Berita

Menunggu Rampungnya Observatorium Timau, Tonggak Menuju Riset Antariksa Modern

Observatorium Nasional Timau (OBNAS) di Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu sarana yang saat ini tengah dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas riset antariksa, secara khusus untuk pengembangan ilmu astronomi nasional dan membuka peluang kolaborasi global oleh BRIN. Hal ini dibahas dalam talkshow ini DOFIDA (Dialog, Obrolan Fakta Ilmiah Populer dalam Sains Antariksa) edisi ke-12 dengan topik ”Langit Selatan Indonesia : Peran Observatorium Nasional Timau dalam Riset Antariksa Modern,” dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube BRIN Indonesia, pada Kamis, 12 Desember 2024.

BANDUNG – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Antariksa sedang membangun Observatorium Nasional Timau (OBNAS) di Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Observatorium ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam pengembangan riset antariksa di Indonesia dan membuka peluang kolaborasi global di bidang astronomi.

Observatorium Nasional Timau dibangun di lokasi strategis dekat khatulistiwa. Kondisi iklim yang kering dan tingkat gangguan cahaya yang rendah memungkinkan kualitas pengamatan optimal. Dilengkapi teleskop optik dengan diameter 3,8 meter, yang merupakan teleskop terbesar di Indonesia saat ini.

Selain peralatan optik yang tersedia di Timau, juga tersedia sensor magnetik yang merekam dinamika kemagnetan antariksa yang bisa memberi pemahaman bagaimana kemagnetan antariksa bisa berinteraksi di muka Bumi. Kedepannya diharapkan semakin banyak peralatan yang bisa dipasang guna memberi pemahaman lebih baik pada interaksi Bumi – Antariksa melalui pengamatan di Timau.

Kepala Pusat Riset Antariksa, Emanuel Sungging Mumpuni, menyampaikan bahwa pembangunan observatorium ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas riset antariksa, secara khusus ilmu astronomi nasional dan membuka akses bagi peneliti di Indonesia maupun luar negeri. “Pembangunan observatorium ini selain untuk memperkuat riset di bidang terkait, tetapi juga menjadi mandat nasional dalam menyelenggarakan kegiatan keantariksaan, sesuai amanat Perpres 45/2017,” tuturnya melalui keterangan resmi

Emanuel menambahkan tantangan terbesar adalah masih jauhnya tercapai massa kritis untuk bisa membangun ekosistem riset di bidang keantariksaan yang masih sangat jauh jumlahnya, dibandingkan jumlah masyarakat Indonesia.

“Walaupun peminat bidang antariksa sangat banyak, akan tetapi, tidak semuanya terlibat dalam riset di bidang ini. Perlu penyebarluasan pengetahuan guna memancing generasi muda lebih banyak yang melakukan riset di bidang antariksa, sehingga bisa memperkuat posisi Indonesia pada kancah riset bidang antariksa, dan Timau bisa menjadi platform aktif guna kolaborasi internasional,” jelasnya.

Editor

Recent Posts

Presiden Prabowo Saksikan Panen Tebu Raya di Malang

SATUJABAR, MALANG - Presiden Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung panen raya tebu di Lanud Abdulrachman…

8 jam ago

Gas Masela, 60 Persen untuk Kebutuhan Domestik

SAUMLAKI-KEPULAUAN TANIMBAR – Gas Masela dari Lapangan Abadi Blok Masela dari kawasan Laut Arafura, dipersiapkan…

8 jam ago

Ekspor Kopi Ditopang Sistem Resi Gudang

SATUJABAR, BANDUNG - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) Kementerian Perdagangan menegaskan perannya untuk terus…

8 jam ago

Swasembada Energi, Presiden Percepat Berantas Aktivitas Ilegal

Pemerintah kini mengarahkan fokus pada percepatan swasembada energi, pembangunan ketahanan air, serta penertiban berbagai aktivitas…

8 jam ago

Roemah Koffie Luncurkan Cublak Suweng, Wamen Ekraf Dukung Kopi Berbasis Narasi Budaya

SATUJABAR, JAKARTA - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar mengapresiasi…

9 jam ago

Japan Open 2026: Fajar/Fikri Lolos ke Semifinal

SATUJABAR, JAKARTA – Japan Open 2026 berlangsung 14-19 Juli 2026 di arena Tokyo Metropolitan Gymnasium.…

10 jam ago

This website uses cookies.