Berita

Pemkot dan Kementerian Perumahan Relokasi Warga Kolong Jembatan Pasupati

BANDUNG – Pemerintah menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program relokasi warga yang tinggal di bawah jembatan dan kawasan tidak layak lainnya.

Salah satu wilayah yang menjadi fokus adalah sekitar kolong jembatan Prof. Mochtar Kusumaatmadja (Pasupati) dan masuk ke wilayah RW 15 Kelurahan Tamansari, Kota Bandung.

Di sini telah menjadi tempat tinggal 100 KK penerima manfaat program relokasi ini dengan rincian 33 kepala keluarga (KK) dari Kota Bandung, 50 KK berasal dari Kabupaten Bandung dan 17 KK dari Kota Cimahi.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait mengungkapkan, program ini tidak hanya memberikan hunian baru, tetapi juga memberdayakan warga yang direlokasi.

“Kami menyiapkan 116 hunian di Rancaekek dan Solokan Jeruk (Kabupaten Bandung), lengkap dengan rencana pemberdayaan ekonomi serta fasilitas pendukung lainnya. Ini adalah upaya untuk memastikan warga tidak hanya dipindahkan, tetapi benar-benar mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” katanya saat meninjau sasaran Program Penanganan PPKS melalui fasilitasi Rusunawa dan Pemberdayaan Ekonomi di Kota Bandung, Rabu 5 Desember 2024.

Maruarar juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas sosial di lokasi relokasi. Lahan baru tersebut dirancang untuk dilengkapi dengan taman bacaan, tempat belajar, dan area bermain anak-anak.

“Kami ingin relokasi ini bukan hanya proyek satu kali, tetapi menjadi bagian dari program berkelanjutan yang berbasis aspirasi warga, termasuk anak-anak. Ini langkah konkret untuk menjadikan mereka tidak hanya memiliki tempat tinggal, tetapi juga lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka,” tambahnya dikutip situs Pemkot Bandung.

Program relokasi ini dirancang untuk menjawab permasalahan mendasar yang dihadapi warga di kawasan tidak layak. Salah satu cerita yang menginspirasi adalah seorang ibu yang telah bertahun-tahun tinggal di satu kamar sempit bersama suami dan dua anaknya.

“Mereka sudah lama hidup dalam kondisi seperti itu. Relokasi ini akan memberikan mereka harapan baru, dengan tempat tinggal yang lebih layak dan sehat,” ungkap Maruarar.

Sementara itu Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman menambahkan, pemerintah akan memastikan keabsahan status kependudukan bagi semua warga yang direlokasi.

“Kami akan melakukan analisis faktual untuk memastikan bahwa mereka yang tinggal di sini benar-benar menetap dan tidak sekadar tinggal sementara. Kami juga akan memberikan fasilitasi kependudukan dan memastikan mereka tidak terjebak masalah administrasi,” kata Herman.

Ia memastikan, bantuan akan diberikan untuk jangka waktu 1 hingga 1,5 tahun, dengan pembebasan biaya sewa selama enam bulan pertama.

“Setelah itu, mereka akan diberi kesempatan untuk mandiri secara ekonomi, termasuk melalui peluang wirausaha dan akses modal,” tuturnya.

Lebih lanjut, Herman menyebutkan, pemerintah akan terus memonitor kebutuhan dasar warga pasca-relokasi, seperti pendidikan dan kesehatan, serta mendorong integrasi berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung keberhasilan program ini.

“Kami bekerja lintas sektor untuk memastikan semua aspek kehidupan mereka terfasilitasi dengan baik,” ungkapnya.

Pemerintah menargetkan program ini mulai berjalan pada akhir bulan ini. Proses relokasi akan diawali dengan verifikasi faktual untuk memastikan hanya mereka yang benar-benar membutuhkan yang mendapatkan manfaat.

Ada pun Pemerintah Kota Bandung menunjukkan komitmen penuh terhadap program ini. Penjabat Wali Kota Bandung, A. Koswara menyatakan dukungannya sebagai bagian dari upaya bersama mewujudkan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya.

Respons Positif Warga

Seperti diketahui, sebanyak 100 KK akan direlokasi ke dua Rumah Susun, di Solokan Jeruk dan Rancaekek Kabupaten Bandung. Ada pun warga yang terdampak relokasi menyambut positif upaya pemerintah.

Susanti Sundari (35) warga RT 08 RW 15 yang rumahnya terdampak relokasi misalnya. Ia bersyukur bisa mendapat hunian yang lebih layak di Rancaekek, Kabupaten Bandung.

“Ya Alhamdulillah dapat rumah. Kami juga mendapat bantuan dari pak Menteri,” ujarnya.

Susanti mengaku, sudah 15 tahun tinggal di lahan seluas sekitar 3×5 meter di kolong jembatan Prof. Mochtar Kusumaatmadja (Pasupati). Ia tinggal berempat di lahan kecil tersebut.

“Positif (respons warga). Tentu kami bersyukur,” tuturnya.

Editor

Recent Posts

Kementerian ESDM, Pagu Indikatif 2027 Rp27,335 Triliun

SATUJABAR, JAKARTA - Pembangunan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat menjadi arah utama kebijakan anggaran Kementerian…

2 jam ago

CHOES X GENSi 2026 Lahirkan 15.000 Kreator Muda

SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan…

2 jam ago

Haji 2026: Sebanyak 96.155 Jemaah Sudah di Tanah Air

SATUJABAR, MAKKAH - Haji 2026 masih dalam fase pemulangan jemaah bersamaan dengan operasional penyelenggaraan ibadah…

2 jam ago

Tahun Baru Islam 1 Muharam, Ini Pesan Menteri Agama

SATUJABAR, JAKARTA - Menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar…

2 jam ago

Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Tenggara Palu, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

SATUJABAR, JAKARTA - Gempa bumi berkekuatan cukup besar mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026)…

3 jam ago

Hilang 3 Tahun, Wanita Muda Asal Bandung Ditemukan Luka Parah di Rumah Sakit

SATUJABAR, BANDUNG--Setelah dilaporkan sudah tiga tahun hilang, seorang wanita muda asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat,…

4 jam ago

This website uses cookies.