

Sumber: Humas BRIN

Editor

Recent Posts

China Open 2026: Fajar/Fikri Juara Ganda Putra

SATUJABAR, CHANGZHOU – China Open 2026 digelar pada 21 hingga 26 Juli 2026. Turnamen papan…

9 jam ago

Senator Agita: Kepastian Status PPPK Pendidikan dan Kesehatan Menjadi Kunci Menjaga Layanan Publik

SATUJABAR, BANDUNG – Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Daerah Pemilihan…

10 jam ago

China Open 2026: Hasil Sementara Final Minggu 26 Juli 2026

SATUJABAR, CHANGZHOU – China Open 2026 digelar pada 21 hingga 26 Juli 2026. Turnamen papan…

10 jam ago

12 Penumpang Speedboat SB. Mister Un Berhasil Dievakuasi Selamat

12 Penumpang kapal yang merupakan warga asing berhasil diselamatkan Tim SAR Gabungan. Tim kini fokus…

21 jam ago

Buruan SAE Kota Bandung, Diplomasi Pangan Global

SATUJABAR, BANDUNG - Buruan SAE Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional.…

22 jam ago

Bandung Arts Festival #12, Kolaborasi Seni Lintas Negara

SATUJABAR, BANDUNG - Bandung kembali menghadirkan ruang apresiasi seni dan budaya melalui penyelenggaraan Bandung Arts…

22 jam ago

This website uses cookies.